Apa yang Harus Orangtua Lakukan Sebelum Menawarkan Pilihan Homeschooling kepada Anak?

homeschooling
Foto: www.gettyimages.com

Entah karena pandemi yang membuat si kecil belajar dari rumah atau karena mendapat pencerahan, kamu sepertinya ingin menawarkan pilihan homeschooling kepada anak. Eits, jangan terlalu cepat mengambil keputusan. Sebelum mengambil keputusan final, lakukan dulu riset dan investigasi. Jika hal ini yang sedang kamu lakukan, kamu berada di laman yang tepat. Coba baca penjelasan Michelle Melinda, M.Psi., Psikolog., seorang psikolog pendidikan di biro konsultasi Nest Psikologi, Bumi Serpong Damai dan di Sekolah Hati Suci Jakarta Pusat.

Apa Itu Homeschooling?

homeschooling
Foto: www.freepik.com

Jika melirik namanya, “kita dapat bilang bahwa sekolah di rumah atau tidak menyekolahkan anak di institusi formal seperti sekolah,” jelasnya kepada LIMONE.

Lebih lanjut, Michelle menjelaskan bahwa homeschooling memiliki berbagai jenis, di antaranya:

  • Ada yang orangtuanya sendiri menjadi guru dan mengajarkan anaknya di rumah, atau
  • Ada institusi non formal yang menyediakan homeschooling, atau
  • Orangtua memanggil guru privat untuk mengajarkan anaknya di rumah.

Jika dibandingkan dengan sekolah formal biasa, homeschooling bisa hanya memiliki kurang dari lima orang dalam satu kelas. Meski, hal ini tergantung sepenuhnya kepada institusi tersebut dan juga kebutuhan anak.

Bagaimana dengan metode pengajarannya?

“Metode pengajaran ditentukan sendiri tergantung kepada kebutuhan anak dan juga pengajar, namun masih merujuk pada kurikulum yang berlaku di negara masing-masing,” jawabnya.

Apa Kelebihan dan Kekurangan Homeschooling Dibandingkan Sekolah Biasa?

homeschooling
Foto: www.freepik.com

Pertama-tama, mari membahas kelebihan homeschooling. Menurut Michelle ada beberapa kelebihan sistem sekolah di rumah ini dibandingkan dengan sekolah formal biasa. Di antaranya:

  • Anak Lebih Diperhatikan

“Bagi anak yang memiliki masalah belajar, homeschooling dapat menjadi salah satu alternatif karena di homeschooling pengajar (bisa guru atau orangtua) lebih fokus dalam memperhatikan anak muridnya satu per satu dan mengetahui kebutuhan anak dalam belajar seperti apa,” jelas Michelle.

  • Tidak Rentan terhadap Perundungan

“Adapun beberapa penelitian mengatakan bahwa dengan belajar di rumah, anak tidak rentan terhadap isu bullying di sekolah,” imbuhnya.

  • Jadwal yang Fleksibel

“Dengan jadwal yang fleksibel, anak dan pengajar dapat menentukan sendiri pelajarannya yang sesuai dengan minat anak,” jelasnya.

itu tadi adalah sejumlah kelebihan sistem sekolah di rumah ini . Lalu bagaimana dengan kekurangannya?

“Kekurangannya adalah kurang terpapar social life yang seumuran dengan anak, ada resiko kurangnya kemampuan kerja sama, dan sifat kompetitif pada anak. Hal-hal ini biasa didapatkan oleh anak yang biasa belajar di sekolah formal,” paparnya.

Bagaimana memastikan anak tetap memiliki kemampuan sosial yang baik meski menempuh pendidikan sekolah di rumah?

“Orangtua  atau pengajar harus kreatif dalam memberikan pengajaran agar anak tetap terpapar dalam hal social skill dan tetap mendapatkan teman sebaya. Contohnya dengan mengikutkan anak pada les-les yang bersifat akademis atau non-akademis, mengajak anak melakukan kegiatan sosial, atau belajar bersama dengan anak lain yang juga belajar dengan homeschooling,” saran Michelle.

Siapa yang Dianjurkan Melakukan Sistem Sekolah Ini?

homeschooling
Foto: www.freepik.com

Sama seperti intermittent fasting bukan untuk semua orang, homeschooling juga memiliki prinsip itu.

