Bagaimana Memperkenalkan Konsep Pacaran kepada Anak Remaja?

pacaran adalah
Foto: www.istockphoto.com

Untuk kamu yang sedang memiliki anak yang sudah beranjak remaja, bagaimana pengalamannya sejauh ini? Cemas, bingung, dan khawatir? Apalagi tentang anak pacaran. Tenang, kamu tidak sendirian.

"Salah satu kecemasan orang tua dalam menghadapi putra-putrinya yang sudah beranjak remaja adalah kompleksitas emosional yang seperti roller coaster dan masa pubertas yang mana mereka sudah mengenal lawan jenis. Bahkan sudah mencoba menjalin hubungan seperti berpacaran," kata Clorinda Vinska, S.Psi, M.Psi., Psikolog Anak dan Pendidikan di Rumah Konsultasi Anak dan Keluarga.

Ouch, pacaran. "Tentunya para parents mulai merasa cemas karena khawatir takut gaya pacaran sang anak kelewat batas, melanggar norma agama dan norma sosial yang akhirnya bisa merusak masa depannya," jelasnya.

Jadi, apakah sebaiknya dilakukan? Yuk,, simak penjelasan psikolog tentang anak pacaran dan bagaimana cara menyikapinya.

Apa Sebenarnya Arti Pacaran?

pacaran adalah
Foto: www.freepik.com

Clorinda menjelaskan pengertian pacaran merupakan suatu upaya seseorang dalam menjalin relasi dengan lawan jenis dan melakukan serangkaian aktivitas bersama agar dapat saling mengenal satu sama lain.

"Sebuah temuan yang diterbitkan oleh jurnal Nature Neuroscience menunjukkan bahwa sistem saraf manusia itu dapat terkoneksi dengan sangat baik kalau berada di dalam sebuah relasi yang sehat dengan manusia lain," jelasnya.

Bagaimana Memperkenalkan Konsep Pacaran kepada Anak Remaja?

Foto: www.freepik.com

Ah, ini pasti bukan sesuatu yang mudah.

Menurut Clorinda perlu mengawalinya dengan berusaha untuk dapat membuka diri, sehingga anak-anak pun pelan-pelan akan dapat lebih membuka dirinya. "Saat anak sudah lebih membuka diri, komunikasi pun tercipta dengan baik, maka akan lebih mudah bagi orang tua untuk memberikan masukan mengenai konsep pacaran," imbaunya.

"Orang tua bisa memberikan pemahaman bahwa ada lho, konsep pacaran yang sehat, di mana pacaran di fase remaja ini merupakan hubungan yang dapat membantu kedua pihak menjadi lebih baik secara pribadi, akademis, sosial serta terhindar dari hal-hal yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain," lanjutnya.

Perlukah Membahas tentang Pendidikan Seks?

Foto: www.freepik.com

"Tentunya orang tua pun membekali anak mengenai sex education sedini mungkin. Sehingga di usia remaja, orang tua butuh memberikan pemahaman mengenai pubertas seperti menstruasi dan mimpi basah. Bahwa hal ini bisa terjadi pembuahan apabila terjadi hubungan intim," terangnya.

Baca Juga :  Apakah Mood Swing Sesuatu yang Perlu Diobati ?

Clorinda juga mengingatkan orang tua untuk tidak lupa untuk membahas mengenai apa yang mungkin terjadi saat seorang anak perempuan sudah menstruasi dan anak laki-laki sudah mimpi basah. "Anak butuh tahu mengenai risiko-risiko dari pacaran yang tidak sehat seperti kehamilan, penyakit seksual, pernikahan dini, anggapan yang negatif dari masyarakat, dan masih banyak lagi," paparnya.

Selain itu, sangat penting bagi para orang tua untuk "menekankan pada anak remajanya bahwa ia adalah anak yang spesial, yang dapat merawat dan menghargai tubuhnya dengan baik," dengan cara:

  • Berpakaian rapi dan bersikap sesuai.
  • Menjaga dan menghormati tubuh.
  • Membersihkan tubuh dengan baik.
  • Menghindari hubungan intim hingga ia dewasa.

