Bagaimana Cara Keluar dari Zona Nyaman?

zona nyaman
Foto: www.gettyimages.com

Mungkin saat ini, beberapa orang berada dalam kondisi stabil dan tidak merasakan kecemasan, baik dalam kehidupan, pekerjaan, atau relasi. Hal itu ternyata disebut dengan istilah zona nyaman. Zona ini terkadang membuat orang merasa nyaman dan khawatir ketika melakukan sebuah perubahan. Lantas apakah hidup kita akan berkembang jika tetap berada dalam zona nyaman?

Untuk menemukan jawaban terkait pertanyaan tersebut, simak penjelasan dari Fenny Junita, M.Psi, Psikolog, Psikolog Klinis dari Halodoc, yang akan membahas cara menemukan zona nyaman dan menyikapi perubahan tersebut.

Apa Itu Zona Nyaman?

zona nyaman
Foto: www.freepik.com

Fenny menuturkan bahwa “menurut Bardwick Judith dari Alasdair White (2009) mendefinisikan bahwa zona nyaman itu adalah di mana kondisi seseorang berada dalam situasi netral tanpa kecemasan. Hanya memerlukan sedikit dari kemampuannya untuk bisa mencapai tingkat kinerja yang stabil. Biasanya dalam kondisi ini hampir tidak ada risiko,” paparnya.

Jadi bisa dibilang dengan usaha yang minim, seseorang sudah bisa mencapai kinerja yang ia mau. Serta tidak ada kecemasan, risiko, dan akan sangat stabil. “Berdasarkan definisi tersebut, maka kita bisa mengetahui apakah hal yang dilakukan termasuk ke dalam zona nyaman kita atau bukan,” lanjutnya.

Dalam aspek yang sedang kita coba identifikasi ini, maka bisa dilihat apakah aspek tersebut berada dalam kondisi netral tanpa kecemasan, tidak terasa stres sama sekali, dan hanya membutuhkan sedikit effort, dan sudah bisa diprediksi hasilnya. “Jadi tinggal kita lihat, dari 3 kriteria itu asalah satu aspek dari hidup kita seperti itu atau tidak?” tanyanya,

“Tiga kondisi ini terkadang bisa direfleksikan dalam aspek kehidupan kita, yang mungkin dalam area-area tersebut kita merasa bahwa sudah senang dengan kondisi tersebut. Sudah merasa puas, dan kita merasa kalau seandainya ada perubahan, maka hal itu akan membuat kita merasa takut dan cemas. Bisa jadi itu adalah kondisi zona nyaman yang kita miliki,” jelasnya.

Apakah Benar Kita Harus Keluar dari Zona Nyaman Agar Dapat Berkembang?

Foto: www.xframe.io

“Menurut Alasdair White, dalam kondisi zona nyaman ini bisa dibilang nggak ada kesempatan untuk bisa muncul rasa cemas atau stres. Bahkan, kita tidak perlu mengeluarkan banyak kemampuan dan keterampilan. Namun, hasil kinerja yang dihasilkan pun akan tetap sama dan konstan,” tutur Psikolog Klinis yang satu ini.

Untuk itu, Fenny menambahkan bahwa ketika tidak ada kesempatan untuk adanya cemas dan stres, maka “berarti juga tidak ada kesempatan untuk terjadi perubahan dari hasilnya. Namun ketika muncul rasa stres dan cemas, serta effort yang digunakan jauh lebih banyak, maka akan membuka probabilitas kemungkinannya menjadi lebih besar untuk terjadinya perubahan pada tingkat kinerja kita,” paparnya.

Akan tetapi, perubahan ini tentu mengandung risiko bisa naik maupun turun. Makannya “betul-betul kondisi yang kita inginkan untuk berkembang memang diperlukan adanya ruang untuk rasa cemas, stres, menggunakan keterampilan, dan lebih berusaha,” ujarnya.

