Penasaran: Perlukah Memiliki Panggilan Sayang untuk Pasangan?

panggilan sayang
Foto: www.rawpixel.com

Baby, sweety, honey, ayang mungkin empat sebutan tersebut menjadi kata yang populer untuk digunakan sebagai panggilan sayang terhadap pasangan. Meski begitu, sebagian pasangan lainnya mungkin juga membuat panggilan khusus untuk orang yang dicintainya. Namun sesunggunya, apakah perlu menggunakannya?

Simak penjelasan dari Melisa, M.Psi., Psikolog Founder @betterme.idn dan Associate dari Ibunda.id dan Ruang Tumbuh yang akan membahas terkait pentingnya menggunakan panggilan sayang terhadap pasangan.

Apa Itu Panggilan Sayang?

panggilan sayang
Foto: www.rawpixel.com

Melisa memaparkan bahwa, “sesuai dengan katanya sendiri, panggilan sayang artinya panggilan yang disematkan oleh individu kepada orang terdekat yang disayangi,” ujarnya Melisa.

“Nah untuk perlu atau tidaknya menggunakan panggilan sayang, ini tergantung dan kembali lagi pada kesepakatan bersama antar pasangan. Bukan menjadi sebuah keharusan, tetapi yang paling penting adalah apakah pasangan dan kita sama-sama merasakan kenyamanan atau tidak terhadap panggilan nyaman tersebut,” terangnya.

Apakah Penggunaan Panggilan Sayang akan Berdampak Terhadap Hubungan?

Foto: www.xframe.io

Menurut Melisa, “salah satu penelitian dalam Journal of Social and Personal Relationship pada tahun 1993 dengan mewawancarai dan melibatkan 154 pasangan yang telah menikah, ditemukan adanya korelasi positif antara panggilan sayang dengan kepuasan dalam pernikahan,” paparnya.

“Dari sini kita dapat mengambil sebuah kesimpulan bahwa panggilan sayang dapat memberikan dampak yang positif dalam sebuah hubungan,” lanjutnya.

Mengapa? Karena “dengan adanya panggilan khusus maka pasangan menciptakan dunia privat yang hanya diketahui oleh mereka saja. Sehingga ikatan keintiman di antara pasangan juga meningkat, dan berpengaruh pada kepuasan dalam hubungan,” jelasnya,

Namun dampak positif ini dapat muncul dengan catatan “apabila panggilan sayang ini disepakati bersama, sehingga menimbulkan kenyamanan antara kita dan pasangan. Jadi bukan berat di salah satu pihak saja,” imbuh Melisa.

Bagaimana Cara Menentukan Panggilan Sayang?

Foto: www.pexels.com

Sesungguhnya, terdapat “banyak panggilan sayang yang digunakan oleh pasangan. Dari paling umum seperti ‘baby, darling, sweet heart, sampai dibuat khusus antara masing-masing pasangan,” ungkapnya.

Baca Juga :  Percaya atau Tidak, 2/3 Pasangan Berawal dari Pertemanan!

Lantas, bagaimana cara menentukan panggilan yang tepat? “Tidak ada panduan baku untuk menentukan pemberian panggilan. Pada dasarnya, panggilan ini terbentuk karena kita ingin mengomunikasikan kepada pasangan bahwa mereka merupakan sosok istimewa di mata kita,” ujarnya.

Oleh karena itu, kita perlu mencoba mengenali bahasa cinta dari pasangan. “Bahasa cinta terdiri dari lima bentuk, seperti world of affirmation yang di dalamnya terdapat panggilan sayang, lalu menerima hadiah, quality time, act of service, dan physical touch,” jelasnya.

“Dengan mengenali bahasa cinta pasangan, maka kita lebih mampu mengomunikasikan rasa cinta dan sayang, sesuai dengan bahasa yang digunakan pasangan. Intinya bukan dipermasalahkan panggilan sayangnya apa, tetapi apakah hal ini sesuai dengan bahasa cinta pasangan atau tidak,” imbuhnya.

