Seks Oral, Apakah Aman? Ini Kata Ahli

seks oral
Foto: www.freepik.com
Terakhir diperbarui:

Apa itu seks oral? LIMONE mengajukan pertanyaan ini kepada dr. Irene Dorthy Santoso, Sp.DV, seorang Dermatovenereologist dan Staf Pengajar Bagian Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara. Dan apakah seks oral bisa menyebabkan penyakit kelamin? Untuk menjawab rasa penasaranmu, baca sampai habis artikel.

Apa yang Sebaiknya Kita Tahu Sebelum dan Sesudah Melakukan Seks Oral?

seks oral
Foto: www.rawpixel.com

Wajib lakukan ini sebelum melakukan seks oral: membersihkan rongga mulut dan kelamin. Kamu dan pasanganmu. Lalu, cek apakah terdapat luka pada mukosa mulut (sariawan) ataupun pada kelamin masing-masing. “Apabila didapatkan luka atau lesi pada mulut dan kelamin sebaiknya seks oral ditunda hingga luka atau lesi mendapatkan pengobatan dan sembuh,” saran Dokter Irene.

Selain itu, juga sangat disarankan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan sebelum melakukan aktivitas seksual secara aktif baik itu oral sex, genital, ataupun anal.

“Pemeriksaan kesehatan secara umum antara lain, pemeriksaan fisik untuk mengetahui apakah terdapat lesi di kelamin dan anus, serta pemeriksaan darah (minimal HIV, sifilis, dan hepatitis). Sedangkan untuk seks oral perlu tambahan pemeriksaan area mulut.” lanjutnya.

Sementara itu, wajib lakukan ini sesudah aktivitas seks jenis ini: bersihkan rongga mulut dan kelamin dengan berkumur memakai mouthwash. “Karena dengan berkumur menggunakan mouthwash dapat mencegah terjadi penularan infeksi menular seksual,” Dokter Irene menambahkan.

Adakah Mitos Oral Sex yang Salah?

seks oral
Foto: www.canva.com

Uh-uh, ternyata ada beberapa mitos yang salah dan sampai sekarang masih beredar oleh sebagian orang. Jadi, sekarang saatnya untuk berhenti memercayai. Berikut di antaranya.

Hanya Mitos: Dengan melakukan seks secara oral maka kamu akan kehilangan keperawanan

Ingat, bahwa keperawanan kamu tidak akan hilang hanya dengan melakukan oral sex. “Sebaliknya, keperawanan dapat hilang dengan penetrasi ke dalam kelamin,” jelas Dokter Irene.

Hanya Mitos: Seks oral dapat membuat kamu hamil

JIka pasangan hanya melakukan oral sex maka tidak akan membuat kamu hamil. Secara ilmiah, proses kehamilan dapat terjadi saat sperma bersatu dengan sel telur, sementara saat oral sex, sperma tidak akan bertemu dengan sel telur.

Hanya Mitos: Seks oral selalu tidak higienis

“Ini adalah pandangan umum orang awam karena pada mulut maupun alat kelamin selalu terdapat bakteri—dan hal ini benar,” terang Dokter Irene. “Akan tetapi kembali lagi pada kebiasaan dari masing-masing individu. Jadi, sebaiknya sebelum dan setelah melakukan seks secara oral selalu bersihkan diri agar terhindar dari infeksi,” tambahnya.

Hanya Mitos: Saat melakukan seks oral tidak bisa menggunakan kondom

Dokter Irene menekankan dan menyarankan untuk menggunakan kondom saat melakukan seks secara oral untuk saling melindungi dari potensi infeksi. “Risiko terjadinya infeksi sebenarnya dapat dikurangi bila menggunakan proteksi seperti kondom, akan tetapi seringkali banyak yang merasa tidak nyaman melakukan seks oral dengan kondom.”

Hanya Mitos: Seks oral cukup aman dan tidak menyebabkan terjadinya berbagai infeksi menular seksual

Pada dasarnya, saat melakukan seks dengan metode oral tetap dapat berpotensi untuk menularkan infeksi seksual.

