Panduan Bertahan Hidup bagi Para Ekstrover saat Social Distancing

Foto: www.gettyimages.com

Bagi introver social distancing mungkin seperti surga, tapi untuk kita para ekstrover… ini adalah salah satu bentuk cobaan duniawi terberat. Hello, keramaian? Kapan bisa bertemu dan mengobrol panjang kali lebar dengan banyak orang? Ugh. Bagaimana caranya agar para ekstrover bisa menikmati masa #dirumahaja #bekerjadarirumah dan #stayhome ini? Oleh karena tidak mungkin bertemu langsung dengan psikolog, teknologi bernama email adalah metode aman untuk mencari tahu jawaban ini.

Apa Itu Ekstrover?

para ekstrover
Foto: www.rawpixel.com

Kita sudah sering mendengar istilah ini, tapi acap kali masih ragu dengan definisinya.

“Sebelum membahas tentang ekstrover lebih jauh kita perlu pahami dahulu tentang apa itu kepribadian,” jelas Cindani Trika Kusuma, seorang psikolog klinis, kepada LIMONE melalui email.

Psikologi 101: Kepribadian merupakan ciri atau karakteristik atau sifat-sifat yang khas dikaitkan dengan diri seseorang. 

“Lalu, menurut teori psikologi dari Jung C.G., tipe kepribadian dibagi menjadi ekstrover dan introver. Orang-orang yang memiliki kepribadian ekstrover terutama dipengaruhi dunia objektifnya, yaitu dunia luar dirinya. Mereka memiliki orientasi terutama tertuju keluar. Pikiran, perasaan serta tindakannya lebih ditentukan oleh lingkungannya, baik lingkungan sosial maupun non sosial. Mereka juga bersikap positif terhadap masyarakatnya. Ini sama artinya dengan hati terbuka, mudah bergaul, dan hubungan dengan orang lain lancar,” terangnya.

Kriteria para ekstrover adalah seperti ini: Mereka tergolong orang yang ramah, suka bergaul, memiliki banyak teman, selalu membutuhkan teman untuk diajak bicara, tertarik dengan apa yang terjadi di sekitar mereka, terbuka, dan sering banyak bicara. 

Karakteristik lainnya mudah mendapat teman dan beradaptasi dalam kelompok baru, mengatakan apa yang mereka pikirkan, tertarik dengan orang-orang baru, dan mudah menolak bersahabat dengan orang-orang yang tidak diinginkannya. “Orang yang memiliki kepribadian ekstrover juga tampak memiliki karakteristik yang periang dan tidak memusingkan suatu masalah, serta optimis dan ceria,” tambahnya.

Bagaimana Social Distancing Bisa Mempengaruhi Para Ekstrover?

Foto: www.istockphoto.com

Para ekstrover yang membaca pertanyaan di atas, pasti langsung mengacungkan jari dan ingin menjawab dengan panjang dan lebar. Soalnya, sudah lama berbincang dan mengobrol dengan orang baru.

“Dalam jangka waktu tertentu jelas ini dapat mempengaruhi para ekstrover. Jika social distancing berlangsung dalam jangka waktu yang lama dan tak pasti, akan dapat memunculkan ketidaknyamanan karena banyaknya aktivitas atau perilaku yang harus dihentikan oleh para ekstrover,” Cindani mengungkapkan.

Bisakah mencapai tahap stres?

“Untuk sampai ke tahap stres, tentu saja bisa,” jawabnya.

Dan menariknya, mengalami stres tidak hanya risiko yang bisa terjadi pada ekstrover.

“Ini bahkan bukan hanya untuk para ekstrover, namun semua orang akan melalui tahap stres,” imbuhnya.

“Satu hal yang perlu kita telaah kembali adalah bagaimana respon mereka terhadap stresor dalam hal ini pandemik COVID-19. Lebih jauh, jika sampai ke tahap gangguan psikologis depresi, tambahnya.

“Mungkin sampai hari ini presentasenya cukup rendah, namun jika sebelum pandemik COVID-19 telah memiliki trauma atau pengalaman-pengalaman tidak menyenangkan yang belum diselesaikan, maka dapat saja mengarah ke gangguan depresi. Jelas jika sudah sampai di tahap ini perlu adanya upaya untuk mencari bantuan atau menyelesaikan masalah yang dialami agar dapat mempersiapkan diri pada perubahan pandemik COVID-19, lalu mampu beradaptasi,” sarannya.

Benarkah Social Distancing Hanya Bisa Dinikmati oleh Introver, dan Menjadi Tantangan bagi Ekstrover?

para ekstrover
Foto: www.gettyimages.com

Social distancing sepertinya “yay” buat introver, dan “nay” buat ekstrover. Benarkah?

