Bagaimana Mengenali Munculnya Orang Ketiga dalam Sebuah Hubungan?

orang ketiga
Foto: www.unsplash.com

Perselingkuhan merupakan hal yang dibenci oleh banyak orang. Munculnya orang ketiga dalam sebuah hubungan yang istilah kekiniannya disebut pelakor (perebut laki orang) atau pebinor (perebut bini orang) ini dapat menimbulkan keretakan sebuah hubungan.

Lantas bagaimana orang ketiga bisa muncul dalam sebuah hubungan? Bagaimana ciri-ciri hubungan yang dihampiri orang ketiga? Bagaimana menangani adanya orang ketiga dalam hubungan? Ah, banyak pertanyaan ya, kalau tentang orang ketiga.  

Untuk mengetahui jawaban dari pertanyaan di atas, bac terus penjelasan lengkap dari psikolog klinis dewasa dari TigaGenerasi, Alfath Hanifah Megawati, M.Psi., Psikolog.

Siapakah Orang Ketiga itu?

orang ketiga
Foto: www.pixabay.com

“Secara umum, orang ketiga adalah orang di luar relasi yang terlibat atau melakukan intervensi dalam relasi tersebut. Jika dikaitkan dengan konteks relasi romantis, maka orang ketiga diidentikan dengan ‘selingkuhan’ atau orang ketiga bisa jadi orang yang terlibat dengan hubungan dekat dengan salah satu pasangan,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa kedekatan ini dapat mengganggu kenyamanan pasangannya yang lain atau kualitas dari hubungan yang sedang dijalani. Maka orang ketiga tidak selalu menjadi ‘selingkuhan’ yang memang diakui dan intensional atau disadari jalinan hubungan perselingkuhannya oleh pasangan.

Hadirnya orang ketiga dalam sebuah hubungan bisa jadi hanya berawal dari teman atau sahabat. Namun lama-kelamaan kedekatannya menjadi sesuatu yang bias, di mana tidak lagi terlihat seperti hubungan pertemanan atau persahabatan.

“Apalagi jika pasangan kita nantinya mulai memprioritaskan hubungan tersebut (dibandingkan hubungan kita) pada banyak situasi, bukan hanya di situasi urgen yang memang hubungan tersebut layak diprioritaskan,” tambahnya.

Apa yang Menyebabkan Seseorang Menjadi Orang Ketiga dalam Hubungan Orang Lain?

orang ketiga
Foto: www.unsplash.com

Pada konteks hubungan, istilah perselingkuhan dalam bahasa inggris disebut affair, sementara selingkuhannya disebut mate poacher. Menurut Alfath, terdapat beberapa faktor penyebab mengapa seseorang ingin menjadi orang ketiga, yakn:

  • Diabaikan oleh figur ayah

Pada perempuan yang memiliki pengalaman diabaikan oleh figur ayah, perasaan diabaikan ini mengembangkan kepercayaan bahwa satu-satunya cara untuk menguatkan perasaan dicintai adalah ketika laki-laki mau meninggalkan sang pasangan demi dirinya.

  • Terjebak dalam dunia emosinya sendiri

Kondisi ini membuat seseorang menjadi egosentris dan hanya berfokus pada kenyamanan dirinya saja. Sehingga kondisi ini membuat orang tersebut tidak peduli apakah perilakunya salah atau bahkan menyakiti orang lain.

  • Berkembangnya perasaan inferior yang kompleks

Dalam sebuah penelitian yang pernah dilakukan, ditemukan bahwa seorang mate poacher biasanya memiliki perasaan inferior yang tinggi, di mana menganggap dirinya tidak mampu atau tidak berharga dalam sebuah hubungan romantis. 

“Sehingga ketika dia mendapatkan seseorang yang mencintai dirinya, mereka akan melakukan banyak hal untuk tetap berada dalam hubungan tersebut karena hal tersebut mengangkat ketidakberdayaan yang mereka miliki” ungkapnya.

  • Frustasi dalam pemenuhan kebutuhan diri

Seorang mate poacher mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan dirinya sendiri, baik itu kebutuhan afeksi, seksual, bahkan kebutuhan untuk merasa bahwa dirinya berharga atau diperjuangan oleh orang lain. Selain itu, banyak perselingkuhan yang terjadi karena alasan finansial atau ekonomi.

Mengapa Orang Ketiga Bisa Muncul dalam Sebuah Hubungan?

