Sikap Ini Membuat Hubunganmu Semakin Toxic

Foto: www.canva.com

Kamu mungkin tidak melempar sandal ke pasangan saat berantem, tapi keinginan itu sepertinya ada saat adu mulut. Paling tidak, kita sering kali melakukannya di dalam imajinasi. Dan ada banyak hal yang kita lakukan yang secara atau tidak, ternyata membuat hubungan semakin toxic ketika sedang berantem. Peneliti dari The Gottman Institute menuliskan beberapa kebiasaan yang membuat hubungan kamu dan pasangan semakin beracun—dan menyarankan alternatif yang lebih sehat.

Mengucapkan Hal Paling Menyakitkan Saat Suasana Panas

Saat emosi sedang naik dan pikiran sudah kelam, lidah memang tidak bertulang. Kata-kata paling menyakitkan terucap dengan kecepatan 5G, padahal kita tahu bahwa kita tidak serius dengan pernyataan-pernyataan tersebut (tapi memang serius? ehm…). Dan sekali terucap, tidak ada tombol “undo“. Gottmann menyebut ini dengan “banjir emosional.” Dan sama seperti bencana alam, setelahnya kondisinya jadi lebih berantakan dan toxic selama berhari-hari.

Solusi alternatif: Ambil nafas dan keluarlah mencari udara segar. Secara biologis, dibutuhkan paling tidak 20 menit bagi seseorang untuk tenang setelah dibanjiri oleh berbagai jenis emosi. Oh, saat sedang mencari udara segar, hindari menelepon atau mengirim pesan kepada teman tentang betapa menyebalkannya pasanganmu. Alih-alih, cobalah ingat saat-saat indah atau positif yang pernah kalian alami. Situasi tidak memungkinkan untuk mencari udara segar? Tarik nafas dan akui pada diri sendiri bahwa kamu sedang emosi banget dan jangan mengikuti hawa panas yang meliputi hati dan pikiranmu saat itu. Segala pikiran tersebut sifatnya sementara.

Mengkritik, Mengkritik, dan Selalu Mengkritik

Ketika respon otomatismu ketika sedang berdebat adalah selalu mengkritisi kata-kata, perbuatan, ide, keputusan pasanganmu, well… kamu sedang menuju toxic relationship (plus, Highway to Hell sebagai lagu latar belakang). Akan tetapi, hei, semua kita yang memiliki pasangan pasti pernah melagukannya. Ohya agar tidak salah kaprah, mengkritik “berbea dengan mengutarakan sebuah keluhan,” tulis Ellie Lisitsa dari institut tersebut. “Keluhan fokus pada satu isu spesifik, sementara mengkritik adalah menyerang karakter pasanganmu.”

Solusi alternatif: Hindari menggunakan kata-kata seperti “tidak pernah” atau “selalu”. Silakan mengeluh, tapi jangan menyalahkan. Keluhan adalah cara menyampaikan tingkah laku atau tindakan yang spesifik yang selama ini kamu rasakan. Metode ini juga mengisyaratkan sebuah kebutuhan: “Aku akan merasa lebih senang jika kamu bisa meletakkan ponselmu saat kita ngobrol. Boleh ‘kan, ya?” Nada lembut dan ucapan terima kasih juga sesuatu yang bisa membuat hubunganmu lebih sehat.

Menyimpan Kepahitan

Ini artinya kamu selalu menyimpan segala sesuatu yang selama ini membuat kamu ingin menjambak rambutmu. Selain itu, kamu juga sulit melupakan kesalahan yang pernah dia lakukan. Atau, sebaliknya, kamu melakukan kesalahan, tapi tidak bertanggung jawab dan tidak pernah meminta maaf. Istilahnya, ada “hantu” gentayangan di dalam hubunganmu tapi tidak ada satu pihak pun memanggil dukun.

Solusi alternatif: Cobalah untuk tidak menimbun amarah atau rasa kesal. Terbukalah kepada pasangan dan saat dia menawarkan solusi—jadilah partisipan yang aktif. Cara setiap orang mungkin berbeda: ada yang langsung bersedia minta maaf dan mendiskusikan masalah; ada juga yang berpikir bahwa tindakan adalah cara untuk memperlihatkan bahwa mereka peduli dan sedang mencoba untuk memperbaiki kesalahan. Akan tetapi, intinya jika kamu adalah pihak yang berbuat kekeliruan, tidak pernah ada kata terlambat untuk mengutarakan maaf dan memperbaikinya.

Tidak hanya komunikasi yang bisa membuat hubunganmu lebih langgeng, tapi juga liburan! Apalagi kalau traveling ke pantai-pantai cantik ini.

podcast button