Mengapa Ada Yang Lebih Memilih Tidak Berpacaran Tapi Tetap Menjaga Komitmen?

tidak berpacaran tapi menjaga komitmen
Foto: www.rawpixel.com

Memiliki hubungan dengan pasangan sesungguhnya tidak selalu berada dalam status ‘pacaran’. Sebab belakangan ini lebih banyak yang memilih untuk tidak berpacaran tapi menjaga komitmen.

Dengan tidak berpacaran tapi menjaga komitmen, beberapa orang merasa lebih nyaman dan tidak merasa terbebani dengan status pacaran yang dimiliki.

Akan tetapi, bagaimana jika tiba-tiba salah satu pihak memutuskan untuk mengakhiri komitmen tersebut?

Untuk mengetahui jawabannya, LIMONE telah menghubungi Amalia Indah Permata, M.Psi., Psikolog, seorang Psikolog Klinis dari Biro Psikologi Dinamis, yang akan menjelaskan tentang langkah-langkah yang harus dilakukan ketika pasangan tidak mau menjaga komitmen.

Apa Itu Komitmen?

tidak berpacaran tapi menjaga komitmen
Foto: www.freepik.com

Amalia menjelaskan bahwa menurut KBBI, komitmen berarti perjanjian (keterikatan) untuk melakukan sesuatu, atau bisa juga dikatakan sebagai sebuah tanggung jawab.

“Menurut konselor pasangan, Amber L. Pope dalam teori Integrated Model of Commitment (2013), komitmen didefinisikan sebagai kegigihan dalam sebuah hubungan yang muncul dari ketertarikan dan ketergantungan individu terhadap pasangan dan hubungannya,” terangnya.

Namun, ketertarikan dan ketergantungan ini dapat berubah berdasarkan interaksi satu sama lain dan lingkungan sosial. Lantas, apakah artinya komitmen ini bisa berakhir?

“Tujuan komitmen antara satu pasangan dengan pasangan lain bisa saja sama, misalnya berkomitmen menuju kehidupan pernikahan atau selalu bersama di waktu sulit atau mudah,” jawabnya.

“Namun dorongan atau aspek yang membentuk komitmen bisa saja berbeda antara satu pasangan dengan pasangan lain, bahkan bisa berbeda antara seseorang dengan pasangannya,” lanjut Amalia.

Sehingga tidak jarang terdapat pasangan yang sudah berkomitmen namun kemudian hubungannya tetap berakhir.

Apa Saja Jenis-Jenis Komitmen?

Foto: www.pexels.com

Menurut Integrated Model of Commitment, komitmen sendiri berasal dari dua aspek yang saling berintegrasi, yakni meliputi daya tarik dan batasan, serta proses internal dan eksternal.

“Daya tarik merupakan alasan seseorang untuk melanjutkan hubungan karena adanya rasa cinta, kepuasan, dan dedikasi. Sementara batasan berarti alasan seseorang mempertahankan hubungan agar menghindari risiko berpisah,” jelasnya.

Selain itu, proses internal berkaitan dengan pengaruh value, sikap, dan konsep diri seseorang terhadap hubungan dan pasangan.

Baca Juga :  Mengapa Ada Pasangan yang Bisa Rukun Kembali Setelah Berselingkuh?

Sementara proses eksternal berkaitan dengan alasan mempertahankan hubungan karena hal eksternal, seperti tekanan sosial atau kendala finansial.

Amalia menuturkan bahwa terdapat empat jenis komitmen, yakni:

Personal commitment

Dalam personal commitment dibentuk karena adanya integrasi antara daya tarik terhadap pasangan dan proses internal individu.

Jadi seseorang mempertahankan hubungan karena ada rasa cinta, kepuasan, serta merasa bahwa hubungan tersebut sesuai dengan jati dirinya.

Moral commitment

Moral commitment dibentuk karena adanya batasan dan proses internal, jadi mempertahankan hubungan merupakan sebuah keharusan atau bahkan kewajiban.

Hal ini dilakukan karena sudah menjadi bagian dari identitasnya dari waktu ke waktu atau berkaitan dengan agama, keyakinan, dan norma yang dimiliki.

Daya tarik dan proses eksternal

Pada komitmen yang satu ini dibentuk karena adanya daya tarik dan proses internal. “Jadi seseorang mempertahankan hubungannya karena adanya daya tarik dari eksternal, misalnya sumber finansial, kepemilikan rumah, dan meningkatkan status sosial,” katanya.

Structural commitment

Komitmen terstuktur dibentuk karena adanya batasan dan proses eksternal. Jadi seseorang merasa harus bertahan di dalam hubungan berdasarkan hal eksternal.

