Apakah Infeksi Vagina Berbahaya? Ini Penjelasan Ahli

infeksi vagina
Foto: www.freepik.com

Mungkin kamu tidak menyadari ketika mengalami keputihan berlebihan dan vagina yang gatal. Namun kondisi ini ternyata bisa menjadi sebuah tanda dari infeksi vagina.

Penyakit yang satu ini perlu segera diatasi untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Namun, apa sebenarnya penyebab dari infeksi ini?

Simak penjelasan dari dr. Raissa Liem SpOG B.Med.Sc, seorang Dokter Spesialis Kandungan dan Kebidanan dari RS YPK Mandiri, terkait penyebab dan cara mencegah infeksi vagina.

Apa Itu Infeksi Vagina?

infeksi vagina
Foto: www.freepik.com

Dokter Raissa menjelaskan bahwa “infeksi vagina itu bermacam-macam. Namun yang paling sering, itu adalah kondisi di mana adanya ketidakseimbangan jumlah bakteri alami atau flora normal di dalam vagina. Sehingga nantinya menimbulkan infeksi atau menyebabkan gejala yang mengganggu,” tuturnya.

Selain karena flora abnormal yang keseimbangannya berlebihan, kondisi ini juga paling sering disebabkan karena jamur dan trikonomiasis.

“Lalu, gejala keputihan itu mungkin bisa juga disebabkan karena adanya infeksi pada area panggul, sehingga menyebabkan penyakit radang panggul,” paparnya.

“Bisa juga karena gonore atau terdapat berbagai macam bakteri yang bisa menginfeksi vagina dan organ kandungan dari seorang wanita, yang terdiri dari rahim, saluran telur, maupun panggul,” tambahnya.

Apakah Kondisi Ini Berbahaya?

apakah kondisi infeksi vagina berbahaya | | Apakah Infeksi Vagina Berbahaya? Ini Penjelasan Ahli
Foto: www.canva.com

Sesungguhnya, terdapat beragam definisi berbahaya. Menurut Dokter Raissa, “ketika misalnya berbicara tentang membahayakan nyawa, mungkin tidak. Tetapi seorang wanita juga perlu mempertimbangkan kemampuan reproduksinya. Jika ini misalnya hanya jamur yang menginfeksi vagina, itu tidak membahayakan kemampuan reproduksi wanita,” terangnya.

Namun, “jika sudah ada infeksi radang panggul yang menyebabkan saluran telur menjadi terhambat atau terjadinya inflamasi di saluran telur, itu sangat mengganggu,” lanjut Dokter Kandungan dan Kebidanan ini.

“Karena ketika terjadinya inflamasi dan saluran telurnya atau yang biasa disebut tuba falopi-nya tersumbat, maka seorang perempuan tidak bisa mengalami kehamilan normal. Atau meningkatkan risiko terjadinya kehamilan ektopik,” jelasnya.

Ketika terjadinya kehamilan ektopik, “itu akan membahayakan nyawa. Atau misalnya terjadi sumbatan di tuba falopi atau saluran telur, maka wanita tidak bisa hamil, kecuali jika diatasi dengan bayi tabung atau IVF,” imbuh Dokter Raissa.

Bagaimana Gejala Infeksi Vagina?

gejala infeksi vagina | | Apakah Infeksi Vagina Berbahaya? Ini Penjelasan Ahli
Foto: www.freepik.com

Gejala yang paling umum dan sering ditemui adalah keputihan. Untuk itu, kamu perlu mengetahui keputihan seperti apa yang normal dan abnormal, atau tanda-tanda dari infeksi.

“Secara umum, vagina wanita akan menghasilkan sekresi lendir. Umumnya keluarnya lendir ini bisa disebabkan oleh faktor hormonal, seperti kadar estrogen yang sedang tinggi,” ujarnya.

“Sekresi ini dinamakan lendir serviks. Untuk mengetahui seseorang berada dalam masa subur atau tidak subur, itu bisa diketahui dari konsistensi lendir tersebut. Biasanya lendir untuk masa subur itu lebih bening, kental, dan terasa lengket. Jadi keputihan atau lendir serviks itu termausk ke golongan normal,” jelasnya.

Sementara, “keputihan yang abnormal itu biasanya lendir atau seksresi vagina ditandai dengan warna putih yang bergumpal dan menyerupai ampas tahu. Atau bisa juga putih tetapi banyak dan teksturnya encer sekali. Selain itu, bisa juga ditandai dengan warnanya yang kuning dan kehijauan, serta memberikan rasa gatal atau nyeri,” lanjutnya.

Ketika mendapati kondisi keputihan yang abnormal, Dokter Raissa menyarankan untuk berkonsultasi dengan ahli. Hal ini bertujuan agar bisa segera diatasi dengan aman.

Adakah Risiko yang Ditimbulkan dari Infeksi Vagina?

risiko yang ditimbulkan dari infeksi vagina | | Apakah Infeksi Vagina Berbahaya? Ini Penjelasan Ahli
Foto: www.freepik.com

Untuk wanita yang sedang berencana hamil, ketika mengalami infeksi di bagian vagina saja, hal tersebut tidaklah berisiko. “Namun, ketika kuman-kuman tersebut menyerang saluran di atasnya, seperti bisa menyebabkan radang panggul, maka itu akan berisiko dan menyebabkan inflamasi pada area panggul,” paparnya.

