Apakah Kamu Seorang Pembully?

Foto: www.shutterstock.com

Pernah menonton Mean Girls? Jika mau jujur, seberapa besar kemungkinanmu masuk ke geng Plastic dan menjadi dayang-dayang si Regina yang memiliki ‘The Burn Book‘ (semua bahan julid dan ghibah skala sekolahan ada di dalamnya)? Dan tidak hanya di film, sayangnya di kehidupan nyata, orang dewasa pun tak jarang jadi pelaku perundungan. Apakah kamu termasuk di dalamnya? Coba cek dengan membaca penjelasan dari seorang psikolog tentang tanda-tanda orang dewasa pembully.

Apakah Kamu Seorang Pembully?

tanda-tanda orang dewasa pembully
Foto: www.gettyimages.com

Firman Ramdhani, M.Psi., Psikolog dari Personality Development Center, menyebutkan bullying merupakan perilaku seseorang yang terbiasa atau berusaha mengintimidasi orang lain. Bullying terhadap anak-anak dan dewasa pada umumnya sama, berkaitan dengan fisik, verbal atau sosial, serta cyber bullying. “Misalnya, body shaming yang masuk ke bullying sosial atau verbal,” ucapnya.

Firman mengatakan kebanyakan orang tidak menyadari bahwa dirinya seorang pembully. “Kita kadang nggak sadar kalau perilaku kita banyak menyakiti orang lain,” ungkapnya.

Untuk mendeteksi bahwa kita seorang pembully atau tidak bisa dengan cara ini: “Tanya orang dekat kita yang bisa observasi kita atau yang tahu kita bagaimana. Atau, kita bisa cek selama kita berinteraksi dengan orang apakah sering menimbulkan efek negatif sama orang lain,” jawabnya. “Dalam arti orang lain bisa sedih atau marah sekali sama kita,” Firman sambungnya. “Kita bikin orang lain nggak nyaman, kesal, marah dan benci,” tuturnya.

Jika misalnya kamu sering memiliki keinginan untuk mengintimidasi, mengontrol orang lain, merendahkan orang lain, “maka bisa jadi kita punya potensi seorang pembully. Jadi, cara paling gampang adalah bertanya kepada orang lain.” Orang yang kamu ajukan pertanyaan ini sebaiknya orang yang jujur dan tidak takut bicara terus terang.

Sejumlah Faktor yang Mempengaruhi Seseorang Menjadi Pembully

tanda-tanda orang dewasa pembully
Foto: www.shutterstock.com

Firman berpendapat bahwa seseorang menjadi pembully dipengaruhi dengan pembelajaran sepanjang hidupnya. “Biasanya terpengaruh dari masa kecil sampai dewasa sekarang. Baik di sekolah, lingkungan ataupun keluarga. Dia belajar bahwa dengan membully maka akan mendapatkan sesuatu,” jelas Firman melalui pesan singkat. “Itulah diulang-ulang sehingga menjadi sesuatu automatic buat dia.”

Ia juga menambahkan seseorang menjadi pembully biasanya karena ingin mendapatkan ‘sesuatu’. “Misalnya, ada orang membully itu karena mencari perhatian, atau keuntungan lain yang pastinya rewarding bagi dia,” tambah Firman.

Faktor selain itu adalah karena pembully memiliki kesulitan mengontrol emosi. “Dalam arti bukan marah, tetapi ya, memang tujuannya untuk mencari kesenangan,” paparnya. Si perundung tidak bisa mengontrol emosi, terlalu senang dan pada saat yang bersamaan tidak bisa melihat bahwa apa yang dilakukannya menyakiti orang lain.“Ada kaitannya juga kurangnya kemampuan berempati yang akhirnya membuat dia menjadi seorang perundung dan menyakiti orang lain.”

Penyebab lain? Karena ingin menyelamatkan nama baik. “Bisa jadi dengan melakukan itu, dia mendapatkan rasa nyaman, dan terhindar dari orang yang nggak dia suka. Dia ngebully karena dia menghindari orang tahu kejelekan dia,” paparnya.

“Setiap individu punya cara berfikir yang berbeda-beda. Tapi dari cognitive terapi, perilaku kita ini tergantung dengan mindset, cara pandang kita terhadap suatu masalah,” ujar Firman “Bisa jadi perilakunya sama-sama melakukan bullying tapi mindset mereka berbeda-beda satu sama lain. Jadi, bisa saja pengalaman kita saat di-bully membuat kita jadi pembully,” Tapi ini tidak berlaku bagi semua orang.

Faktor Keturunan dan Bullying

Foto: www.shutterstock.com

“Ini nggak secara langsung,” bebernya. “Faktanya dalam gangguan-gangguan psikologis, faktor keturunan itu berpengaruh tapi sedikit. Namun, lebih besar faktor pembelajaran kita.”

Ia berpendapat meskipun seseorang keturunan dari penjahat belum tentu kita jadi pembully. “Jadi, misalnya pas kita lahir orangtua kita tobat. Lalu, mereka belajar sehingga kita didik dengan cara yang berbeda dan menjadi lebih baik.”

Sekali lagi: faktor keturunan tidak memiliki peran terlalu terpenting. Malah: “Orangtua mungkin mendidik kita berpotensi jadi pembully, tapi tiba-tiba kita dapat sahabat yang benar-benar mengubah kita. Akhirnya, kita nggak jadi pembully,” sambungnya melengkapi. Itulah sebabnya, kamu perlu mengelilingi hidupmu dengan teman-teman yang baik dan positif.

Ini yang Harus Kamu Lakukan Jika Mendeteksi Tanda-Tanda Pembully dalam Diri

tanda-tanda orang dewasa pembully
Foto: www.gettyimages.com

Jika kamu masih butuh bantuan untuk mendeteksi pembully di dalam diri sendiri, Eileen Kennedy-Moore Ph.D., seorang psikolog menuliskan sebuah kuestioner sederhana di Psychology Today. Kuesioner ini dikhususkan untuk anak, tapi mungkin bisa juga digunakan untuk orang dewasa.

“Jika kamu menjawab ‘tidak pernah’ untuk setiap pertanyaan, kamu bisa jadi tidak jujur,” tulis Kennedy-Moore. “Setiap orang melakukan kesalahan dan kadang-kadang melakukan hal-hal yang tidak menyenangkan. Yang penting adalah mengenali kapan hal itu terjadi, mencoba memperbaikinya sebisa mungkin, dan berjanji pada diri sendiri untuk berlaku lebih baik pada kesempatan berikutnya.”

Firman juga menekankan untuk meminta maaf, “dan tidak mengulanginya lagi.”

Akan tetapi jika sulit meminta maaf dan kamu sepertinya masih menikmati melihat hidup orang sulit, sebaiknya konsultasi dengan seseorang. Apalagi jika kamu sudah acapkali ditegur oleh orang-orang terdekat karena menyakiti hati orang lain. “Perlu konsultasi ke orangtua, kalau memungkinkan kita bisa terapi dengan psikolog atau pihak yang terkait dirasa mampu atau bisa menanganinya,” ungkapnya. “Tujuannya buat mengubah diri untuk belajar bagaimana kontrol emosi. Karena bullying itu emosi.” tegasnya.

Itu tanda-tanda orang dewasa pembully dan ini untuk mencari tahu apakah anakmu memiliki tendensi seorang pem-bully.