Apa yang Harus Kamu Lakukan dengan Uang Pesangon agar Keuangan Aman?

pesangon
Foto: www.gettyimages.com

Situasi beberapa minggu belakangan ini membuat kita merasa seperti di dalam sebuah film science fiction. Surreal but it’s real. Dan pandemik ini memang membuat kita panik dan stres, karena khawatir soal kapan kondisi ini akan berakhir, bagaimana soal kesehatan dan keuangan. Belum lagi, jika ternyata kamu menjadi salah satu karyawan yang dirumahkan atau terkena PHK akibat efek pandemik ini. Kamu memang dapat pesangon—tapi bagaimana dengan kelanjutan hidup, terutama keuangan, setelah ini? LIMONE menghubungi kata Irshad Wicaksono Ma’ruf, seorang Personal Financial Planner dan mencari tahu apa yang sebaiknya kamu lakukan terhadap pesangon yang kamu terima.

Apa yang Sebaiknya DIingat Saat Menerima Kabar akan Di-PHK?

pesangon
Foto: www.istockphoto.com

Pastinya, Irshad menyarankan untuk “beri stimulus ke diri sendiri untuk accept kondisi pandemik seperti sekarang, bukan denial,” ujarnya. Untuk itu, menurutnya kamu bisa melakukan beberapa hal untuk meminimalisir stres dan panik saat kondisi pandemik. Di antaranya.

√ Cari sumber informasi terpercaya

“Dengan banjirnya informasi seperti sekarang, kita harus memilih dan memilah informasi dari sumber terpercaya. Hindari ‘meracuni’ diri dengan informasi hoax,” anjurnya.

√ Pola hidup sehat

Kondisi pandemik seperti ini menjaga pola hidup sehat sudah wajib dilakukan, dan pastinya meminimalisir tertular virus. Untuk itu, ingat selalu melakukan hal ini: konsumsi makanan sehat dan seimbang, minum air putih yang cukup, rutin berolah raga, Istirahat yang cukup (7-9 jam untuk orang dewasa), dan tidak merokok dan konsumsi alkohol.

√ Tetap bersosialisasi

Dengan bersosialisasi bisa menurunkan tingkat stress, ditambah bersosialisasi dengan orang terdekat seperti keluarga atau sahabat. “Khawatir terinveksi virus karena keluar rumah? Gunakan teknologi video call, tetap bisa bersosialisasi, tetap bisa tatap wajah, dan pastinya tetap merasa aman dari terinveksi virus,” jelasnya.

√ Lakukan aktivitas bermanfaat

Lakukan aktivitas bermanfaat misal berkebun, mendengarkan podcast, baca buku, ikut seminar online, dll.

√ Berpikir positif

“Mungkin terdengar teoritis, tapi dengan berpikiran negatif apalagi berlebihan malah berdampak penurunan kesehatan badan. Banyak cara untuk berpikir positif, misal berfokus kepada hal atau informasi-informasi positif, family time yang mungkin jarang dilakukan ketika kondisi normal sebelumnya, atau melakukan hobi yang bisa dilakukan dirumah, dan masih banyak lagi,” ujarnya memberi contoh.

Saat di-PHK, Apa yang Harus Kita Lakukan terhadap Pesangon Tersebut?

pesangon
Foto: www.gettyimages.com

Dirumahkan biasanya akan membuat seseorang mendapatkan pesangon. Apa sebaiknya dilakukan dengan uang tersebut?

“Perlu dilakukan simulasi pencatatan semua pengeluaran kebutuhan, kewajiban, dan keinginan baik bulanan sampai tahunan, sehingga tahu kapan pesangon itu akan habis bila semua pengeluaran itu dilakukan,” anjurnya.

Dan, “bila uang pesangon itu habis terutama di bawah satu tahun, maka perlu melakukan penghematan. Lihat catatan pengeluarannya kembali dan review pengeluaran mana yang bisa dikurangi dan pengeluaran mana yang bisa dihilangkan,” katanya.

Dengan melakukan ini—simulasi pencatatan pengeluaran—maka kemungkinan besar kamu akan bisa berpikir, bertindak dan mengambil langkah selanjutnya untuk survive. “Misalnya selain berhemat, juga membuka usaha, melamar kerja kembali, sebagai freelancer, dan lain sebagianya untuk mengganti atau menambah penghasilan,” anjurnya.

Irshad mengingatkan untuk tidak terbawa emosi saat melihat pesangon dan tumpukan duit yang lebih banyak dari biasanya. Tetap lakukan pencatatan keuangan. Pasalnya, ini akan membuatmu terhindar dari “penggunaan uang pesangon tidak tepat, yang malah membuat uang pesangon cepat habis dalam waktu singkat. Misal tertipu investasi bodong atau rekan bisnis,” lanjutnya.

Jenis Pengeluaran Apa yang Musti Diutamakan dalam Situasi Finansial Sulit setelah Mendapat Pasongan?