“Kalau kita tetap melakukan semuanya dengan cara yang sama dengan kondisi yang telah terprediksi, sudah biasa kita lakukan, dan tidak butuh banyak lagi kemampuan yang harus kita gunakan karena sudah terbiasa. Istilahnya sambil merem saja bisa, nah makannya hasilnya juga akan sama, nggak bisa expect hasilnya akan berbeda,” ungkap Fenny.

Mengapa Perasaan Kecemasan Dapat Memengaruhi Kehidupan Kita?

zona nyaman
Foto: www.unsplash.com

Menurut Fenny, Yerker dan Dodson telah melakukan penelitian bahwa kecemasan atau stres pada tingkat tertentu “sebetulnya dapat membantu meningkatkan performa kita menjadi lebih optimal. Tetapi pada tingkat tertentu ya!” ingatnya.

Jika tingkat kecemasan terlalu tinggi, maka “hal tersebut malah menjadi kontra produktif, membuat performa kita menjadi lebih menurun. Jadi intinya, penelitian ini berkesimpulan bahwa kecemasan atau stres meningkatkan kinerja asalkan tidak berlebihan,” ungkap Fenny.

Namun baik tingkat kecemasan yang sedang mau tinggi, “itu sebetulnya merupakan kondisi seseorang yang menandakan bahwa ia sedang keluar dari zona nyaman. Karena, kalau lagi ada di zona nyaman itu tidak ada stres sama sekali,” tegasnya.

Zona nyaman sebetulnya dikelilingi oleh zona tidak nyaman dan zona risiko. Tetapi pada dasarnya, dua zona ini tujuannya untuk mendorong kita agar mencapai kinerja yang optimal. “Sehingga kemampuan kita akan berkembang. Meski muncul rasa cemas dan stres, tapi memberikan kita kesempatan untuk bisa memeroleh hasil yang lebih baik. Tentunya untuk bisa meningkatkan performa kita,” imbuhnya.

Ketika masuk ke dalam zona ketidaknyamanan dan risiko, mungkin kinerja kita akan terlihat lebih lambat karena adanya tantangan baru. “Namun kalau kita berhasil melaluinya dengan baik, maka lambat-laun kita akan kembali mengalami kondisi yang stabil. Namun dalam level yang lebih baik dan lebih tinggi dari sebelumnya,” tutur Psikolog Klinis yang satu ini.

Kapan Waktu yang Tepat Keluar dari Zona Nyaman?

Foto: www.freepik.com

Jika seseorang telah terbiasa dengan kondisi tersebut, dan mengalami kondisi netral tanpa kecemasan dan kinerja yang dilakukan tidak terlalu besar. “Mulai merasa kembali di titik itu, yang tadinya struggle banget, sekarang udah nggak ada tantangannya sama sekali, mungkin ini sudah waktunya keluar dari zona nyaman,” jawabnya.

Akan tetapi, jika ingin beristirahat terlebih dahulu tentu hal ini boleh dilakukan. “Tetapi kalau sudah mau move lagi to the next level, silakan. Karena kita sudah mulai beradaptasi kembali, kondisi itu sudah mulai kita kuasai. Tadinya mungkin kita ada di tangga pertama, sekarang kita sudah menguasai tangga kedua,” ujarnya.

Ketika berada di tangga kedua dan sudah terbiasa, “mungkin ini sudah saatnya kita keluar dari zona nyaman dan naik lagi ke tingkatan selanjutnya, yakni tangga ketiga,” terangnya.

Bagaimana Cara Keluar dari Zona Nyaman?

zona nyaman
Foto: www.freepik.com

“Kalau kita sudah mengetahui aspek mana yang ingin ditingkatkan, maka tinggal melakukan evaluasi pada aspek tersebut. Namun jika kita belum mengetahuinya, maka kita bisa mengevaluasi terlebih dahulu dari aspek-aspek hidup kita. Mungkin pekerjaan, studi, atau relasi, apakah dalam aspek-aspek tersebut ada aspek yang sedang ada dalam zona nyaman,” ujarnya.

