Tanya Psikolog: Bagaimana Cara untuk Keluar dari Friend Zone?

friend zone
Foto: www.pexels.com

Zona yang satu ini kemungkinan besar pernah dialami oleh mayoritas penghuni bumi. Namanya: friend zone. Munculnya perasaan-perasaan baper dengan teman yang bisa membuat sakit kepala dan galau. Untuk yang bingung bagaimana menghadapi friend zone, yuk dengarkan penjelasan Kara Andrea Handali, M.Psi., Psikolog, seorang psikolog dari TigaGenerasi dan Pusat Pengembangan Psikologi Jejak Kaki.

Apakah Perempuan dan Laki-laki Bisa Hanya Berteman Tanpa Perasaan Cinta?

Foto: www.pexels.com

“Dari penelitian-penelitian, yang namanya attractiveness atau ketertarikan itu nggak bisa dihindari kalau misalnya dalam pertemanan lawan jenis. Ketika kita menjalin hubungan romantis pun awalnya pasti karena ada ketertarikan. Dan ketika kita menjalin hubungan pertemanan secara umum pun awalnya juga dari ketertarikan. Menurut penelitian, ketertarikan ada karena base dari friendship sendiri itu awalnya ketertarikan. Namun perkara apakah ketertarikan itu kemudian berkembang jadi hubungan yang lebih romantis atau nggak, itu cerita lain lagi,” jelasnya

Menurut Kara, laki-laki dengan perempuan bisa selamanya berteman atau bersahabat tanpa mengembangkan relasi ke dalam hubungan yang lebih lanjut. Karena baik itu perasaan tertarik atau keinginan untuk berkomitmen secara romantis merupakan dua hal yang sangat berbeda.

Bagaimana dengan Friend Zone?

Foto: www.freepik.com

Friend zone ini 'kan adalah satu bentuk dari cinta tak terbalas. Berbeda dengan kondisi dua-duanya berteman, yang bukan cinta tak terbalas yang dari awal sudah ngincer ingin jadi pasangan. Friend zone memang kondisinya dalam hubungan relasi pertemanan tapi tetap cinta tak berbalas, di mana salah satunya ingin menjalin hubungan yang romantis sementara yang satunya lagi ingin berteman atau platonik,” ungkapnya.

Lalu, mengapa kita bisa terjebak dalam friend zone?

Friend zone dapat disebabkan karena adanya mispersepsi atau kondisi di mana salah menangkap arti dari perlakuan dari si teman. Entah itu tindakan yang baik atau sikap tertentu yang diberikan oleh si teman, yang kemudian dipersepsikan sebagai ketertarikan romantis. 

“Misalnya teman kita ini melempar jokes tertentu, kemudian kita tertawa atau menunjukkan gesture kalau kita ingin spare time lebih sama dia. Nah, hal-hal tersebut yang sering kali menjadi salah persepsi sebagai ‘Wah kayaknya orang ini tertarik nih, suka juga sama gue,’. Padahal sebenarnya nggak, sebenarnya temenan saja,” ujarnya.

Baca Juga :  Apakah Mendengarkan Musik Klasik akan Memengaruhi Tumbuh Kembang Anak?

Berdasarkan beberapa penelitian, risiko lebih tinggi untuk mengalami friend zone yakni terdapat pada laki-laki. Sementara perempuan, lebih banyak menjadi sosok yang telah mem-friend zone-kan atau si rejector, alias orang yang hanya ingin berteman tanpa perasaan romantis.

Bagaimana Jika Kita Suka Teman?

Foto: www.rawpixel.com

Ketika menyadari adanya perasaan terhadap teman, hal ini tentunya akan berdampak pada hubungan pertemanan yang sedang dijalani. Baik akan berdampak pada kedua pihak atau hanya salah satu pihak. “Karena misalnya aku yang di-friend zone, pasti akan berdampak ke aku, karena aku yang mengharap lebih. Dan dalam relasinya sendiri juga pasti akan berdampak ke aku,” katanya.

