Demi Cinta, Perlukah Berkorban Dengan Cara Yang Ekstrem? Ini Pendapat Psikolog

demi cinta
Foto: www.pexels.com

Hingga saat ini, istilah bucin alias budak cinta memang masih banyak diperbincangkan. Fenomena ini ditandai dengan seseorang yang rela berkorban demi cinta.

Tujuan mereka berkorban demi cinta adalah untuk membuat pasangannya bahagia, meski dalam cara yang berlebihan. Namun, bagaimana dengan pasangan yang sudah menikah, apakah fenomena bucin ini masih berlaku?

Berikut penjelasan dari Qurrota Ayuni Fitriana, S.Psi, M.Psi, Psikolog, seorang Psikolog Klinis dari Biro Psikologi Empathy Surabaya, terkait cara agar tidak menjadi budak cinta yang berlebihan.

Apa Arti Cinta?

demi cinta
Foto: www.unsplash.com

Sesungguhnya, cinta adalah suatu emosi yang dirasakan oleh individu. Perasaan ini terdiri dari tiga komponen penting, yaitu intimasi, gairah, dan komitmen.

“Intimasi merupakan perasaan kedekatan, keterkaitan, dan keterikatan dalam sebuah hubungan. Sementara gairah adalah dorongan yang berujung pada romantika, ketertarikan fisik, hubungan seksual, dan fenomena lain yang terkait dengan hal tersebut dalam hubungan percintaan,” katanya.

Sedangkan komitmen adalah keputusan jangka pendek individu mencintai seseorang, dan keputusan jangka panjang individu sanggup untuk menjaga cinta tersebut.

“Jadi, intimasi merupakan komponen emosi dari cinta, gairah merupakan komponen motivasi, dan komitmen merupakan komponen kognitif dari cinta,” terangnya.

Perlukah Kita Berkorban Demi Cinta?

demi cinta
Foto: www.freepik.com

Menurut Qurrota, seseorang perlu untuk melakukan sesuatu yang sifatnya timbal balik dalam hubungan cinta. Salah satunya dimaknai dalam bentuk pengorbanan.

“Ada faktor yang mendorong seseorang dalam melakukan pengorbanan di sebuah hubungan. Yaitu karena adanya komitmen yang dibangun dan keinginan adanya timbal balik pengorbanan yang dilakukan oleh pasangan,” ungkapnya.

Ketika seseorang melakukan suatu pengorbanan, biasanya hal ini disertai dengan harapan besar bahwa apa yang dilakukannya akan mendapatkan sikap yang sama dengan apa yang ditampilkan pasangan.

“Jika hal ini terjadi maka muncul rasa kepuasan dalam suatu komitmen, yang membuat seseorang merasa aman karena adanya jaminan bahwa perilaku yang dilakukannya mendapatkan timbal balik dari pasangan,” tuturnya.

Apakah Berkorban Demi Cinta Menjadi Tanda Bahwa Hubungan Tersebut Tidak Sehat?

Foto: www.canva.com

“Sebenarnya di dalam cinta pasti membutuhkan pengorbanan. Sebab hubungan ini tidak dijalani oleh satu orang saja,” kata Qurrota.

Namun di dalam prosesnya, akan ada penyesuaian antara dua orang yang berasal dari latar belakang berbeda dan kepribadian yang berbeda. Sehingga terdapat usaha ekstra yang perlu dilakukan untuk pasangan ini agar bisa saling memahami.

Akan tetapi, pengorbanan ini tidak bisa ditelan mentah-mentah. “Jadi perlu ditelaah kembali, apakah satu pihak yang sudah melakukan pengorbanan ini telah mendapatkan sikap yang sama dari pasangannya?” ungkapnya.

“Jika ternyata satu pihak merasa bahwa pengorbanannya terlalu banyak dan membuatnya menjadi terganggu, tidak nyaman, dan tidak membuat hubungan menjadi lebih baik dalam jangka waktu tertentu, maka bisa jadi pengorbanan yang dilakukan tidak berdampak positif. Sehingga membuat hubungan menjadi kurang sehat,” lanjutnya.

Mengapa Seseorang Rela Berkorban Demi Cinta?

Foto: www.xframe.io

Biasanya seseorang yang rela untuk melakukan pengorbanan demi cinta, ini disebabkan karena adanya keinginan untuk menjadi pasangan yang baik.