Lalu, kapan biasanya sebuah hubungan bisa mulai menggunakan panggilan sayang?

“Kembali lagi, tidak ada panduan baku usia hubungan menggunakan panggilan khusus untuk pasangan. Kesepakatan di antara keduanya dalam menggunakan hingga menentukan panggilan sayang merupakan hal yang lebih utama,” jawabnya.

Bagaimana Jika Pasangan Tidak Ingin Menggunakan Panggilan Sayang?

Foto: www.pexels.com

“Oleh karena itu, penting untuk mengenali bahasa cinta pasangan. Ketika kita memiliki bahasa cinta, misalnya word of affirmation dengan menggunakan panggilan sayang, dan pasangan memiliki bahasa cinta yang lain. Maka ketika kita terus memaksa menggunakan bahasa cinta tersebut, tentu bukan timbul dampak yang positif, tetapi justru ketidaknyamanan dari pasangan dalam hubungan ini,” katanya.

Sehingga, penting bagi kita untuk mengedukasi diri bahwa setiap orang memiliki bahasa cintanya masing-masing. “Kenali lebih dalam bahasa cinta dari pasangan tanpa terburu-buru menilai bahwa pasangan yang tidak ingin menggunakan panggilan sayang sama dengan pasangan yang tidak mencintai kita,” sarannya.

Selain itu, “cobalah untuk komunikasikan bahasa cinta di antara kalian sebagai pasangan, sehingga dapat diketahui titik temu dari bahasa cinta bersama,” lanjutnya.

Bagaimana Jika Kita Merasa Ragu Untuk Memberikan Panggilan Sayang?

panggilan sayang
Foto: www.freepik.com

Sebenarnya, panggilan khusus ini akan menciptakan dunia privat antara antara pasangan karena panggilan tersebut dikhususkan. Namun, “mungkin saja ada keraguan yang muncul untuk memberikan panggilan sayang karena makna panggilan khusus tersebut besar untuk diri kita,” katanya.

Baca Juga :  Seberapa Penting Memiliki Visi dan Misi yang Sama dalam Sebuah Hubungan?

“Kita menilai ketika menggunakan panggilan sayang artinya sudah memiliki kepercayaan akan hubungan dan pasangan serta initimasi yang juga terbentuk. Ketika muncul keraguan artinya kedua poin ini mungkin saja belum terpenuhi secara optimal sehingga sulit untuk menggunakan panggilan sayang yang memiliki makna besar untuk diri kita,” imbuhnya.

Untuk itu, keraguan ini membutuhkan sebuah jawaban. Sehingga kita perlu mengetahui terlebih dahulu penyebab keraguan kita dengan pasangan.

“Lakukan komunikasi, buat target yang hendak diraih bersama, eksplor lebih dalam kegiatan bersama dengan pasangan, dan siapkan diri untuk mau mengenal pasangan. Sehingga diharapkan dengan melakukan empat hal tersebut dapat membuat kita menemukan jawaban atas keraguan yang dirasakan dalam hubungan,” ungkap Melisa.

Apakah Tidak Menggunakan Panggilan Sayang Menjadi Tanda Hubungan yang Mulai Renggang?

Foto: www.xframe.io

Sesungguhnya, “tanda dari hubungan yang mulai renggang tidak hanya ditentukan dari memudarkan panggilan sayang, tapi lebih dari itu. Masalahnya terkadang ada saja pasangan yang terpaksa menggunakan panggilan kesayangan dengan pasangannya. Padahal memungkinkan sekali individu yang bersangkutan tidak nyaman dari awal,” ujarnya.

“Tetapi seiring dengan berjalannya waktu, pasangan mulai membuka diri dan nyaman dalam sebuah hubungan. Sehingga mencoba menampilkan diri apa adanya dan mulai menunjukkan dan mengomunikasikan ketidaknyamanannya untuk memanggil dengan panggilan sayang,” lanjut Melisa.