Sementara apakah akan berdampak pada si teman, hal ini bergantung dengan bagaimana seseorang membawakan dirinya di dalam relasi pertemanan tersebut.

Mana yang harus diutamakan: cinta atau pertemanan?

“Ini balik lagi ke masing-masing, seberapa kita menilai pertemanan ini dan mana yang lebih penting buat kita. Pertanyaannya balik lagi ke diri kita. Karena bukan tidak mungkin kalau dari sahabat jadi cinta, sekarang ini juga banyak pasangan yang dari sahabatan kemudian akhirnya malah menikah. Tapi balik lagi, pertanyaannya ke diri kita mana yang lebih penting buat kita dan mana yang lebih siap kita terima,” tuturnya.

Jika belum pernah mengungkapkan perasaan dan ingin mencoba untuk menjalin hubungan, maka perlu menyiapkan diri terhadap risiko yang akan dihadapi. Maka hal ini akan kembali pada bagaimana seseorang menilai relasi dengan sang teman. Atau lebih dalam lagi, kamu dapat merenungkan seberapa nilai (secara kualitatif) orang tersebut terhadap kehidupanmu.

Apakah Kita Bisa Keluar dari Friend Zone?

Foto: www.freepik.com

“Bisa banget. Kalau misalnya kita yang punya perasaan lebih dan kita tahu betul bahwa si teman kita ini tidak memiliki perasaan lebih, kemudian kita ingin keluar dari situ. Maka yang bisa dilakukan adalah membatasi kontak,” jawabnya.

Meski hal ini bukan cara yang mutlak, namun kamu perlu menyadari dan mengakui perasaan yang dimiliki. Karena biasanya yang paling sering membuat kecewa adalah ketika mengetahui bahwa ia tidak memiliki perasaan yang sama. 

Jika setelah mengetahui bahwa dia tidak memiliki perasaan yang sama, kamu ingin membatasi kontak supaya menjadi netral lagi—ini bukan sesuatu yang salah.

Baca Juga :  Ahli Membaca Ekspresi Pasangan? Kemampuan Ini Bisa Membuat Hubungan Langgeng

“Karena bisa jadi sebenarnya yang bikin kita baper itu karena sering mendapatkan perlakuan-perlakuan spesial dari teman tersebut. Nah, kalau misalnya kita terus-menerus melakukan kontak secara intens dengan teman tersebut, yang ada malah nanti nggak hilang-hilang baper-nya,” tambahnya lagi.

Kemudian hal yang bisa kamu lakukan selain membatasi kontak adalah memperluas relasi pertemanan. Karena dengan mengeksplorasi lingkar pertemanan maka akan membuka kita untuk berpikir lebih luas, dan mengetahui bahwa diperlukan baik oleh seseorang tidak berarti dia menyimpan perasaan suka.

Langkah selanjutnya untuk keluar dari friend zone adalah dengan mengomunikasikan atau menceritakan perasaan yang sedang dialami. Meski cara ini merupakan cara yang sangat ekstrem, tapi hal ini dapat kamu coba. Selain untuk membuatmu lega, mengungkapkannya juga dapat menjelaskan bagaimana hubungan relasi pertemanan ini akan berlanjut.

Ngomong juga bahwa kita masih ingin berteman, mungkin ada jeda dulu. Karena kadang-kadang yang membuat si friend zone ini terus-terusan adalah karena udah mispersepsi dan nggak ada komunikasi yang jelas. Jadi si teman kita ini tidak tahu kalau dia itu ternyata mem-friend zone-in kita," ujarnya.

Bagaimana Menghadapi Teman yang Memiliki Perasaan Lebih?

friend zone

Hal pertama yang dilakukan ketika mengetahui temanmu yang memiliki perasaan lebih, maka kamu perlu mencari tahu setiap perlakuan yang diberikan kepadanya. Jika selama ini kamu selalu bersikap 'I'll be there for you', mungkin ini saat yang tepat untuk meninjaunya kembali.

