Bagaimana Mempersiapkan Diri Menghadapi Kemungkinan di-PHK?

PHK
Foto: www.gettyimages.com

Silakan menyebut pesimis dan sinis, tapi sepertinya satu dari segelintir orang yang meraup untung saat ini adalah Jeff Bezos. Selebihnya, kebanyakan kita sedang dilanda ketakutan dan kekhawatiran akibat wabah COVID-19. Salah satunya, takut akan kemungkinan di-PHK. Dan ketika ketakutan ini menghampiri, bisa jadi yang memenuhi 75% dari benakmu adalah duit: bagaimana caranya membayar uang sewa? Bisakah makan? Bagaimana caranya menopang keluarga?

Berita bagus? Uh-uh, bukan sok optimis, tapi memang ada berita bagusnya jika kamu kemungkinan di-PHK dalam waktu dekat. LIMONE menghubungi Bareyn Mochaddin, S.Sy., M.H., RPP®Senior Financial Advisor AAM & Associates. Berikut persiapan keuangan yang bisa kamu lakukan untuk menghadapi situasi kelam.

Apa Hal Pertama yang Sebaiknya Dilakukan Saat Mendengar Perusahaan akan Melakukan PHK?

PHK
Foto: www.gettyimages.com

Menurut Bareyn, dalam dunia kerja memang tidak ada yang pasti. Bahkan bila posisi kamu adalah karyawan tetap, dengan posisi tinggi, di perusahaan ternama. “Oleh karenanya, penting untuk kita mempersiapkan diri menghadapi situasi apa pun yang akan terjadi di masa depan. Tidak hanya ketika ternyata ada desas-desus bahwa akan ada perampingan karyawan,” jelasnya.

Di sinilah, lagi-lagi pentingnya memiliki dana darurat yang cukup, yang asalnya dari uang yang disisihkan dari gaji bulanan. “Dengan memiliki dana darurat yang cukup, bilapun tiba-tiba ada PHK, maka kondisi keuangan kamu dan keluarga relatif mana,” terangnya. Dengan kata lain, kamu bisa tetap belanja bulanan, membayar listrik, air, internet dan kebutuhan kehidupan hidup lainnya.

Seberapa Banyak Dana Darurat yang Dimiliki agar Keuangan Aman?

kemungkinan di-PHK
Foto: www.istockphoto.com

Bareyn menjelaskan bahwa ada empat hal penting yang harus dipersiapkan untuk memastikan keuangan tetap aman bahkan saat menghadapi kemungkinan di-PHK.

√ Siapkan mental

“Adanya PHK tentu membuat mental seseorang menjadi labil, tidak menutup kemungkinan hal tersebut juga terjadi pada kamu. Kondisi mental yang labil akan membuat seseorang membuat keputusan-keputusan yang mungkin tidak dipertimbangkan dengan baik.”

Ini mengarah kepada untuk mempertimbangkan dengan baik sebelum membuat keputusan uang yang besar. Ini meliputi, misalnya jangan dulu memutuskan untuk berinvestasi, jangan dulu memutuskan untuk berbisnis, jangan dulu memutuskan untuk menjual rumah atau kendaraan. “Ambil dulu waktu untuk menenangkan diri,” sarannya.

√ Lakukan perencaan keuangan terhadap pesangon

Mungkin pesangon ini akan sebanyak satu kali gaji atau lebih. Namun yang terpenting adalah melakukan perencanaan keuangan yang baik dari uang pesangon yang kamu dapatkan. “Kamu harus merencanakan uang tersebut akan digunakan sebagai apa. Dan sebisa mungkin tahan dulu untuk membuat keputusan keuangan yang besar di masa kritis karena biasanya keputusan yang diambil tidak dipertimbangkan dengan baik,” terangnya.

Apakah bingung bagaimana merencanakan keuangan? Hubungi penasihat keuangan.