"Anak remaja perlu aware dengan dirinya, sehingga ia akan bertanggung jawab dengan tubuh dan alat genitalnya. Semakin sering orang tua membicarakan perubahan seks sekunder pada anak, maka akan memudahkan anak menerima perubahan dari anak ke remaja yang mengalami krisis," tegasnya.

Kesalahan-kesalahan Apa yang Sebaiknya Dihindari Orang Tua Saat Membicarakan tentang Pacaran?

pacaran adalah
Foto: www.freepik.com

"Cukup banyak orang tua yang datang konseling dengan saya dan mengkhawatirkan anak remajanya yang sudah mulai berpacaran. Khawatir memang wajar, namun kalau khawatirnya sudah berlebihan menjadi tidak wajar," ungkapnya.

Lebih lanjut Clorinda menjelaskan bahwa kebanyakan cenderung tegang dan menjadi sangat waspada kepada anak remajanya, contohnya seperti sering memarahi dan banyak larangan. Sehingga anak pun cenderung menghindar dan banyak menutupi apa yang terjadi pada dirinya.

"Untuk para orang tua, yuk kita coba refleksikan: kalau dipikir-pikir lagi kita pun nggak suka 'kan kalau dilarang-larang? Nggak suka kan kalau didikte? Kesal banget rasanya kan," ujarnya.

Selain itu, ada juga "orang tua yang memberikan aturan tapi hubungan dengan tidak terjalin dengan baik, maka biasanya anak akan cenderung memberontak karena merasa lelah terlalu diatur," tambahnya.

"Pada prinsipnya 'kita butuh memahami anak, tapi kita tidak harus menyetujui'. Mengapa? Karena sebagai orang tua kita mempunyai pertimbangan masing-masing mengenai aturan dan batasan yang jelas, supaya anak remaja kita nggak bablas," tekannya.

Baca Juga :  Tanya Ahli: Bagaimana Cara Menghilangkan Rasa Malas Pada Anak?

Perlukah Orang Tua Memberi Aturan tentang Pacaran?

Foto: www.rawpixel.com

"Menjadi orang tua anak remaja memang tidak mudah, fase ini lah yang paling menguji kesabaran dan kewarasan orang tua," kata Clorinda.

Oleh karena itu, rang tua perlu mengusahakan untuk tetap menjalin hubungan yang positif dan komunikasi yang terbuka dengan anak remajanya. "Agar anak tahu bahwa orang tuanya adalah tempat yang aman baginya, sehingga ia dapat menceritakan apa pun yang ia inginkan, dan dapat mendiskusikan hal-hal yang ia rasakan atau pikirkan dengan nyaman."

Kenapa ya, sesi diskusi ini penting?

"Tubuh anak remaja memang sudah berkembang seperti orang dewasa, namun otaknya belum berkembang dengan matang. Bagian otak yang bernama dorsal lateral prefrontal cortex, berfungsi untuk membuat keputusan dan mempertimbangkan berbagai hal. Bagian otak ini lah yang belum cukup matang hingga ia berusia 18-21 tahun. Oleh karena itu, anak remaja sangat mungkin terjerumus pada pertimbangan yang salah atau keputusan yang tidak tepat mengenai dirinya, pilihannya dan perilakunya," jelasnya.

Selain itu, Clorinda menjelaskan, anak remaja masih dipengaruhi oleh emosi, sehingga anak remaja masih membutuhkan orang tuanya agar dapat membantunya dalam meregulasi emosinya dengan baik.

Nah dengan adanya diskusi-diskusi tersebut, "orang tua dapat lebih mudah untuk memberikan pandangan dan pendapat. Sehingga orang tua dapat menerapkan nilai dan batasan yang disepakati bersama-sama dengan anak," ungkapnya.