Foto: www.istockphoto.com

Irshad menjelaskan ada tiga jenis pengeluaran yang harus diperhatikan, yakni kebutuhan, kewajiban, dan keinginan.

“Pengeluaran yang diutamakan sekarang, sifatnya untuk survive. Dari tiga jenis pengeluaran ini yang bisa dihilangkan agar bisa survive adalah ‘keinginan’. Karena bila tidak dihilangkan bisa menjadi menjadi beban kamu untuk survive di masa sulit seperti sekarang,” Irshad menginagtkan.

Sementara, untuk pengeluaran jenis kebutuhan dan kewajiban bisa dicermati lagi mana yang bisa dikurangi. “Misal pengeluaran untuk makan yang masuk ke dalam pengeluaran kebutuhan, tapi ini bisa dikurangi dengan contohnya yang biasanya makan sehari dengan 4 lauk dan 2 sayur, saat kondisi pandemik seperti ini makan dengan 1 lauk dan 1 sayur cukup, sehingga bisa berhemat.”

Lalu, pengeluaran kewajiban. “Ini cukup tricky,” katanya. Irshad menyarankan untuk mengobservasi terlebih dahulu dampaknya. Misalnya, karena menerima uang pesangon cukup besar, kamu langsung ingin melunasi seluruh utang KPR. Namun, bagaimana dengan memenuhi kebutuhan hidup ke depannya?

Oleh karena itu, lakukan hal-hal di bawah ini agar hidupmu bisa berjalan senormal mungkin.

Lunasi dulu utang yang dampaknya kecil

Seperti cicilan kartu kredit, KTA, dll, dan jangan menambah cicilan-cicilan yang sebenarnya tidak perlu. “Pengeluaran untuk premi asuransi jangan dihilangkan karena untuk proteksi risiko saat kondisi pandemik. Minimal miliki asuransi kesehatan dan bila masih mampu tambah asuransi jiwa,” ujarnya.

Perhatikan syarat dan ketentuan dalam polis asuransi

Seperti jangka waktu perlindungan, risiko apa saja yang dilindungi (apakah meliputi risiko terinveksi COVID-19), masa tunggu perlindungan. “Dan yang bagi sudah punya, pastikan asuransi yang dimiliki masih aktif,” lanjutnya

Sisihkan minimal tiga kali biaya pengeluaran bulanan dari uang pesangon, untuk dana darurat

“Karena kita tidak tahu sampai kapan kondisi pandemik ini berlangsung,” imbuhnya.

Selanjutnya atur strategi untuk mencari penghasilan kembali

Karena cepat atau lambat uang pesangon akan habis dan kebutuhan terus ada. Penghasilan bisa dari bikin usaha, melamar pekerjaan, atau sebagai freelancer. “Khusus untuk bikin usaha, bila modalnya berasal dari uang pesangon, jangan semua digunakan untuk jadi modal usaha karena pastinya ada porsi untuk bertahan hidup. Porsi untuk modal usaha disarankan 30% dan penggunaaanya 10% dulu agar bila usahanya bangkrut, masih punya cadangan untuk bikin usaha lagi.”

Memang,tidak mudah mendapatkan pekerjaan atau sumber penghasilan baru. Akan tetapi Irshad mengatakan bahwa untuk mencari penghasilan apa pun bisa dilakukan, asal tetap berpikiran positif, pantang menyerah, terus mencari inspirasi dan peluang. Jika mau mencoba membuka usaha, “dirikan usaha yang sesuai kemampuan, misal hobi menjahit. Hobi ini bisa membuka peluang untuk masa pandemik seperti sekarang ini, misalnya membuka usaha pembuatan masker kain atau pakaian APD. Atau menjadi distributor teknologi pendukung untuk WFH. Atau bisa juga menjual jamu untuk menaikan imun, dan sebagainya. Tapi ingat untuk berbisnis dengan harga yang wajar, jangan bunuh orang lain demi keuntungan diri sendiri,” sarannya.

Setelah punya penghasilan kembali

Entah itu dari usaha, diiterima kerja diperusahaan, atau sebagai freelancer, lanjutkan pengisian dana darurat.

Sekali lagi, dana darurat. Ini super penting. Pasalnya, “profesi apa pun yang dijalani selama kamu hidup, tidak ada yang menjamin aman finansial. Risiko apa pun bisa terjadi dan bisa mengancam ‘dompet’ kamu. Maka persiapkan pengaman dalam bentuk dana darurat dan asuransi minimal asuransi kesehatan dan bila mampu ditambah asuransi jiwa,” tekannya. Dan jangan lupa untuk “tetap bersyukur dengan apa yang dimiliki sekarang dan bisa dinikmati, karena tidak ada yang tahu suatu saat mungkin tidak bisa dinikmati lagi,” imbuhnya.

Selanjutnya: Ini yang harus kamu lakukan jika saham investasi menurun karena pandemik.

podcast button