“Selain itu ia juga ingin mengarahkan hubungan menjadi lebih positif dan meningkatkan rasa cinta pasangan terhadap dirinya. Hal ini bisa dilakukan sejak seseorang melakukan pendekatan dalam hubungan, dan terus berlanjut hingga hubungan ini dijalankan secara bersama-sama,” tuturnya.

Lantas, ketika seseorang berkorban demi cinta, apakah akan berdampak pada kehidupannya?

“Dalam suatu pengorbanan, pasti akan ada dampak bagi kehidupan seseorang. Namun dampaknya bisa kecil hingga besar akan tergantung pada pengorbanan tersebut dinilai dan dimaknai seperti apa oleh pasangan yang menjalaninya,” jawab Psikolog Klinis yang satu ini.

Bagaimana Menandai Pengorbanan yang Dilakukan Masih dalam Batas yang Wajar?

demi cinta
Foto: www.canva.com

Qurrota menjelaskan bahwa pengorbanan dalam cinta yang dianggap masih dalam batas wajar ini sebenarnya cukup subjektif.

“Bisa jadi antara satu pasangan dengan pasangan lain akan berbeda. Namun biasanya dalam pernikahan, pengorbanan ini bobotnya lebih banyak dilakukan dibandingkan dengan masa pacaran,” ucapnya.

Baca Juga :  Ternyata Mencintai Diri Sendiri Bisa Dilakukan Dengan Mudah, Ini Cara Yang Disarankan Psikolog

Tetapi yang perlu dicatat adalah pengorbanan ini dilakukan dengan memahami batasan diri. “Artinya tidak memaksakan hal-hal yang sebenarnya bisa menyakiti dirinya sendiri demi membahagiakan pasangan,” pesannya.

“Perlu diingat bahwa sebelum seseorang bisa membahagiakan orang lain, ia harus mengutamakan dirinya sendiri. Hal ini bisa dilakukan dengan membuat dirinya bahagia terlebih dahulu, baru bisa menyelamatkan orang lain,” lanjutnya.

“Analoginya seperti orang yang berada dalam kondisi darurat ketika berada di pesawat terbang. Di mana diharuskan memasang oksigen terlebih dahulu ke dirinya sendiri, baru kemudian menyelamatkan orang yang ada di sekitarnya,” terang Psikolog Klinis yang satu ini.

Apa Tanda Seseorang Telah Menjadi Budak Cinta?

demi cinta
Foto: www.freepik.com

Menurut Qurrota, istilah budak cinta atau bucin ini sangat menarik karena menjadi populer setelah banyaknya influencer yang rela melakukan hal-hal yang dirasa “berlebihan” demi menyenangkan pasangannya.

“Hal ini akhirnya ditiru oleh mereka yang juga merasa harus melakukan hal-hal yang berbeda demi membahagiakan pasangannya,” ujarnya.

Berikut tanda-tanda seseorang telah menjadi bucin:

Ada pihak yang dominan

Salah satu pihak akan lebih dominan dibandingkan pasangannya. Dominan ini artinya adalah hal-hal yang diinginkan oleh pihak A, maka pasangannya harus rela melakukannya demi dirinya.

Lebih memprioritaskan pasangan dibanding dirinya sendiri

Kebanyakan seseorang yang bucin akan lebih memprioritaskan pasangannya dibanding dirinya sendiri. “Prinsipnya yang penting pasangan merasa senang walaupun harus melakukan sesuatu yang di luar kebiasaan atau kemampuannya,” ungkap Qurrota.

Seperti misalnya membelikan sesuatu yang harganya mahal, padahal sebenarnya hal ini di luar kemampuannya. Tak hanya sekali, terkadang ini dilakukan dalam beberapa kali.

Fokus pada pasangan

Kemudian tanda selanjutnya adalah ia selalu fokus pada pasangannya, sehingga kurang memerhatikan kesejahteraan diri sendiri.

“Meski sebenarnya ia sedang dalam masa kesulitan, ia akan berupaya untuk selalu menomorsatukan pasangannya. Tidak berani untuk menolak dan bahkan selalu merasa bersalah jika pasangannya tidak bahagia, meski alasannya bukan disebabkan oleh dirinya,” tutur Psikolog Klinis yang satu ini.

Bagaimana Cara agar Tidak Menjadi Bucin Meski Sudah Menikah?

Foto: www.freepik.com

Dalam pernikahan, pasangan perlu melakukan kesepakatan dalam melakukan peran-peran rumah tangga. Meski idealnya seperti itu, namun yang terjadi biasanya tidak selalu seperti itu.