“Masing-masing kepribadian ini punya kelebihan dan kelemahan,” jelas Cindani.

“Namun jika kita lihat kepada definisi dari masing-masing tipe kepribadian di atas, maka jelas memang demikian dari segi karakteristik.”

Menurutnya, pada dasarnya, di masa social distancing ini para introver lebih cepat untuk beradaptasi dan tetap mampu melakukan aktivitas atau tanggung jawab secara mudah dibanding para ekstrover. Sementara di sisi lain, periode ini ibarat sebuah tantangan bagi para ekstrover.

“Karena ada beberapa kebiasaan yang membuat mereka merasa ‘hidup’ dan nyaman harus dihentikan mengikuti anjuran pemerintah untuk melakukan social distancing. Terutama pada aktivitas berkumpul yang menjadi karakteristik khas pada para ekstrover,” paparnya.

Jika anjuran untuk tidak berkumpul dan tetap di rumah menjadi tantangan bagi ekstrover, maka #dirumahaja menjadi sebuah kenikmatan bagi para introver. “Karena pada dasarnya, sehari-hari mereka telah menerapkan perilaku ‘social distancing‘—bahkan sebelum adanya wabah pandemik ini. Dalam artian para introver tidak perlu merubah mindset hingga perilaku dalam upaya menyesuaikan diri pada perubahan yang ada,” terangnya.

Apa yang Sebaiknya Dilakukan Para Ekstrover agar Bisa Menikmati Social Distancing?

para ekstrover
Foto: www.istockphoto.com

Well, “menikmati” mungkin agak berlebihan—tapi hei, kita para ekstrover ini cenderung optimis. Benar ‘kan?

“Para ekstrover perlu memulai dengan memaknai dulu kondisi yang sedang kita hadapi. Yakni, bahwa situasi ini memaksa semua orang untuk melakukan social distancing, bahkan berada di rumah saja. Bahwa apa yang sedang kita lakukan ini, baik untuk keselamatan dan kesehatan masyarakat Indonesia termasuk di dalamnya orang-orang yang kita sayangi,” ujarnya.

Menurut Cindani, jika para ekstrover memahami betapa pentingnya hal ini, maka mereka bisa lebih terbuka untuk menerima perubahan. “Jika sudah mampu menerima perubahan, kita akan lebih siap untuk menyusun strategi penyelesaian masalah yang tepat,” tambahnya.

Setelahnya? Berikut beberapa trik yang bisa kamu lakukan.

Manfaatkan secara maksimal dunia online

Untuk tetap mempertahankan kebutuhanmu akan dunia sosial, Cindani menyarankan untuk memindahkan media berkumpul secara langsung menjadi berkumpul secara online atau melalui sosial media.

“Memanfaatkan sosial media yang ada dapat mengurangi sedikit keresahan yang dirasakan karena tetap dapat bertatap muka atau bertukar cerita dengan orang lain,” anjurnya.

Buat jadwal kegiatan

Lalu, jangan lupa untuk menyusun aktivitas yang bermanfaat setiap harinya agar kamu tahu apa yang bisa dilakukan untuk menghabiskan waktu selama anjuran pemerintah ini berlangsung.

Lakukan kegiatan yang menyenangkan (termasuk curhat)

Oh, adalah sesuatu yang normal jika kamu merasa bosan. Percayalah, para introver juga mengalaminya (paling tidak, ini curhatan dari beberapa teman LIMONE yang super introver).

“Jika sesekali kita merasa jenuh dan cemas, itu sangat wajar sekali terjadi. Pada situasi perubahan yang mendadak dan serba tidak pasti sangat wajar jika muncul gejala-gejala gangguan psikologis ringan. Hal ini bisa diatasi dengan segera menyadari perubahan yang tidak menyenangkan ini, lalu bergerak dan berpikir secara positif. Bisa melakukan olahraga, nonton film komedi, baca buku inspiratif atau self-development dan sampaikan kekhawatiran kita kepada orang yang kita percaya,” sarannya.

Hubungi tenaga profesional jika tetap merasa tertekan

Jika segala hal baik dan positif sudah kamu lakukan secara konsisten dan masih merasa tertekan, Cindani menyarankan untuk segera menghubungi tenaga profesional.

“Saat ini banyak sekali tersedia layanan konseling dan pemberian bantuan psikologis awal yang diberikan oleh tenaga psikolog. Dan Jika sudah tidak dapat mengendalikan lagi perasaan atau perilaku yang negatif pada diri kita selama social distancing, bisa menghubungi 119-ext 8. Ini merupakan layanan yang dibentuk oleh pemerintah dengan sebutan SEJIWA atau bisa menghubungi psikolog di daerah masing-masing,” tegasnya.

Selanjutnya: Ini cara menghadapi orang terdekat yang menolak melakukan social distancing.