Bagaimana Memberikan Dukungan kepada Teman yang Menderita Kanker

cara mendukung teman yang menderita kanker
Foto: www.gettyimages.com

Sulit mencari tandingannya ketika mendengar kabar bahwa orang terdekat atau teman dekatmu didiagnosa memiliki kanker. Akan tetapi, “jangan biarkan ketakutan dan kebimbangan membuatmu menjauhi mereka,” tulis Suleika Jaouad, seorang jurnalis yang divonis menderita leukimia pada usia 22 tahun dan memiliki kesempatan hidup hanya 35 persen. Selama empat tahun Jaouad menjalani kemoterapi, percobaan kilinis dan transplantasi sumsum belakang. Sekarang berusia 31 tahun dan dinyatakan bebas dari kanker, dirinya menyatakan bahwa bagi penderita dan keluarganya, kanker bukanlah sesuatu yang dengan mudah di-move-on- kan begitu saja. “Bekas fisik dan emosional penyakit ini akan tetap ada bahkan setelah mereka bebas, dan temanmu akan sangat menghargai pengertianmu sampai kapan pun,” tulisnya di Ted. Bagaimana cara menunjukkan dukungan kepada teman yang menderita kanker? Berikut beberapa saran praktis dari penulis dan aktivis ini.

Ambil waktu untuk menganalisa perasaanmu sendiri

Oleh karena hidupmu juga berubah, “ini adalah waktu yang tepat untuk mencari dukungan dari teman-temanmu yang lain dan mencari tahu bagaimana beradaptasi dengan fase baru ini.” Dengan begini, kamu tidak perlu menyusahkan teman yang menderita kanker.

Berikan kebebasan kepada temanmu untuk menunjukkan kesedihan dan ketakutannya

Boleh saja mengatakan, ‘segalanya akan baik-baik saja’, tapi “jangan sampai mengecilkan kekhawatiran mereka,” Jaouad menyarankan. “Temanmu membutuhkan waktu untuk memproses reaksinya sendiri.”

Katakan sesuatu

Bahkan ketika kamu jujur dengan mengatakan, ‘aku nggak tahu harus bilang apa,’—it’s ok. Lalu ikuti kalimat tersebut dengan, ‘aku sayang kamu’ atau ‘aku ada di sini jika kamu ingin mengobrol.’ “Hanya keberadaanmu saja sudah cukup,” kata Jaouad.

Cari tahu tentang kondisinya, tapi jangan memberikan saran medis tanpa diminta atau membanding-bandingkan kondisinya dengan orang lain

Tanya keluarganya atau orang lain yang mengetahui kondisinya. Menurut Jaouad, mengulang informasi medis yang sama berkali-kali, sangat melelahkan secara fisik dan mental. Oh, satu lagi, Jaouad menekankan: sangat tidak membantu membanding-bandingkan diagnosa temanmu dengan orang lain.”Tidak ada kanker yang sama,” katanya. Lalu, “hindari menceritakan kisah dengan akhir yang tidka bahagia—cerita ini tidak membantu.”

Kunjungi dan ceritakan hal-hal lucu saat berada bersama mereka

Jangan takut menceritakan hal-hal lain, terutama subjek yang selalu bisa membuatnya tertawa. “Intinya adalah menghindari rasa kasihan dan memperlakukan mereka senormal mungkin, seperti saat mereka belum didiagnosa,” jelas Jaouad. Ohya, sebelum berkunjung, coba hubungi dia dulu dan cari tahu kapan waktu yang tepat. Kecuali dia yang membatalkan, saat kamu berjanji akan mengunjunginya—tepati janjimu itu. Dan seandainya kamu belum bisa menjenguknya, tetap kirim pesan atau WhatsApp. Jangan lupa katakan, bahwa mereka tidak perlu membalas pesanmu tersebut.

Hindari bertanya, “apa yang bisa kubantu?”

Alih-alih mengajukan pertanyaan ini, tawarkan sesuatu yang konkret dan praktikal yang membantu mereka. Sebut saja, menemani ke rumah sakit, membawakan makanan, membantu melakukan pengerjaan rumah, dll.

Jangan lupakan pendamping mereka yang selalu merawat selama ini

Ini bisa berupa pasangan mereka atau anggota keluarga lain. Jika memungkinkan, ambil alih tugas mereka untuk menemani dan merawat teman yang menderita kanker. Lalu berikan pendamping ini waktu untuk beristirahat atau rileks.

Tetap memberkan perhatian bahkan ketika proses pengobatan selesai

Bagi pasien, saat pengobatan selesai bukan berarti semuanya selesai. Malah bisa menjadi periode yang paling menantang, kata Jaouad. “Tidak peduli jika temanmu terlihat baik-baik saja, jangan berasumsi kalau waktu sulitnya sudah berlalu.”

Berikutnya, ini alasan mengapa kamu membutuhkan teman-teman positif dalam hidupmu.