Foto: www.rawpixel.com

“Tidak ada perselingkuhan yang diawali dengan niat. Maka dari itu kemunculan orang ketiga biasanya adalah hal yang tidak disadari awalnya. Pertama, hanya kedekatan biasa, kedua mulai nyaman dengan kedekatan tersebut, ketiga muncul rutinitas yang membentuk kebiasaan, baru kemudian hubungan semakin mendalam dari satu atau beberapa aspek seperti emosional atau seksual,” ujarnya. 

Munculnya orang ketiga dalam sebuah hubungan sebenarnya bukan hanya andil dari orang ketiga atau pasangan yang dekat dengannya. Namun berkembangnya hubungan pasangan dengan orang ketiga ini biasanya didahului oleh ketidakpuasan yang dimiliki seseorang terhadap hubungan atau pasangan yang dimilikinya saat ini. 

Sehingga ketidakpuasan ini dapat menjadi berkembang jika hubungan yang dijalani seseorang berjalan dengan tidak sehat. Ia dan pasangan merasa gagal memenuhi kebutuhan satu sama lain, permasalahan komunikasi dalam hubungan. Bisa juga berasal dari karakteristik seseorang yang memang tidak puas dengan hubungan tunggal sehingga berusaha menemukannya dengan menjamin hubungan lain.

“Melakukan upaya untuk menghindari kehadiran orang ketiga dalam hubungan kita adalah hal yang mungkin. Yang tidak mungkin adalah memastikan bahwa itu tidak akan pernah terjadi. Tidak ada yang dapat memastikan masa depan, yang bisa kita lakukan adalah mengupayakan hari ini,” tuturnya.

Bagaimana Ciri-ciri Munculnya Orang Ketiga dalam Sebuah Hubungan?

Foto: www.freepik.com

Alfath menuturkan bahwa menurut Grass (2003), terdapat tiga ciri-ciri perselingkuhan dalam sebuah hubungan, yakni:

1. Keintiman emosional

Adanya kedekatan emosional yang intens dapat dikenali jika ada orang lain terlibat dalam kehidupan emosional pasangan kita atau sebaliknya. “Misalnya ia mengetahui apa yang terjadi pada pasangan kita, atau pasangan kita lebih terbuka kepadanya di banding ke kita, memprioritaskan pasangan kita dalam banyak situasi atau sebaliknya, menuntut pasangan kita untuk hadir ketika ia memerlukannya,” jelasnya..

2. Kerahasiaan

Adanya pertemuan atau komunikasi yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi yang terjadi dalam banyak waktu dan dilakukan secara berulang. “Walaupun tidak semua kejujuran itu baik bagi hubungan, namun mengulang kebohongan akan menghancurkan hubungan itu lambat-laun,” katanya.

3. Ketertarikan seksual

Ketertarikan ini tidak selalu muncul dalam perselingkuhan yang terjadi. Seperti ia dan pasangan kerap melakukan sentuhan fisik baik dalam hubungan seksual ataupun kurang dari itu. 

Bagaimana Cara Menangani Orang Ketiga dalam Sebuah Hubungan?

Foto: www.unsplash.com

Ketika telah mencurigai adanya orang ketiga dalam hubungan yang sedang dijalani, maka psikolog klinis dewasa ini menyarankan untuk melakukan beberapa hal, yakni:

Mengumpulkan bukti

Sebelum melakukan konfrontasi, ada baiknya untuk mengumpulkan bukti sebanyak-banyaknya. Hal ini untuk menghindari penilaian subjektif atau emosional terkait dengan relasi pasangan dan orang ketiga.

Menstabilkan diri

Meski bukti yang dimiliki akan membuatmu marah atau sedih, kamu perlu menstabilkan diri. Jangan membuat keputusan besar ketika sedang emosional. “Agar kita bisa merasa cukup tenang, carilah teman berbagi yang cukup nyaman dan bijaksana dalam memandang suatu masalah. Pertimbangkan baik dan buruknya jika hubungan tetap dijalani atau diakhiri,” sarannya.

Komunikasikan dengan pasangan

Ajaklah pasangan untuk mengomunikasikan hal dengan mempertimbangkan timing, situasi, dan bahasa. Mencari waktu di mana kedua belah pihak memiliki waktu lenggang dan dalam kondisi yang fit, baik secara fisik maupun emosi. Lalu mencari tempat nyaman dan aman, serta mengatur pemilihan bahasa agar tidak menyudutkan pasangan. 

“Berlatihlah untuk mengutarakan apa yang ada di dalam diri kita secara asertif dengan ‘I messages’ yang berorientasi pada apa yang dirasakan dan pikirkan, berkaitan dengan spesifik perilaku dari pasangan. Jadi tidak melabel pasangan secara pribadi ya, misalnya ‘kamu itu menyakiti aku! Tega banget kamu berbuat itu!,’” bebernya.