“Sehingga, nantinya bisa membuat peradangan di saluran telur atau tuba falopi. Yang mana kemudian bisa mengganggu kesuburan wanita,” tambahnya.

Lalu, “risiko dari infeksi vagina terhadap pasien wanita yang sedang hamil adalah terjadinya kontraksi prematur dan ketuban pecah dini. Jadi, khusus untuk ibu-ibu yang sedang hamil dalam usia berapa pun, jika mengalami infeksi vagina atau keputihan berlebih baik itu normal atau tidak, lebih baik berkonsultasi segera dengan dokter kandungan,” saran Dokter Raissa.

“Karena ketika keputihan berlebih itu abnormal, tetapi pasiennya tidak tahu dan dibiarkan saja, itu bisa membuat infeksi dan membuat kontraksi prematur atau membuat ketuban pecah. Ketika ketuban pecah maka bayi harus lahir prematur, itu efeknya kurang baik untuk masa depan bayi,” jelas Dokter Kandungan dan Kebidanan yang satu ini.

Bagaimana Mengatasi Infeksi Vagina?

infeksi vagina
Foto: www.canva.com

Untuk mengobati infeksi vagina, maka perlu dilakukan diganosa terlebih dahulu. “Caranya adalah dengan melakukan pemeriksaan yang disebut dengan istilah inspekulo, nanti kita melihat keadaan vaginanya serta mulut rahim atau serviksnya, apakah mengalami iritasi atau normal,” terangnya.

“Kemudian kita juga bisa mengetahui misalnya jenis keputihannya seperti apa, apakah infeksi jamur atau mulut rahimnya merah seperti stroberi itu menandakan trikonomiasis. Jadi kita bisa diagnosa dengan mulut rahim, kondisi vagina, atau keputihannya,” lanjutnya.

Serta juga bisa melakukan swab vagina, “jadi kita menggunakan kapas lidi, mengambil cairan keputihannya. Lalu kita kirim ke laboratorium untuk mengetahui pasti jenis kuman yang menyerang apa,” ujar Dokter Raissa.

Terkadang, “ketika diobati namun tidak membaik, kita bisa cek kultur resistensinya dengan melihat kuman ini akan resisten dengan obat apa saja. Jadi kita kasih obat yang sensitif untuk mengobati penyakit tersebut,” paparnya.

Apakah Infeksi Vagina Bisa Dicegah?

infeksi vagina
Foto: www.canva.com

Dokter Raissa menuturkan bahwa “meski ini mencegah, namun tidak bisa dipastikan 100%. Salah satu caranya adalah dengan menjaga kebersihan vagina dan menjaga celana dalam agar tetap kering. Jika misalnya menggunakan pantyliner, maka harus sering diganti. Ketika menggunakan celana dalam dan sudah kotor juga perlu segera diganti,” sarannya.

Terkadang, “ketika mengalami kondisi cairan atau sekresi vaginanya berlebihan, diperbolehkan untuk menggunakan cairan pembersih vagina. Namun, pastikan kamu memilih pH yang sesuai. Selain itu, penggunaan produk ini juga tidak boleh dipakai secara rutin,” lanjut Dokter Raissa.

“Sebab, penggunaan cairan pembersih vagina dalam waktu yang sering, itu justru bisa mengganggu keasaman vagina, sehingga menimbulkan ketidakseimbangan flora. Selain itu, juga bisa membuat vagina menjadi kering, ketika barrier mukosa-nya terganggu, nantinya bisa menyebabkan terjadinya infeksi,” imbuhnya.

Tak hanya itu, Dokter Raissa juga menyarankan untuk “membiasakan pola kehidupan seksual yang sehat. Seperti tidak berganti-ganti pasangan atau misalnya bila berhubungan menggunakan kondom. Jika memiliki kecurigaan pasangan memiliki penyakit, maka sebaiknya jangan melakukan hubungan seksual,” anjurnya.

Kesimpulan

konsultasi dengan dokter | | Apakah Infeksi Vagina Berbahaya? Ini Penjelasan Ahli
Foto: www.canva.com

Untuk mencegah atau mengatasi infeksi vagina, sebaiknya harus “dikonsultasikan dengan dokter kandungan. Selain itu, ketika memiliki cairan pembersih vagina yang sering digunakan, cobalah untuk berkonsultasi dengan ahli, apakah ini produk yang tepat atau tidak,” pesan Dokter Raissa.

“Jangan lupa untuk mempelajari cara penggunaannya yang tepat. Hindari menggunakan cairan pembersih ketika vagina berada dalam kondisi kering, karena hal tersebut akan membuatnya menjadi semakin kering. Kemudian, pastikan menghindari seks bebas atau tanpa pengaman. Ketika mengalami kendala, maka segera berkonsultasi dengan dokter,” tutupnya.