Jadi cara agar kita tidak menjadi budak cinta meski sudah menikah adalah dengan melakukan beberapa hal berikut:

Keseimbangan dalam hubungan

Dalam sebuah hubungan, perlu adanya keseimbangan. “Selain melakukan hal-hal bersama, kita juga perlu untuk mengutamakan diri sendiri terlebih dahulu,” katanya.

“Lakukanlah hal-hal yang membuat diri menjadi bahagia, seperti hobi atau kegiatan yang disenangi. Sehingga diri sendiri nantinya punya waktu untuk ‘recharge’ sebelum melakukan kegiatan bersama dengan pasangan,” anjurnya.

Jujur pada diri sendiri

Disarankan untuk jujur terhadap diri sendiri. “Jika sedang merasa lelah dan butuh istirahat, maka terima hal tersebut dan luangkan waktu untuk mengambil jeda,” saran Qurrota.

Komunikasikan

Meski rasanya terlalu mudah untuk mengatakannya, namun kenyataannya sangat sulit untuk melakukannya. Apalagi jika salah satu pasangan lebih dominan dan pihak satunya sangat takut.

“Namun hal ini bisa dilatih secara perlahan-lahan untuk saling memahami kebutuhan masing-masing. Sehingga akan muncul rasa nyaman dalam hubungan,” tuturnya.

Jangan sampai karena takut terhadap respons pasangan, kita jadi memendam perasaan dan tidak terbuka terhadap perasaan yang dialami.

“Jika memang rasanya tingkat bucin ini mengganggu dan mendapat respons negatif dari orang sekitar, tidak ada salahnya mencari pihak ‘ketiga’ yang sifatnya objektif. Seperti psikolog atau konselor pernikahan,” sarannya.

Karena terkadang diri sendiri merasa tidak ada yang salah, namun orang lain melihatnya dari sisi yang berbeda. Sehingga bisa diambil penilaian yang lebih netral dan bisa memberikan saran yang konstruktif.

Bagaimana Jika Dikhianati Pasangan Meski Telah Banyak Berkorban Demi Cinta?

demi cinta
Foto: www.unsplash.com

Ketika pada akhirnya kita dikhianati oleh pasangan meski telah berkorban demi cinta, ini pasti akan terasa berat. Karena rasanya seseorang telah melakukan banyak hal tetapi pasangan tidak membalasnya dengan sikap yang serupa.

Berikut beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengatasinya:

Beri jeda terhadap diri sendiri

Yang pertama, kamu bisa memberi jeda terhadap diri sendiri. Karena fase awal ini adalah fase yang sangat mengejutkan, di mana pasangan yang dicintai justru malah mengkhianati.

“Ini sebuah kenyataan yang pahit, namun ia perlu menyadari bahwa terdapat rasa kecewa, marah, sedih, dan emosi lain yang muncul akibat situasi ini. Sehingga wajar dan normal untuk mengalami perasaan-perasaan tersebut,” katanya.

Baca Juga :  Ini Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Memberlakukan Time-Out, Kata Psikolog

Tidak menyalahkan diri sendiri

Meski biasanya orang yang melakukan pengorbanan ini rasanya telah melakukan segalanya, tetapi wajar jika muncul rasa bersalah di mana seseorang merasa bahwa ada kekurangan di dalam dirinya.

“Baik itu berkaitan dengan fisik atau dengan perilaku yang dilakukan ke pasangannya. Cobalah untuk melihat situasinya dengan lebih objektif, sehingga tidak fokus untuk menyalahkan diri sendiri yang merasa kurang maksimal dalam mengusahakan sesuatu,” saran Qurrota.

Menyadari bahwa ini di luar kendali kita

Psikolog Klinis ini berpesan bahwa ingatlah ketika kita sudah mengusahakan segala hal dengan semaksimal mungkin, tetapi terkadang hal-hal di luar diri tidak bisa diprediksikan akan memberikan hasil yang baik.

“Jadi perlu untuk menyadari bahwa ketika seseorang dikhianati meski telah melakukan pengorbanan sebesar apa pun, jika memang pasangannya tidak memiliki niatan dan sikap yang sama—hal itu terkadang di luar kendali seseorang yang sudah mengusahakan,” tuturnya.