“Misalnya dukungan atau tekanan sosial yang sudah diberikan, waktu dan memori yang sudah dihabiskan bersama, atau tidak ada alternatif lain di luar hubungan,” ujarnya.

Sehingga bisa dilihat bahwa ada banyak hal yang bisa mendorong komitmen seseorang. “Komitmen ini pun bisa berubah berdasarkan interaksi satu sama lain dan pengaruh lingkungan sosial, baik itu meningkat atau pun menurun,” ungkap Amalia.

Hal inilah yang menjelaskan bahwa mengapa hubungan yang disertai dengan komitmen bisa berakhir.

Mengapa dalam Hubungan Harus Disertai Komitmen?

Foto: www.canva.com

Menurut Amalia, penting bagi sebuah hubungan disertai dengan komitmen di dalamnya. Hal ini bertujuan agar pasangan memiliki rencana dan tujuan yang jelas.

“Pasangan yang berkomitmen akan mengetahui apa yang mereka inginkan di dalam hubungan dan bekerja sama untuk mencapai hal tersebut. Sehingga tidak heran jika penelitian menunjukkan bahwa komitmen merupakan predictor kritis dalam kestabilan sebuah hubungan,” paparnya.

Manfaat komitmen dalam hubungan juga berkaitan dengan kesejahteraan (well-being) seseorang dalam sepanjang hidupnya. Serta ketika pasangan memilih untuk memiliki anak, maka komitmen juga berkontribusi pada sehatnya tumbuh kembang anak.

“Individu dengan komitmen yang tinggi, lebih cenderung mempersepsikan dan membicarakan pasangannya secara positif, merasa didukung, memprioritaskan hubungan, dan secara umum merasa puas dengan pasangan serta hubungannya,” tutur Psikolog Klinis yang satu ini.

Bagaimana Bentuk Komitmen dalam Sebuah Hubungan?

Foto: www.unsplash.com

Bentuk komitmen dalam sebuah hubungan bukan hanya diorientasikan pada hasil akhir hubungan tersebut.

Baca Juga :  Seberapa Penting Mengajarkan Arti Attitude Kepada Buah Hati? Ini Kata Psikolog

Misalnya berkomitmen untuk menikah sebagai tujuan akhir atau selalu bersama di waktu sulit atau mudah. Namun yang paling penting justru proses mencapai dan pemahaman pasangan terhadap tujuan yang akan dicapai.

“Jadi bentuk komitmennya ditunjukkan dengan saling jujur dan terbuka dan saling memahami satu sama lain,” jelasnya.

“Selain itu bisa juga ditunjukkan dengan saling memperbaiki diri, saling menjaga kepercayaan, bekerja sama untuk hubungan yang lebih baik, dan saling menjaga komunikasi yang asertif,” ujarnya.

Amalia juga mengingatkan bahwa jangan sampai istilah ‘komitmen’ ini hanya menjadi lip service.

Bagaimana Jika Sebuah Hubungan Tidak Memiliki Komitmen ?

Foto: www.rawpixel.com

“Ketika dalam sebuah hubungan tidak terdapat komitmen, maka hubungannya mungkin akan tetap berjalan namun pastinya dapat merugikan salah satu atau bahkan kedua belah pihak,” ungkap Psikolog Klinis ini.

Sebab tidak ada tujuan yang jelas akan menimbulkan rasa tidak aman (insecurity) dan tidak ada kontrol diri yang bisa mengarah pada banyak masalah pada hubungan.

Sehingga nantinya hubungan ini bisa berubah menjadi toxic relationship atau berakhir pada kegagalan.

Apa Tanda Seseorang yang Berkomitmen dalam Hubungan?

tidak berpacaran tapi menjaga komitmen
Foto: www.pexels.com

Amalia kembali mengingatkan bahwa proses mencapai tujuan komitmen menjadi hal yang krusial dalam hubungan. “Jadi ketika pasangan menunjukkan sikap dan perilaku yang mendukung tujuan komitmennya, maka ini menandakan bahwa ia sebagai seorang yang berkomitmen,” tuturnya.

Secara umum biasanya akan ditandai dengan adanya beberapa sikap, yakni:

  • Saling jujur dan terbuka
  • Memahami satu sama lain
  • Memperbaiki diri
  • Menjaga kepercayaan
  • Bekerja sama untuk hubungan yang lebih baik
  • Saling menjalin komunikasi yang asertif

Bagaimana Cara Menjaga Komitmen dengan Pasangan?

tidak berpacaran tapi menjaga komitmen
Foto: www.freepik.com

Karena komitmen bisa berubah berdasarkan interaksi dengan pasangan dan lingkungan sosial, maka kedua hal ini perlu dijadikan sebagai sesuatu yang perlu ditingkatkan oleh pasangan.