“Ketika memang kita sudah sadar bahwa si teman ini punya rasa lebih padahal kita nggak, kita perlu membatasi perilaku-perilaku yang memungkinkan munculnya perasaan baper pada teman kita itu. Bisa juga dengan mengomunikasikan dengan cara menyelipkan ke dalam obrolan-obrolan kita. Seperti kalimat-kalimat yang menandakan bahwa kita senang sekali ada di dalam relasi pertemanan ini, ‘Gue seneng banget kita tuh berteman dan nggak lebih,’ dan kasih tahu juga alasannya kenapa,” sarannya.

Hal ini untuk memberikan pernyataan langsung kepada sang teman. Karena biasanya ketika terjebak dalam zona ini dan orang tersebut masih berharap, penyebabnya adalah karena tidak adanya kejelasan. Dengan memberikan pernyataan jelas maka akan membantu teman untuk memutuskan kelanjutan hubungan persahabatan tersebut.

Baca Juga :  Apa yang Harus Dilakukan Saat Terlanjur Cinta dengan Seseorang?

Pernyataan tersebut sebaiknya jelas, tanpa unsur ambigu. Hindari mengatakan: "Sekarang sih, nggak ada peraaan apa pun, tapi nggak tahu nantinya." Atau: "Kayaknya gue nggak mungkin deh suka sama lo,e h tapi gue nggak tau sih nanti". Ini kemungkinan akan membuat kedua belah pihak terus berada di friend zone.

Namun menurut Kara, perlu juga untuk menyadari bahwa terkadang seseorang ingin berbicara sebagai bentuk kesopanan saja karena tidak ingin menyakiti hati orang lain. “Jadi being a very rational itu menjadi salah satu kunci untuk keluar dari friend zone,” anjurnya.

Kesimpulan

friend zone

Untuk orang-orang yang sedang terjebak dalam friend zone, Kara menyarankan untuk melakukan beberapa cara seperti mengakui dan mengidentifikasi sebenarnya perasaan apa yang sedang dialami. Apakah perasaan tersebut benar-benar cinta atau bukan. Kemudian perluas relasi pertemanan.

“Cobalah kenalan, bukan menjalin relasi romantis dengan orang lain, tetapi perluas saja pertemanannya. Sehingga kita bisa melihat bahwa ada banyak jenis perilaku, sehingga kita ngga baper ketika diperlakukan seperti itu,” ujarnya.

Jika cukup berani dan merasa cukup terganggu dengan perasaan ini, coba untuk mengomunikasikan dan mencari cara supaya orang tersebut bisa memberikan pernyataan secara jelas. Selain itu, ketika menjalin pertemanan dengan lawan jenis lain, biasakan untuk menjelaskan ekspektasi dari awal. Berikan pernyataan bagaimana kita merasa senang karena menjadi temannya.

Berbicara dan berkomunikasi dengan teman tentang 'pasangan ideal' juga mungkin bisa membantu lebih realistis.

“Sebenarnya hal-hal yang cukup wajar untuk diobrolin dalam pertemanan, entah itu pertemanan sesama jenis atau lawan jenis tentang "Sebenarnya tuh lo suka cowok yang kaya gimana, sih? Suka cewek yang kaya gimana, sih?’. Mungkin bisa sambil bercanda juga. Kemudian ditanyakan, ‘Kalau gue itu termasuk tipe lo bukan?’ atau ‘Ada kemungkinan nggak lo tertarik sama gue?'" sarannya.

Alhasil, ketika hubungan pertemanan belum terlalu dalam, kamu dan temanmu sudah memiliki gambaran untuk saling mengatur bahwa ini hanya akan menjadi sebuah pertemanan yang langgeng.

“Sehingga ketika sudah mau sahabatan kaya apa pun, tetap platonik, tetap sahabatan tanpa ada unsur romantis. Soalnya masing-masing sudah sama-sama tahu apa makna masing-masing terhadap relasi dan terhadap diri mereka secara pribadi,” tambahnya.

Selanjutnya: Perlukah Membuat Mantan Menyesal?