Komunikasi

Cobalah untuk meluruskan bahwa situasi sesuai dengan persepsi. Meski memang sulit untuk menyamakan persepsi di situasi yang tidak menyenangkan seperti pengkhianatan tersebut, namun hal ini bisa dilakukan berkali-kali dan mungkin membutuhkan waktu yang agak lama.

Memaafkan

Terakhir, cobalah untuk memaafkan. “Meski tidak mudah, tapi situasi pengkhianatan bisa disikapi dengan berbeda-beda antara satu pasangan dengan pasangan lain,” katanya.

Ada pasangan yang memaafkan dan berbaikan kembali, tetapi ada juga yang memilih memaafkan kemudian berpisah. Hal ini perlu disesuaikan dengan kesepakatan dari masing-masing pasangan.

Bagaimana Jika Pasangan yang Selalu Berkorban Demi Cinta Tanpa Kita Minta?

Foto: www.canva.com

Ketika pasangan melakukan pengorbanan untuk diri kita, selama hal ini masih berada dalam kemampuan orang tersebut dan ada komunikasi baik di dalamnya, hal ini bisa diartikan baik.

“Kenapa? Karena dengan pengorbanan yang dilakukan, selama itu berdampak positif terhadap hubungan, maka akan bisa meningkatkan kualitas komitmen,” ujarnya.

Namun yang menjadi red flags adalah ketika seseorang merasa bahwa pengorbanan yang dilakukan itu tidak sesuai dengan keinginannya dan dirasa berlebihan, maka perlu dikomunikasikan.

“Misalnya pengorbanan sudah sampai membelikan barang-barang mahal yang sebenarnya tidak dibutuhkan dan diinginkan oleh pasangannya, hingga pasangannya ini sampai berhutang. Ini perlu segera dikomunikasikan agar keinginan masing-masing bisa tersampaikan,” ungkapnya.

Bagaimana Membangun Hubungan Pernikahan yang Romantis?

Foto: www.pexels.com

Pada dasarnya, hubungan romantis dalam pernikahan terjalin karena adanya tiga dimensi yang terdiri dari intimasi, gairah, dan komitmen.

“Jika tiga dimensi ini bisa terpenuhi, maka pernikahan yang romantis bisa terwujud. Bagaimana wajib nyatanya? Seperti kata nasihat klasik yang benar adanya, yakni perlu ada komunikasi yang sehat,” papar Qurrota.

Di mana satu sama lain bisa saling membicarakan kebutuhan, keinginan, perasaan, dan pikiran kepada pasangannya. “Karena dalam relasi, sedekat apa pun itu, terkadang kita mengalami kendala untuk benar-benar memahami pikiran dan perasaan pasangan jika tidak dibicarakan,” lanjutnya.

Jadi, belajar untuk menjalin komunikasi yang sehat dengan pasangan akan membuat hubungan menjadi lebih nyaman.

Kemudian yang kedua, ada kaitannya dengan pengorbanan. Tunjukkan bahwa kita bersedia dan mau berbuat baik kepadanya.

“Misalnya ketika pasangan sedang mengalami masalah, kita bisa mendengarkan dan berada di sisinya ketika ia mengalami masa-masa sulit. Kemudian bisa membantu meringankan pekerjaan rumah tangga, dan lainnya,” saran Qurrota.

Tidak lupa, tunjukkan penghargaan dan apresiasi pada pasangan. Karena sering kali kita “take for granted” terhadap hal-hal yang dilakukan oleh pasangan. Sehingga perlu untuk menunjukkan bahwa hal-hal yang dilakukannya itu berarti untuk kita.

Kesimpulan

Foto: www.canva.com

Qurrota menyarankan agar mengenali diri terlebih dahulu. “Dengan mengenali dan memahami diri, kita jadi tahu bahwa apa yang mampu dan sanggup untuk dilakukan terhadap pasangan,” katanya.

Perlu adanya kesadaran diri bahwa jika kita berpasangan, artinya bukan hanya bekerja untuk diri sendiri tetapi untuk pasangan kita juga. Sehingga perlu untuk mengusahakan hal-hal untuk meningkatkan kualitas relasi dan melanggengkan hubungan yang sudah dijalin bersama.

“Dalam relasi romantis, mengusahakan hal-hal yang baik demi cinta dan pasangan itu disarankan. Namun ini perlu dilakukan secara wajar, logis, dan tigak berlebihan agar relasi dapat berlangsung sesuai dengan harapan yang sudah ditetapkan bersama,” pesannya.