Seberapa Penting Memiliki Visi dan Misi yang Sama dalam Sebuah Hubungan?

visi misi
Foto: www.freepik.com

Mungkin kamu sudah tidak asing lagi ketika mendengar kata ‘visi misi’ dalam kehidupan sehari-hari. Tak hanya dalam Pemilu, visi dan misi juga bisa diterapkan pada hubungan pernikahan. Meski harus menyatukan pendapat dengan pasangan, akan tetapi ini merupakan hal yang penting. Namun, bagaimana jika hubungan tidak berjalan sesuai dengan tujuan? Apa yang perlu dilakukan?

Simak penjelasan dari Diana Saadah, M.Psi., Psikolog seorang Psikolog Klinis dan Founder Berani Bicara serta Kembang Project yang akan membahas tentang apa itu visi dan misi serta bagaimana cara mengatasinya ketika hubungan tidak berjalan sesuai tujuan.

Apa Itu Visi Misi?

visi misi
Foto: www.freepik.com

“Visi itu sebenarnya tujuan dari sebuah hal, sementara misi adalah hal-hal apa yang dilakukan untuk mewujudkan tujuan tersebut. Kalau dalam hubungan, visi itu ingin dibawa ke mana (hubungannya), misalnya menuju pernikahan maka misinya persiapan emosional, finansial, atau restu orang tua,” jelasnya.

Tidak hanya ketika berorganisasi, namun dalam sebuah hubungan juga diperlukan adanya visi misi, terlebih dalam lingkup pernikahan.

“Karena pernikahan ini adalah sebuah tujuan dari hubungan. Serta pernikahan ini waktunya seumur hidup akan menjalin team work. Jadi ibaratnya kaya berorganisasi, maka dari itu butuh visi misi dalam pernikahan,” paparnya.

Menurut Diana, dengan adanya hal tersebut maka akan menjadi lebih jelas dan mengetahui tujuan dari hubungan tersebut. “Diibaratkan seperti kapal, ingin tahu dibawa ke mana arahnya,” tambahnya.

Kapan Waktu yang Tepat untuk Menyatukan Visi Misi Pernikahan?

Foto: www.rawpixel.com

Pada dasarnya, visi dan misi dari setiap pasangan akan berbeda-beda. Bahkan setiap orang pun memiliki visi misi yang kemungkinan tidak akan sama dengan orang lain. “Kita tidak bisa memaksakan visi pasangan satu dengan yang lainnya. Hal ini bergantung dengan persetujuan dari pasangan tersebut. Misalnya ingin membangun keluarga yang tentram, saling memaafkan, atau lainnya. Setiap keluarga biasanya punya visi misi yang berbeda,” ujar Diana.

Lantas, bagaimana cara menyamakan visi dengan pasangan?

“Yang jelas adalah komunikasi dan bertemu di tengah. Karena bagaimana pun pada akhirnya kita dan pasangan merupakan orang yang berbeda. Jadi bagaimana caranya kita berkomunikasi, mencari titik tengah dari sisi pasangan dan sisi kita,” jawabnya.

Diana menuturkan bahwa sebenarnya, setiap hari merupakan cara untuk menyamakan visi. “Meski ada bentrok, friksi, atau pertikaian dalam pernikahan, namun menurut saya ketika pertama kali kamu memutuskan untuk serius dengan orang tersebut, maka ada banyak hal yang harus disatukan atau dikomunikasikan,” ungkapnya

Hal ini tentunya perlu dilakukan untuk mengetahui bagaimana langkah atau keputusan pasangan ketika menyelesaikan suatu masalah. Tentunya ini merupakan hal yang sulit, akan tetapi penting untuk dilakukan.

Bagaimana Jika Rumah Tangga Tidak Berjalan Sesuai dengan Tujuan?

Foto: www.freepik.com

Ketika mengetahui bahwa rumah tangga mulai tidak berjalan sesuai dengan visi maupun misi, maka Diana menyarankan untuk “sadari bahwa kita tidak akan pernah bisa mengubah faktor yang ada di luar. Yang bisa kita ubah adalah respons kita terhadap sesuatu. Karena, yang mengambil keputusan ingin menikah pun kita sendiri,” ujarnya.

Menurutnya perlu adanya kesadaran bahwa “kita tidak akan bisa mengubah segalanya sesuai dengan keinginan kita. Ketika tujuannya tidak sesuai, lebih baik lakukan musyawarah dan mencari jalan tengah. Karena pada akhirnya kita tidak akan pernah menang. Kalau kamu ingin menang, itu hasilnya justru keduanya akan kalah dalam hubungan,” sarannya.

Hal ini sebaiknya dilakukan dengan segera dibanding harus menyimpannya sendiri atau saling diam. Karena jika dibiarkan maka permasalahan tidak akan bisa selesai.

Bagaimana dengan Visi dan Misi dalam Hubungan Pacaran?

visi misi
Foto: www.freepik.com

Dalam hubungan pacaran, tentunya bisa juga memiliki visi dan misi. Akan tetapi hal ini pun akan berbeda pada setiap orang. “Ada yang mau pacaran, ada yang mau menikah, itu disesuaikan dari visi hubungannya seperti apa. Namun intinya semuanya adalah romantic relationship dan tergantung kamu mau bawa ke mana hubungan itu,” ucapnya.

Ketika berada dalam hubungan pacaran, kemungkinan besar tidak adanya komitmen resmi sehingga hubungan bisa berakhir kapan pun. Untuk bisa mengantisipasi hal tersebut, maka Diana menyarankan agar berperilaku netral dalam menjalani hubungan dan mengingat bahwa kita tidak bisa membatasi afeksi atau perasaan.

“Tempatkan atau posisikan pasangan sebagai orang terdekat kita. Tetapi sadari bahwa dia bukan milik kita, pun sampai menikah juga seperti itu, namun kalau dalam pacaran itu harus lebih hati-hati lagi,” anjurnya.

Kesimpulan

visi misi
Foto: www.unsplash.com

Dalam sebuah hubungan, perlu diingat bahwa seseorang tidak akan pernah bisa mengubah faktor yang ada di luar dirinya sendiri. Namun yang dapat diubah adalah respons terhadap sesuatu.

“Menjalin hubungan romantis itu sama saja seperti berorganisasi. Kalau kamu bersikeras maunya menang, maka kamu akan kalah berdua. Kita tidak akan pernah bisa sama dengan pasangan, untuk itu cobalah mencari jalan tengahnya,” ujarnya.

Psikolog klinis yang satu ini juga menyarankan agar mulai belajar menurunkan ego untuk bisa mendengarkan pasangan.

“Karena apa pun itu, dalam hubungan harus ‘saling’ dan jangan pernah merasa ‘paling’, baik itu paling berkorban atau sebagainya. Coba berkaca sebelum menghakimi pasanganmu, apakah kamu sudah menjadi pasangan yang baik atau belum,” paparnya.