5 Pertanyaan Super Penting tentang Duit Kamu dan COVID-19, Dijawab oleh Ahli

kondisi keuangan aman
Foto: www.istockphoto.com

Bukannya mata duitan, tapi pandemik ini membuat banyak dari kita jungkir balik, salto, koprol—dalam mengurus finansial dan memastikan kondisi keuangan aman meski penghasilan mungkin berkurang. Ini terjadi pada orang singel, sudah menikah, generasi sandwich, terlebih yang baru saja di-PHK. Untuk memastikan keuanganmu aman dan nyaman untuk jangka waktu yang lama, LIMONE menghubungi Verico Onardy, seorang penasihat keuangan, dan mengajukan lima pertanyaan penting tentang duit dan bagaimana menjaga kondisi keuangan aman saat pandemik.

Baca artikel ini sampai habis agar kamu (entah yang masih singel atau berkeluarga) tahu apa yang mesti dilakukan agar kondisi keuangan aman meski saldo di rekening (sangat) pas-pasan.

Bagaimana Cara Paling Bijak Menggunakan Pesangon?

“Pada saat memperoleh pesangon, maka yang perlu diprioritaskan sebelum dipakai untuk berbelanja konsumtif adalah perlu mengevaluasi dulu kondisi fondasi dalam konstruksi keuangan yang dimiliki saat ini apakah sudah cukup kokoh atau belum,” jelas Verico.

Menurutnya, ukuran fondasi keuangan kita sudah dikatakan kokoh, jika:

√ Penghasilan > Pengeluaran

√ Harta Bersih > Hutang

√ Hutang konsumtif dipastikan nol

√ Dana darurat jangka pendek minimal tersedia. Untuk single, enam kali gaji bulanan; menikah, minimal 12 sampai 18 kali lipat penghasilan bulanan.

√ Dana darurat jangka panjang untuk manajemen risiko.

“Pastikan dibereskan secara berurutan,” tekannya. “Misalnya jika masih ada hutang konsumtif, maka dana pesangon yang ada digunakan dulu untuk melunasi hutang-hutang yang sifatnya konsumtif seperti KTA. Dan apabila dalam potret kekayaan (neraca keuangan) sudah memenuhi kelima kriteria di atas, maka dana pesangon yang ada bisa digunakan untuk menabung buat mencapai tujuan keuangan yang paling penting dan urgent, yang artinya jangka pendek dan tidak bisa ditunda,” ujarnya.

kondisi keuangan aman
Foto: www.istockphoto.com

Apa yang Dilakukan Jika Pesangon Tidak Cukup Membiayai Pengeluaran Rutin 4 Bulan ke Depan?

“Cek dulu apakah memiliki persediaan dana darurat jangka pendek atau tidak,” anjurnya.

“Apabila tidak memiliki dana darurat sama sekali, maka yang perlu dilakukan adalah membuat proyeksi uang masuk dan rencana belanja hingga 4 bulan ke depan. Tujuannya untuk membantu orang mengontrol pengeluarannya, sehingga kekurangan dana setiap bulan bisa diprediksi. Ini membuat kamu bisa memilih ingin memperoleh kekurangannya itu dari mana,” terangnya.

Selain itu, “bangun multi sumber penghasilan baru yang tidak memerlukan modal,” sarannya. Cara paling tepat adalah dengan meng-upgrade skill agar bisa memiliki kemampuan yang menghasilkan pendapatan yang tinggi (high income skill). Yakni, “kemampuan untuk mendistribusikan value ke marketplace, sehingga tidak membuthkan uang untuk menghasilkan uang,” jelasnya.

Sangat tidak disarankan untuk merintis bisnis yang membutuhkan modal karena itu sangat berisiko. Dalam masa-masa sulit seperti ini, cash is the king,” tekannya.

kondisi keuangan aman
Foto: www.gettyimages.com

Bagaimana Cara Menggunakan Dana Darurat agar Tidak Cepat Habis?

“Apabila seseorang dalam keadaan tidak berpenghasilan sama sekali karena mengalami PHK di masa pandemik ini, maka yang pertama perlu dibuat adalah, membuat rencana belanja menggunakan kuadran belanja,” jawabnya. Masukkan rencana belanja tersebut dalam kategori apakah: 1) penting dan mendesak; 2) penting, tapi tidak mendesak; atau 3) mendesak, tetapi tidak penting; atau 4) tidak mendesak dan tidak penting

“Tujuannya untuk memastikan tidak ada belanja emosional yang tidak penting,” Verico mengingatkan. “Setelah membuat rencana belanja, segera hitung ketersediaan dana darurat yang tersedia dan berapa bulan dana tesebut sanggup membiayai hidup. Dengan begitu, seseorang mengetahui batas waktu maksimal berapa lama hingga dia sudah harus memiliki sumber penghasilan baru,” imbuhnya.

Foto: www.unsplash.com

Apakah Ini Waktu yang Tepat Membeli Rumah?

“Jika seluruh elemen dalam fondasi keuangan seperti yang dijelaskan di atas sudah terpenuhi berdasarkan kriteria minimal masing-masing. Plus, anggaran untuk membeli rumah sudah disiapkan jauh-jauh hari sebelumnya, maka tidak ada salahnya untuk membeli rumah saat ini,” jawabnya.

“Namun perlu dipastikan bahwa ketika rumah dibeli untuk ditinggali, maka rumah itu adalah aset konsumtif yang akan menambah biaya bulanan setiap bulannya, di luar cicilan tetap rumah itu kepada bank. Jadi perlu dipastikan, apakah sudah memiliki sumber income dan fondasi keuangan yang sudah cukup stabil dan kokoh atau tidak untuk membayar cicilannya hingga selesai,” katanya.

Jadi, disarankan atau tidak membeli rumah di saat pandemik seperti sekarang ini?

“Tergantung kondisi keuangan masing-masing orang, dan tergantung pada tingkat urgency kebutuhan untuk memiliki rumah. Jangan sampai karena membeli rumah, kebutuhan lain seperti pendidikan anak misalnya, jadi terganggu,” tukasnya.

Masihkah Harus Tetap Berinvestasi?

“Wajib,” jawabnya, “asalkan fondasi keuangan seseorang sudah stabil dan kokoh,” lanjutnya.

“Setelah fondasi keuangan sudah stabil dan kokoh, maka invesatasi wajib dilakukan untuk mencapai tujuan keuangan dalam setiap fase kehidupan. Tapi sebelum mulai berinvestasi, buat dulu peta keuangan sebelum mulai melakukan investasi setiap bulan,” anjurnya.

Selanjutnya: Apa yang sebaiknya dilakukan saat harga saham anjlok? Baca penjelasan dari seorang penasihat keuangan ini agar kamu tidak panik dan kondisi keuangan tetap aman.