Ketika kita telah menemukan aspek yang ingin ditingkatkan, maka kia bisa mencoba melakukan sesuatu yang berbeda dalam aspek tersebut. “Bisa dilakukan dengan hal yang sama namun dengan cara yang berbeda, atau menambahkan sesuatu yang berbeda dari sebelumnya yang belum pernah dilakukan,” sarannya.

“Kita bisa cari ilmu, pengetahuan, atau panduan tentang apa yang ingin kita lakukan agar hasilnya lebih efektif atau lebih baik. Tetapi jangan lupa untuk mengukur risiko dan bagaimana dampaknya dari perubahan tersebut. Usahakan untuk melakukan sesuatu yang memang risikonya masih sanggup dan berada dalam toleransi kita,” kata Fenny.

Karena, jika risiko lebih tinggi, maka bisa jadi akan menimbulkan kecemasan atau stres yang tinggi. Sehingga kinerja yang dihasilkan pun akan menurun. “Kemudian, hal-hal baru tadi ketika diterapkan maka cobalah untuk beradaptasi dan bisa diterapkan sebagaimana adanya pengetahuan atau ilmu yang sudah dimiliki,” tuturnya.

Apakah Keluar dari Zona Nyaman Akan Memengaruhi Kehidupan Kita?

Foto: www.freepik.com

Menurut Fenny, hal ini tentu akan memengaruhi, baik dalam arti positif atau negatif. Seperti yang telah diketahui, zona nyaman itu di luarnya terdapat zona ketidaknyamanan dan zona risiko, yang akan memunculkan rasa kecemasan atau stres.

“Maka diperlukan adanya kemampuan untuk mengelola stres, supaya stres masih berada dalam taraf terbatas dan tidak terlalu besar. Serta masih berada dalam taraf yang bisa ditoleransi dengan baik. Stres atau kecemasan yang terlalu besar maka akan jadi kontra-produktif,” jelasnya.

“Namun jika stres atau kecemasan masih sanggup ditoleransi, maka akan membantu menaikkan performa dan potensi kita menjadi lebih berkembang,” tambah Fenny.

Fenny menuturkan bahwa Carnal dalam White (2009) menyampaian bahwa ketika seseorang keluar dari zona nyaman, maka akan menghadapi perubahan. “Perubahan ini jika dihadapi dan disikapi dengan baik, hal itu dapat memberikan dampak yang cukup besar dalam kepercayaan diri kita. Sehingga dapat memberikan dampak atau efek positif pada performa atau perkembangan kita,” imbuhnya.

Lantas, bagaimana cara menyikapi perubahan tersebut?

Tentunya, hal tersebut dapat kita lakukan “dengan meningkatkan keterampilan terkait manajemen risiko dan stres, dan menjaga kondisi stresnya agar tetap dalam kondisi yang bisa ditanggung. Pada saat akan mengimplementasikannya, maka harus kita kuasai terlebih dahulu dengan mencari ilmu pengetahuan agar perubahan yang dilakukan dapat memberikan hasil atau efek yang positif,” jawabnya.

Kesimpulan

zona nyaman
Foto: www.rawpixel.com

Untukmu yang ingin keluar dari zona nyaman, Fenny memberikan pesan bahwa “jangan takut gagal dan jangan takut untuk mencoba. Yang penting kita ingin menjadi orang yang lebih baik dan ingin berkembang. Jangan lupa untuk mengukur risikonya,” sarannya.

“Lengkapi diri dengan kemampuan pengelolaan diri dan pengelolan stres, sehingga kita mampu melakukan improvement yang dapat berdampak positif bagi perkembangan diri. Intinya, penting untuk berusaha, mau mencoba, dan jangan pernah takut gagal,” anjur Fenny.

Karena, jika tidak ada risiko maka berarti tidak ada ruang untuk perubahan dan perkembangan. “Sehingga hasil yang akan dicapai akan sama saja,” tutupnya.