“Misalnya dengan membicarakan diri dan masa depan, menunjukkan rasa cinta satu sama lain, atau melakukan kegiatan menghabiskan waktu berkualitas lainnya bersama pasangan,” tutur Amalia.

Selain itu, bisa juga dengan meningkatkan kualitas hubungan dengan teman atau keluarga pasangan, mengikuti kelas-kelas edukasi, atau bahkan terapi pasangan juga dapat berkontribusi menjaga komitmen dengan pasangan.

Bagaimana dengan Tidak Berpacaran Tapi Menjaga Komitmen?

tidak berpacaran tapi menjaga komitmen
Foto: www.pexels.com

Terdapat beberapa orang yang lebih memilih untuk tidak berpacaran tapi menjaga komitmen. Menurut Amalia, kondisi ini tidak ada salahnya untuk dilakukan.

“Sebenarnya selama rencana dan tujuannya jelas di masa depan, serta label status ‘resmi’ disepakati bukan menjadi hal yang krusial, maka hal ini tidak begitu memengaruhi,” ujarnya.

Baca Juga :  Mengapa Banyak Yang Sulit Mengungkapkan Cinta Lewat Kata-Kata Kepada Pasangan?

Karena menurut Psikolog Klinis yang satu ini, “ketika seseorang sudah menjalin komitmen maka secara tidak langsung ia sudah terikat. Selama istilah ‘komitmen’ tidak menjadi lip service dan ditunjukkan dengan upaya nyata mencapai tujuan akhir, tidak masalah untuk diterapkan,” lanjutnya.

Mengapa Banyak yang Memilih untuk Tidak Berpacaran Tapi Menjaga Komitmen?

Foto: www.unsplash.com

“Tidak bisa dipungkiri bahwa istilah ‘pacaran’ cenderung mendapat stigma negatif karena istilah ini sudah digunakan untuk hubungan cinta sejak masa remaja. Yang mana tidak banyak berhasil untuk jangka panjang,” papar Amalia.

Selain karena stigma, tidak sedikit individu yang memang mengalaminya secara langsung, sehingga merasa lebih berhati-hati dalam menjalin hubungan.

“Hal ini pun membuat istilah ‘hubungan dengan komitmen’ terdengar lebih serius dan dewasa, sehingga mereka merasa lebih aman untuk menggunakan istilah ini. Meski menurut saya ketika ia berkomitmen pun, secara tidak langsung juga sudah terikat dengan pasangannya,” tuturnya.

Bagaimana Jika Salah Satu Pihak Tidak Ingin Menjaga Komitmen?

Foto: www.freepik.com

Psikolog Klinis ini menjelaskan bahwa berdasarkan teori Integrated Model of Commitment, sesungguhnya tidak mudah bagi individu untuk mengakhiri komitmennya.

“Ketika salah satu pihak ingin mengakhiri komitmen, meski sulit, namun cobalah untuk menghargai keinginannya. Akan tetapi sebelum benar-benar diakhiri, ajak pasangan untuk terapi atau konseling pasangan,” sarannya.

Biasanya pasangan yang mengawali hubungan dengan komitmen masih cukup terbuka untuk mencari bantuan dan mengupayakan hubungannya.

“Meski tidak ada jaminan hubungan akan tetap berjalan setelah terapi, namun setidaknya kedua belah pihak menjadi lebih paham dinamika yang terjadi di dalam hubungan. Serta bisa didampingi pihak profesional untuk menentukan solusi terbaik untuk satu sama lain,” ujarnya.

Lantas kapan kita harus mengakhiri sebuah komitmen ketika tidak berpacaran?

“Ketika apa yang sudah disepakati bersama tidak lagi menjadi tujuan atau salah satu pihak tampak tidak mengupayakan tujuan tersebut, meski sudah diingatkan atau didiskusikan sebelumnya. Kenali batasan diri jika merasa sudah tidak membahagiakan atau merugikan,” pesan Amalia.

Kesimpulan

tidak berpacaran tapi menjaga komitmen
Foto: www.freepik.com

Psikolog Klinis yang satu ini menyarankan untuk individu memastikan bahwa komitmen yang dijalani tidak hanya menjadi lip service.

“Dengan atau tanpa status ‘pacaran’, komitmen tetap memiliki arti yang sama, yakni mengupayakan apa yang telah disepakati bersama,” katanya.

“Komitmen juga dapat ditingkatkan dengan meningkatkan kualitas hubungan antara satu sama lain, dan mempertimbangkan peran atau kontribusi lingkungan sosial terhadap hubungan tersebut,” tuturnya.