Buat komitmen dengan pasangan

Pemaparan bukti-bukti yang telah dikumpulkan bisa saja dibantah oleh pasangan atau diakui. Namun, jika intensinya adalah memperbaiki hubungan yang sedang dijalani, maka mengakuinya atau tidak bukan menjadi hal yang utama. 

“Hal yang utama adalah komitmen yang akan dijalani setelahnya. Perubahan tidak hanya fokus dengan apa yang harus pasangan ubah dari dirinya, tapi juga tentang apa yang dapat kita ubah dari diri kita sehingga perilaku pasangan yang membuat kita tidak nyaman tidak terulang kembal. Atau agar kita dan pasangan sama-sama belajar memenuhi kebutuhan satu sama lain dengan tepat,” pungkasnya.

Pertimbangkan opsi break atau putus

Jika kehadiran orang ketiga dalam hubunganmu adalah hal yang berulang, maka kamu dapat mempertimbangkan opsi break atau putus dengan pasangan. Terlebih ketika komitmen-komitmen yang telah disepakati sebelumnya justru selalu dilanggar berulang kali. 

“Takar kembali apakah hubungan ini cukup berharga untuk dipertahankan? Cukup membuatmu berkembang ke arah positif? Cukup memenuhi apa yang kamu perlukan sebagai individu?  Ambillah waktu sejenak dengan dirimu sendiri sebelum memutuskan apa yang terbaik bagi dirimu sendiri,” anjurnya.

Jika Kita yang Menjadi Orang Ketiga, Apa yang Perlu Dilakukan?

Foto: www.unsplash.com

“Tanya ke dalam diri kita, apakah hubungan ini benar-benar membuatmu nyaman? Membuatmu bahagia? Memenuhi kebutuhanmu? Atau sebenarnya ini adalah cara yang keliru untuk dirimu sendiri? Jika lebih banyak buruknya untuk dirimu dan orang lain, maka kumpulkan keberanian untuk menjadi bijaksana dan memutuskan hal yang tepat bagi hidupmu. Ingatlah tidak ada kesedihan dan kemarahan yang menetap selamanya, ia akan pergi cepat atau lambat,” tegasnya.

Selain itu, izinkan dirimu untuk dicintai dengan sepenuh hati oleh orang lain. Karena kamu layak untuk mendapat cinta yang penuh dan tidak terbagi, serta kamu layak menjadi yang utama bukan justru menjadi tempat pelarian. Selalu ingat bahwa jika seseorang dapat berselingkuh maka ia juga dapat menyelingkuhimu di lain waktu. 

Kamu juga dapat memberikan pasanganmu waktu untuk menyelesaikan hubungan dengan pasangannya. Kamu bisa meminta break agar ia memiliki ruang yang cukup untuk menyelesaikannya. Jika hubungan mereka sudah selesai, berilah jeda sejenak untuk ia mengevaluasi dirinya sendiri. Barulah kemudian kamu dapat memulai kembali hubungan dengannya.

“Carilah teman diskusi yang membuat kita nyaman dan dapat memberikan kita cara pandang yang luas. Hal ini membantu kita menimbang secara objektif mengenai apa yang akan kita putuskan nantinya dan juga dapat membantu kita mengelola emosi tidak nyaman yang kita rasakan,” ujar Alfath.

Bagaimana Jika Orang Terdekat Kita yang Menjadi Orang Ketiga?

orang ketiga
Foto: www.freepik.com

“Ingatlah bahwa kita tidak berhak memutuskan mana yang baik dan tidak untuk hidup seseorang, maka keputusan yang ia miliki atas hidupnya adalah sepenuhnya milik dirinya. Jangan mengambil alih mengambil keputusan untuk hidupnya walaupun kita yakin itu hal yang terbaik untuk dirinya,” pesannya.

Alfath juga menyarankan, sebagai orang terdekat kamu bisa menjadi pendengar yang baik. Dalam setiap ceritanya, cobalah untuk memahami situasi dirimu, memvalidasi setiap perasaan yang ia miliki, menginvalidasi secara spesifik perilaku yang tidak seharusnya ia lakukan. Plus, memberikan pertanyaan-pertanyaan terbuka yang dapat membuatnya mempertimbangkan hubungannya dengan orang tersebut.

Selain itu, hati-hati dalam setiap memberi saran. Kamu perlu mempertimbangkan waktu, situasi dan bahasa yang digunakan. Jangan sampai saran atau nasihat yang kamu berikan justru membuatnya tidak nyaman hingga menciptkan jarak antara kalian berdua.

Selanjutnya: Panduan Mengenali Pasangan—dan Diri Sendiri—Jika Siap Menikah.