Bagaimana Mengatasi Rasa Cemas Keluar Rumah saat Social Distancing Berakhir

cemas dan takut
Foto: www.gettyimages.com

Tetap di rumah. Bekerja dari rumah. Lakukan social distancing dan physical distancing. Selama beberapa bulan terakhir, pesan tersebut telah menjadi mantra dan semboyan hidup sehari-hari. Terlepas kangen dengan kehidupan luar dan bertemu teman, kita tetap berada di rumah karena tahu bahwa aksi tersebut akan membantu menghentikan penyebaran COVID-19. Rumah bersih, tangan bersih, laptop bersih, dan semua permukaan disemprot disinfektan setiap hari. Kita pun merasa aman dari dunia luar. Namun, berangsur-angsur ada wacana untuk mulai melakukan pelonggaran PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) di berbagai tempat. Harusnya sih, lega. Akan tetapi entah kenapa kamu malah cemas dan takut keluar rumah saat “new normal” mulai diterapkan. Apakah ini sesuatu yang normal? Oleh karena ini sepertinya masalah yang dihadapi banyak orang, LIMONE menghubungi Reynitta Poerwito, seorang psikolog klinis.

Apakah Normal Jika Merasa Khawatir saat Keluar Rumah di Masa Social Distancing?

cemas dan takut
Foto: www.istockphoto.com

Untuk kamu yang butuh mendengar ini, Reynitta mengatakan bahwa adalah sesuatu yang sangat wajar jika kamu merasa cemas dan takut saat ingin keluar rumah di periode social distancing.

“Karena adanya perubahan situasi yang mendadak dan mengharuskan kita semua untuk beradaptasi, maka dalam prosesnya pasti akan timbul rasa khawatir, cemas dan takut,” Reynitta menjelaskan.

Dan mungkin kamu tergoda dan ingin menyebut ketakutan ini sebagai “agorafobia”. Namun, sebaiknya jangan terlalu cepat memberikan perasaan tersebut dengan label ini.

“Bila perasaan itu muncul, belum tentu bisa dikategorikan ke dalam agorafobia,” terangnya. Lebih lanjut, Reynitta menerangkan bahwa kondisi agorafobia ini merupakan sebuah perasaan ketakutan, cemas dan kekhawatiran yang sangat intens sehingga pasti akan mengganggu fungsi keseharian orang yang memiliki kondisi ini. 

“Selain itu, agorafobia biasanya hadir setelah mengalami beberapa serangan panik ketika akan keluar rumah. Jadi, bila kita hanya mengalami perasaan khawatir namun masih bisa mengatasinya, kondisi itu belum bisa dikategorikan sebagai agorafobia. Dan agorafobia ini merupakan salah satu tipe gangguan kecemasan, sehingga karena sudah disebut gangguan, pasti orang yang mengalaminya akan sulit untuk melakukan fungsi kesehariannya karena akan sangat terganggu dengan gangguan kecemasan yang dimilikinya,” jelasnya.

Jadi, bisa jadi kekhawatiran yang kamu alami saat keluar rumah adalah sebuah bentuk kecemasan yang masih dalam batas wajar.

Mengapa Kita Merasa Cemas Saat Keluar Rumah Setelah Social Distancing Dilonggarkan?

cemas dan takut
Foto: www.gettyimages.com

Saat berbincang dengan teman atau keluarga secara virtual, mungkin pertanyaan “apa yang mau dilakukan setelah kondisi normal?” sering dilontarkan. Dan lewat Zoom atau Google Meet, kamu menjawabnya dengan super antusias dan ceria. Namun, di dunia nyata, kamu sebenarnya merasa cemas, khawatir dan takut saat keluar rumah. Apa yang menyebabkan perasaan ini muncul?

“Saat ini, walau social distancing sudah mulai dilonggarkan, namun kita masih belum mengetahui sepenuhnya tentang virus COVID-19. Meski sudah banyak pemberitaannya tapi karena virus baru, jadi masih banyak yang belum tereksplor mengenai virus ini. Apalagi belum ada vaksinnya—sehingga masih banyak ketidaktahuan dan pertanyaan dalam diri kita. Contohnya, apakah sekarang aman bila keluar rumah? Apakah aku akan tertular bila aku keluar rumah? Nah, ketidaktahuan dan ketidakpastian mengenai situasi inilah yang membuat kita merasa cemas dan takut,” paparnya.

Bagaimana Mengatasi Rasa Cemas Tersebut?

Foto: www.istockphoto.com

“Bila memang ketakutan dan kecemasan yang dirasakan itu intensitasnya tidak tinggi dan masih bisa ditangani sendiri, kita bisa belajar untuk menenangkan diri sendiri di tengah situasi yang membuat cemas,” imbuhnya.

Reynitta menjelaskan bahwa ada sejumlah cara yang bisa kamu lakukan untuk menghadapi perasaan cemas dan menenangkan diri. Beberapa di antaranya adalah ini.

√ Batasi penggunaan sosial media dan jauhkan diri membaca berita dari sumber pemberitaan yang tidak valid.

√ Jaga kesehatan sesuai dengan anjuran tenaga medis dan pemerintah.

√ Lindungi diri sendiri dari kondisi yang bisa membuat kita tertular virus tersebut. Termasuk dengan mencuci tangan secara teratur, pakai masker saat berkegiatan di luar rumah dan di area publik, serta jaga jarak dengan orang asing.

√ Lakukan kegiatan yang menenangkan diri. “Ketenangan juga bisa didapat dari kegiatan yang bisa menenangkan diri sendiri misalnya meditasi, olahraga ringan, bermain musik, menulis jurnal, dan kegiatan lain yang bila dilakukan bisa membuat kita merasa tenang,” katanya.

“Kunci dari mendapatkan ketenangan adalah mampu mengatur pikiran kita terutama bila pemikiran negatif muncul ke permukaan. Jadi, jangan biarkan pikiran negatif mendominasi diri kita karena hal itu akan mempengaruhi perasaan dan perilaku,” tegasnya.

Akan tetapi, jika kamu khawatir karena sepertinya rasa cemas ini sudah mempengaruhi aktivitas Senin sampai Minggu kamu, Reynitta menganjurkan untuk berkonsultasi dengan psikolog.

“Biasanya dalam konsultasi akan diberikan arahan sesuai dengan kondisi klien agar kegiatan yang dilakukan bisa efektif untuk meningkatkan ketenangan diri,” terangnya.

Selanjutnya: Jika situasi social distancing membuat kamu yang berkepribadian ekstrover merasa kesulitan, coba baca tips dari psikolog ini. Dan sebuah studi baru menganjurkan melakukan cara sederhana ini untuk mengurangi stres.