√ Siapkan dana darurat

Dana darurat ini sebaiknya cukup untuk kebutuhan kamu dan keluarga. “Untuk mengetahui berapa kebutuhan dana darurat yang cukup, kamu harus terlebih dahulu tahu berapa banyak uang yang cukup membiayai kebutuhan bulananmu. Hal inilah yang menentukan berapa besar uang yang harus dipersiapkan untuk menghadapi kondisi-kondisi darurat seperti PHK,” jelasnya.

Jika mengetahui hal tersebut, maka kamu harus tahu berapa banyak anggota keluarga yang harus ditanggung kebutuhannya setiap bulan. Bila masih singel, tentunya kebutuhannya berbeda dengan yang sudah berkeluarga.

Untuk singel, Bareyn menyarankan untuk setidaknya mempersiapkan dana darurat sekitar tiga kali biaya pengeluaran bulanan. Sementara bagi yang berkeluarga dan memiliki anak, setidaknya perlu mempersiapkan dana darurat sekitar enam sampai sembilan pengeluaran bulanan.

√ Siapkan asuransi kesehatan

Bila ternyata isu PHK semakin gencar dan kamu yang menjadi salah satu orang akan terkena PHK, hal lainnya yang perlu dipersiapkan adalah mencari asuransi kesehatan yang baru. Pasalnya, PHK tidak hanya menyebabkan kamu kehilangan gaji bulanan, tetapi juga kamu kehilangan fasilitas-fasilitas yang disediakan oleh perusahaan.

“Salah satu fasilitas yang penting adalah asuransi kesehatan.  Jangan sampai ada periode kosong di mana kamu tidak terlindungi asuransi kesehatan. Bayangkan kalau misalkan kamu baru di-PHK, belum dapat kerjaan dan salah satu anggota keluarga harus masuk rumah sakit. Tentu kondisi ini akan membuat kamu kelabakan dalam hal biaya. Jadi, pastikan kamu setidaknya memiliki BPJS. Dan bila dirasa ini tidak cukup, maka bisa mencari asuransi-asuransi kesehatan yang banyak disediakan oleh perusahaan swasta yang ada di pasaran,” terangnya.

Jenis Kebutuhan dan Pengeluaran Apa yang Harus Diutamakan Jika di-PHK?

kemungkinan di-PHK
Foto: www.istockphoto.com

Bila ternyata kamu di-PHK, kehilangan gaji bulanan dan harus mengandalkan dana darurat, maka memang harus memilah dan memilih mana pengeluaran yang penting dan yang tidak penting.

“Kebutuhan dan pengeluaran yang harus diutamakan adalah kebutuhan-kebutuhan yang menyangkut dengan keberlangsungan hidup. Artinya, tanpa memenuhi hanl-hal ini, kehidupan kamu akan terganggu. Di antaranya adalah uang belanja kebutuhan pokok, uang untuk bayar listrik, air dan internet. Selain itu, uang untuk sekolah anak, dan uang untuk belanja hal lainnya yang menyangkut keberlangsungan hidup kamu,” ujarnya.

Sementara kebutuhan yang bisa ditunda adalah pengeluaran yang bisa ditunda adalah pengeluaran yang berhubungan dengan hiburan dan investasi. “Di saat-saat kritis setelah di-PHK, sebisa mungkin kurangi dulu jalan-jalan di mal, ke luar kota dan arisan,” anjurnya.

Bagaimana dengan investasi? “Dan di saat-saat seperti ini, lebih penting bagi kamu bertahan hidup daripada berinvestasi. Jadi, gunakan kamu untuk menutupi kebutuhan bulanan dulu saja. Investasi bisa ditunda dan dilakukan nanti setelah kondisi ekonomi kembali stabil,” jelasnya.

Oh, oh, bagaimana dengan utang? Ini pun bisa ditunda. “Karena khusus untuk situasi pandemi seperti ini, OJK sudah memeberikan surat edaran kepada bank dan leasing untuk bisa memberikan keringanan atas pinjaman-pinjaman yang ada. Terutama bagi mereka yang terkena dampak pandemi COVID-19 secara langsung. Tapi ingat, ini tidak otomatis berlaku bagi kamu karena kamu juga harus melakukan pengajuan kepada bank atau leasing disertai dokumen-dokumen pendukung yang menyatakan bahwa saat ini kamu sedang dalam kesulitan.”