Jenis penyakit Apa Saja yang Bisa Ditularkan Melalui Seks Oral?

seks oral
Foto: www.unsplash.com

Tidak ada yang melarangmu untuk melakukan seks secara oral. Namun, berhati-hati dan waspada serta melakukan segala hal di atas wajib dilakukan untuk memastikan aktivitas seksual pilihanmu aman.

Pasalnya, seks dengan cara oral sangat memungkinkan seseorang tertular beberapa jenis penyakit tertentu. “Karena seks oral bukanlah seks yang aman, apalagi seks oral yang dilakukan dengan pasangan yang berganti-ganti,” tekan Dokter Irene.

Lebih lanjut, Dokter Irene menerangkan beberapa penyakit yang disebabkan oleh virus dan bakteri dapat ditularkan melalui aktivitas seks tipe ini.

Gonorrhea

Risiko untuk tertular gonorrhea cukup besar saat melakukan oral sex pada laki-laki, namun pada perempuan risikonya cukup rendah karena infeksinya tidak mencapai serviks.

HIV

Kemungkinan seseorang tertular HIV melalui seks tipe ini memang relatif rendah jika dibandingkan seks melalui vagina atau anal, apalagi jika dilakukan tanpa proteksi. “Risiko tertular HIV akan semakin meningkat bila saat melakukan seks oral terdapat sariawan atau luka serta proses ejakulasi terjadi di dalam mulut,” jelasnya.

Herpes

Herpes genital dan oral disebabkan oleh strain virus yang berbeda, akan tetapi tetap memungkinkan jenis virus manapun untuk menginfeksi kedua lokasi tersebut,” terang Dokter Irene.

Chlamydia

Untuk chlamydia risiko penularannya mirip dengan gonorrhea, di mana kedua belah pihak berisiko tinggi terkena penyakit tersebut.

Sifilis

Sifilis (tahap primer dan sekunder) merupakan penyakit menular seksual yang sangat mudah ditularkan melalui hubungan seks, termasuk seks dengan metode oral.

“Pada tahap primer sifilis seringkali tidak menimbulkan gejala, terkadang hanya berupa sariawan atau luka yang tidak sakit sehingga sering terabaikan. Karena itu, terkadang seseorang tidak mengetahui bahwa mereka menularkan penyakit pada pasangan.”

Kanker tenggorokan

Penyebab kanker tenggorokan ataupun orofaringeal (tenggoro bagian tengah) yang berkaitan dengan infeksi menular seksual adalah human papilloma virus (HPV). “Risiko ini semakin meningkat pada orang yang suka berganti-ganti pasangan, dan virus ini dapat menyerang laki-laki ataupun perempuan.”

Hepatitis

Hingga saat ini, belum dapat disimpulkan apakah hepatitis B dapat ditularkan melalui seks dengan cara oral.

Kesimpulan

seks oral
Foto: www.canva.com

Ah, hal ini sesuatu yang wajib kamu tahu, karena seharusnya seks dalam bentuk apa pun dilakukan berdasarkan konsensual kedua belah pihak dan tidak membahayakan siapa pun.

Oleh karena itu, Dokter Irene mengingatkan bahwa hal paling mendasar adalah komunikasi yang baik dan jujur di antara pasangan, jujur mengenai masa lalu dan membicarakan rencana ke depan.

Dan seperti yang sudah disebutkan di atas, sebelum melakukan hubungan seks, sebaiknya kamu dan pasangan melakukan pemeriksaan atau screening infeksi menular seksual sesuai saran dokter. Dan tidak sampai di situ, “konsultasikan hasil pemeriksaan tersebut dengan dokter yang menangani,” tekannya.

Lalu, setialah kepada pasangan. Ini super duper penting untuk mencegah infeksi menular seksual. Dan jika pasangan seksual lebih dari satu orang, selalu gunakan pengaman atau kondom setiap kali melakukan hubungan, baik itu oral sex, genital, ataupun anal,” Dokter Irene mengingatkan.

Dan selalu: “Apabila terdapat keluhan, segera untuk memeriksakan diri. Baiknya jangan mencoba untuk mengobati keluhan kamu sendiri, terutama mengonsumsi antibiotik tanpa anjuran dokter,” tegas Dokter Irene.