Jika kamu bingung apa yang perlu ditanyakan dalam diskusi ini, Clorinda menyarankan untuk mengajukan hal berikut dan minta pendapat anak tentang:

  • Apa itu pacaran?
  • Apa saja perilaku berpacaran itu?
  • Di usia berapa anak boleh pacaran,ya?
  • Lalu menyepakati bersama apa yang menjadi batasan boleh dan tidak boleh terkait values setiap orang tua dan keluarga masing-masing. 

"Ketika kita melibatkan anak, kita tanya pendapatnya, kita dengarkan secara seksama, anak akan merasa bahwa ia dihargai, diakui kalau dirinya sudah besar, dan merasa dilibatkan dalam pengambilan keputusan mengenai dirinya," jelasnya.

Bagaimana dengan Orang Tua yang Melarang Anak Pacaran?

Foto: www.freepik.com

"Di fase remaja, anak secara alamiah akan mulai mencari lawan jenisnya. Hal ini dapat terjadi karena hormon-hormon yang ada pada tubuh anak yang mulai berkembang. Hormon-hormon inilah yang mendorong dirinya untuk mulai mendekati lawan jenisnya," tutur Clorinda.

Baca Juga :  Semangat Hidup Turun, Bagaimana Cara Meningkatkannya?

Ini artinya, "orang tua pun butuh berbesar hati menerima bahwa anak sudah berkembang menjadi pribadinya sendiri dan mulai membentuk identitasnya. Supaya menjadi orang tua yang demokratis, yang bisa dilakukan adalah memahami apa yang anak rasakan dan apa yang ia pikirkan dengan mengajak bicara secara langsung," ucapnya.

Orang tua demokratis, tapi bukan berarti melupakan nilai yang dianut oleh keluarga.

"Namun kembali lagi pada values setiap orang tua dan keluarga karena memiliki pandangan yang berbeda-beda. Penting untuk saling berdiskusi terlebih dahulu antara suami dan istri untuk dapat menentukan nilai dan prinsip yang akan dijalankan bersama," ungkapnya.

Seandainya kamu ingin menyampaikan rasa keberatan untuk anak berpacaran terlalu dini, kamu bisa menyampaikannya dengan kalimat: “Kalau Mama dan Papa pinginnya kamu pacaran itu saat sudah kuliah Nak, supaya kamu bisa menikmati keseruan kamu bersama teman-teman.”

Atau bisa ditambahkan lagi:

“Nanti akan ada saatnya kamu akan ketemu pujaan hati kamu Nak, percaya deh sama Mama Papa. Kalau dipaksakan sekarang nanti kamu jadi nggak bebas mau main sama teman-teman kamu, sayang banget 'kan kamu kehilangan momen itu."

Kesimpulan

pacaran adalah
Foto: www.freepik.com

Merupakan sesuatu yang normal jika anak yang beranjak remaja dan dewasa memperlihatkan rasa ketertarikan terhadap lawan jenisnya, dan mungkin ingin pacaran. Dalam hal ini, orang tua perlu membicarakannya dengan anak, bahkan jika orang tua kurang setuju.

"Jika ada komunikasi dua arah yang terjalin dengan baik, maka anak akan mengerti apa yang yang menjadi alasan orang tuanya melarang berpacaran. Orang tua pun perlu berempati dengan perasaan tidak nyaman anak, dan paham bahwa orang tua perlu hadir di sisi anak dan menemani serta membantunya menjalani masa-masa ini," ujarnya.

Mungkin fase remaja adalah fase penuh tantangan buat orang tua.

"Sesulit-sulitnya perilaku anak remaja kita, kita nggak boleh menyerah, ya. Kita usahakan terus untuk tetap menjalin hubungan yang positif. Kita juga butuh menyadari kapan kita sudah butuh bantuan ahli. Saat kita sudah berusaha melakukan semua hal yang kita tahu, namun kita masih sulit untuk berkomunikasi dengan anak dan anak pun semakin sulit mengontrol emosinya, maka segeralah ke Psikolog untuk mendapatkan bantuan," anjurnya.