Intinya, jika memungkinkan: lakukan negosiasi perpanjangan masa kredit sehingga jumlah cicilan menjadi lebih ringan. Atau ajukan permohonan libur cicilan pokok sehingga kamu hanya membayar bunga, atau bahkan mendapat libur cicilan sekaligus bila kondisi kamu semakin parah.

“Intinya, jangan lari dari tanggung jawab karena lembaga pemberi pinjaman baik bank atau leasing akan melihat itikad baik dari kamu sebagai peminjam,” lanjutnya.

Bagaimana Jika Tidak Punya Dana Emergensi?

kemungkinan di-PHK
Foto: www.istockphoto.com

“Untuk yang tidak punya sama sekali, tidak perlu terlalu khawatir karena ketika di-PHK, karyawan yang terkena PHK kan diberikan pesangon oleh perusahannya. Jadi, yang perlu dilakukan adalah mengunakan dana pesangon tersebut sebaik-baiknya,” jelasnya.

Bila tidak mendapat pesangon yang cukup, maka yang bisa dilakukan adalah menjual beberapa barang yang masih ada nilainya. Lalu, gunakan hasil penjualan yang didapat untuk menutupi kebutuhan sampai memiliki pekerjaan baru.

“Jangan dianggap sulit bahwa menjual barang itu harus motor, mobil atau emas,” katanya. Kamu mungkin bisa menjual sepeda yang masih bagus tapi sudah jarang dipakai. Atau televisi yang tidak pernah dipakai lagi. Atau jika memiliki dua ponsel, menjual salah satunya.

Dan bila ternyata uang pesangon dan dana darurat sudah habis dan belum mendapat pekerjaan baru, maka utang adalah langkah selanjutnya yang diambil untuk menutupi biaya kebutuhan bulanan.

“Tetapi pinjaman online bukanlah pilihan pertama untuk berutang.  Pinjaman online cepat cair adalah jenis pinjaman yang tidak memerlukan jaminan yang akan membebankan bunga yang besar kepada peminjam,” sarannya.

Bila kamu ingin mencari utang, maka carilah pinjaman yang disertai jaminan mendapatkan bunga lebih ringan, seperti pegadaian.

Atau, ajukan pinjaman pada teman atau keluarga disertai jaminan berupa perhiasaan atau barang. “Tapi selalu ingat untuk membayar pinjamannya tepat waktu karena kepercayaan dari mereka mahal harganya,” sarannya.

Pastinya, selalu cek besar bunga, denda jika terlambat membayar. Juga, cek apakah lembaga pemberi pinjaman terdaftar resmi dan diawai oleh OJK.

“Jangan sampai kamu meminjam dari lembaga pemberi pinjaman yang ilegal. Tentu kamu tidak mau ‘kan dikejar-kejar debt collector yang tidak beretika ketika menagih utang?” ujarnya.

Saat Seperti Ini, Lebih Baik Menggunakan Kartu Kredit atau Uang Tunai?

kemungkinan di-PHK
Foto: www.gettyimages.com

“Satu hal yang harus kita ‘pegang’ baik-baik adalah kartu kredit merupakan alat pembayaran, bukan merupakan hadiah, dana tambahan atau tambahan penghasilan,” Bareyn mengingatkan.

“Kita boleh menggunakan kartu kredit selama kita memiliki dana setara tunai yang tersimpan di rekening kita. Di masa pandemi seperti saat ini, kita boleh menggunakan kartu kredit untuk meminimalisir penggunaan uang tunai pada saat bertransaksi untuk mengurangi risiko penyebaran virus. Akan tetapi jangan menggunakan kartu kredit dulu untuk menambah cicilan baru. Sangatlah tidak bijak bila pada situasi sulit kita menambah utang baru. Soalnya, belum tentu kisa bisa membayar cicilannya. Dan bilapun kita bisa membayar cicilannya, artinya kita mengurangi jumlah dana yang bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan bulanan,” tegasnya.

Selanjutnya: dan ini saran dari psikolog bagaimana cara membantu pasangan jika dia dipecat.