Sebagai seorang psikolog pendidikan, Michelle menerangkan bahwa homeschooling dianjurkan kepada:

  • Anak yang memiliki kebutuhan khusus dalam masalah belajar, sehingga pengajar dapat menemukan metode pengajaran yang tepat bagi anak tersebut.
  • Anak yang memiliki kegiatan lain atau kesibukan seperti atlit atau artis yang membuatnya sulit mengikuti sekolah formal, homeschooling dapat menjadi alternatif, katanya.
  • Jika anak menyukai metode belajar yang tidak kaku, maka ia bisa mengikuti metode homeschooling.
  • Anak yang memiliki traumatis di sekolah biasa karena masalah bullying atau kesulitan mengikuti pelajaran di sekolah

Aspek Apa yang Sebaiknya Dipertimbangkan Orangtua?

Foto: www.freepik.com

Oleh karena apakah menempuh homeschooling atau tidak merupakan sebuah keputusan yang besar yang akan mengubah hidup anak dan orangtua, ada banyak hal yang mesti dipertimbangkan. Uh-uh. Banyak. Di antaranya.

#1. Komitmen

Ini adalah aspek pertama yang harus orangtua pikirkan dan pertimbangkan baik-baik, terutama jika memiliki peran ganda, yakni sebagai orangtua dan juga sebagai pengajar.

“Dalam metode homeschooling, orangtua memegang kendali penuh terhadap pendidikan, perkembangan sosial, proses tumbuh kembang anak dan metode pengajaran pada anak secara menyeluruh. Oleh karenanya, penting bagi orang tua untuk memastikan semua hal tersebut dapat dipenuhi dengan baik,” tekan Michelle.

#2. Pilihan metode belajar yang sesuai dengan kebutuhan anak

Orangtua perlu mengetahui kebutuhan dasar belajar pada anak, dan metode belajar dan pengajaran apa yang cocok untuk anak.

#3. Biaya

“Biaya yang dibutuhkan dan dikeluarkan pasti berbeda dengan sekolah biasa. Oleh sebab itu, orangtua perlu mengetahui dan memperhitungkan masalah biaya dari sebelumnya.

#4. Tujuan yang ingin dicapai

“Orangtua dan anak perlu menentukan tujuan yang ingin dicapai bersama dalam melaksanakan homeschooling. Jika memang anak berbakat di bidang olahraga atau musik, maka pastikan bahwa anak fokus di bidang tersebut,” ujarnya memberi contoh.

Apakah Anak Perlu Dilibatkan?

Foto: www.freepik.com

Seandainya kamu butuh diingatkan, dalam hal homeschooling salah satu individu yang sangat terlibat adalah… anak.

Ini artinya, “sebaiknya sejak awal ingin melakukan homeschooling, orangtua perlu melibatkan secara aktif diskusi bersama dengan anak,” tegas Michelle.

Orangtua memiliki kewajiban untuk menerangkan secara menyeluruh tentang kelebihan dan kekurangan dari homeschooling. “Ia juga perlu paham seperti apa metode pengajaran yang akan berlangsung selama belajar dengan homeschooling ini,” tambahnya.

“Keterlibatan anak tentu menjadi penting karena jika anak merasa tidak cocok dengan metode pengajaran, atau sistem homeschooling, maka anak tidak akan dapat belajar dengan maksimal. Hal ini akan menjadi sia-sia. Oleh sebab itu, sejak awal ingin menggunakan metode homeschooling, orangtua perlu mengajak anak untuk berdiskusi secara aktif dan terbuka,” tekannya.

Apa yang sebaiknya dilakukan oleh orangtua jika setelah diskusi panjang kali lebar kali tinggi, anak menolak homeschooling?

“Jika anak tidak menginginkan homeschooling, mungkin orangtua perlu mendengarkan juga alasan anak, dan tidak perlu memaksakan. Bisa juga dengan mencoba dulu selama 1 tahun untuk melihat apakah anak nyaman dan dapat belajar dengan metode homeschooling,” anjurnya.

Untuk memastikan masih tetap nyaman dan dapat belajar dengan saat homeschooling, orangtua dan anak bisa melakukan review.

Review perlu dilakukan sebaiknya selama 3-4 bulan sekali,” sarannya.

Dan saat review, selalu libatkan anak.

“Kembali lagi, bahwa diskusi secara aktif dan terbuka antara anak dan orangtua perlu dilakukan. Orangtua perlu mendengarkan juga pendapat anak. Jika anak merasa tidak nyaman dengan metode homeschooling yang berlangsung, maka orangtua dan anak perlu bersama-sama mencari metode yang dirasa cocok oleh anak. Jangan lupa, keterlibatan anak menjadi krusial demi keberhasilan anak,” tekannya.

Selanjutnya: Ini tips sabar saat membantu anak belajar di rumah.

podcast button