“Nah apakah ini menjadi pertanda hubungannya tidak harmonis atau tidak? Karena sesungguhnya pasangan sudah mulai mencoba mengomunikasikan ketidaknyamannya secara apa adanya, sehingga mulai muncul keterbukaan dalam hubungan,” katanya.

Oleh karena itu, “panggilan sayang tidak bisa menjadi tolak ukur meregangnya hubungan kita dengan pasangan. Tetapi di sini butuh kepekaan lebih mendalam untuk diri kita. Serta mengenali pasangan, apakah mulai muncul perasaan kurang percaya dan kurang keinginan untuk berkomitmen dan membangun hubungan ke arah yang lebih baik bersamanya,” terang Melisa.

Selain itu kita juga bisa menilai “apakah merasa lebih mampu berkembang secara mandiri tanpa pasangan? Dari sini mungkin dapat menjadi pengingat dalam hubungan, perlu ada perbaikan yang harus dilakukan antara kita dengan pasangan. Karena hubungan yang menjalani adalah dua individu,” lanjutnya.

Baca Juga :  Baru Mengalami Putus Cinta? Ini 3 Cara Agar Bisa Move On

Bagaimana Mengetahui Bahwa Kita Telah Menjalani Hubungan yang Harmonis?

panggilan sayang
Foto: www.freepik.com

Untuk mengetahui bahwa kita telah menjalani hubungan yang harmonis, hal ini dapat diketahui dengan kita merasa percaya dan terbuka terhadap pasangan. “Sehingga muncul kesediaan untuk berkomitmen dan menjadikan hubungan yang sedang dijalani bertumbuh,” paparnya.

“Bukan hanya hubungannya yang bertumbuh, tetapi individu di dalamnya yaitu kita dan pasangan juga bertumbuh menjadi individu yang lebih baik,” lanjut Melisa.

Lantas, adakah cara untuk menjaga keharmonisan hubungan?

Melisa menuturkan bahwa terdapat beberapa poin untuk menjaga keharmonisan dalam hubungan yaitu:

  • Buat pembicaraan mengenai harapan yang hendak diraih, baik secara individual maupun pasangan dalam hubungan
  • Gali lebih dalam makna kepercayaan dan komitmen, dan yang terpenting bagaimana cara untuk meningkatkan kedua komponen tersebut antara kita dengan pasangan
  • Cari ragam kegiatan bersama yang menyenangkan, ingat menyenangkannya untuk kedua belah pihak
  • Buat kebiasaan yang dapat membangun koneksi di antara keduanya, misalnya setiap enam bulan atau satu tahun sekali melakukan proses evaluasi terkait hubungan yang sudah dijalani dari masing-masing sudut pandang

“Memungkinkan sekali ketika dalam hubungan kita akan mengalami konflik dengan pasangan. Ketika ada konflik, di sini kita juga belajar untuk mengenal bukan hanya diri kita tetapi juga pasangan,” ujarnya.

Melisa menambahkan bahwa “temukan pola manajemen konflik yang tepat dan efektif untuk kalian sebagai pasangan. Sehingga konflik dapat dimaknai sebagai bagian kita dan pasangan untuk saling mendalami karakter dan kepribadian masing-masing,” lanjutnya.

Kesimpulan

Foto: www.rawpixel.com

Menurut Melisa, “panggilan sayang bukanlah satu-satunya tolak ukur keharmonisan dalam hubungan. Jadi, jangan buat hal tersebut sebagai patokan mutlak keharmonisan dalam hubungan bersama pasangan,” katanya.

“Lebih dari itu, hubungan itu perlu diberi pupuk kepercayaan, komitmen, dan keintiman antara kita dengan pasangan yang dapat difasilitasi dengan komunikasi serta kesediaan kita untuk mau belajar mengenali diri sendiri dan pasangan sepanjang hubungan ini terjalin. Sehingga akhirnya mampu menumbuhkan pohon keharmonisan dalam hubungan,” tutupnya.