Apakah Boleh Memasukkan Micin ke MP ASI?

mp asi
Foto: www.freepik.com

Ketika membaca kata MP ASI, pastinya kebanyakan orang tua sudah tidak asing lagi dengan istilah tersebut. Pasalnya, ketika bayi telah memasuki usia 6 bulan, maka ini merupakan waktu yang pas untuk diberikan makanan pendamping ASI atau MP ASI.

Namun perlu dipastikan juga kesiapan bayi untuk MPASI. Lantas, bagaimana cara mengenali bayi siap menikmati MP ASI dan bagaimana pemberian MP ASI yang tepat?

Untuk menemukan jawabannya, simak penjelasan dari dr. Loysa Ladydi SpA, M.Ked.Klin, Dokter Spesialis Anak dari Klinik Bakti Timah dan RSUD Marsidi Sudjono Tanjung Pandan Belitung yang akan membahas cara memberikan MPASI yang tepat untuk bayi.

Apa Itu MP ASI?

mp asi
Foto: www.freepik.com

Menurut Dokter Loysa, “MPASI atau makanan pendamping ASI adalah makanan yang diberikan saat anak berusia lebih dari 6 bulan. MPASI dapat diberikan sesuah selesai memberikan ASI eksklusif, atau sudah ada tanda-tanda kesiapan MPASI,” paparnya.

Dokter Loysa menambahkan bahwa pemberian MP ASI perlu dikonsultasikan ke dokter anak, “mengingat tidak semua anak memiliki pertumbuhan dan perkembangan yang sama. Terlebih anak yang memiliki kebutuhan nutrisi yang kurang dan segera memerlukan MPASI. Namun, jika tidak ada dokter spesialis anak, mungkin dapat dikonsultasikan ke posyandu terdekat,” sarannya.

Pemberian MPASI sebenarnya telah menjadi program nasional dalam BKIA (buku kesehatan ibu dan anak) tahun 2020. “Sudah ada penjelasannya yang rinci tentang MPASI pada anak, serta kualitas, kuantitas, dan frekuensi pemberiannya,” terang Dokter Loysa.

Bagaimana Tanda Kesiapan MP ASI pada Buah Hati?

Foto: www.freepik.com

Terdapat beberapa tanda kesiapan MPASI yang bisa dilihat, yakni

Motorik

Kesiapan motorik yakni dapat ditandai ketika anak sudah dapat mengangkat kepala dengan tegak, serta “sudah dapat duduk sendiri tanpa bantuan orang lain dan mampu menjaga keseimbangan tubuhnya,” jelasnya.

Refleks oromotrik

“Refleks muntahnya sudah mulai berkurang, mampu mengisap, dan menelan yang cair. Kemudian menelan makanan yang lebih kental dan padat,” tambahnya.

Baca Juga :  Pola Asuh yang Kasar Membuat Otak Anak Kecil, kata Studi Baru

Psikologis

Kesiapan psikolog dengan tanda “menunjukkan rasa lapar ketika melihat makanan misalnya, anak tampak sangat senang sampai mendorong badannya ke depan atau menjulurkan lidahnya sebagai tanda ingin memakan sesuatu yang baru,” ujarnya.

Atau bisa juga ketika anak menunjukkan rasa kenyang seperti tidak ingin makan dengan menarik tubuhnya terhadap makanan.

Bagaimana Menentukan Menu MP ASI?

mp asi
Foto: www.freepik.com

Menurut Dokter Loysa “Menu MP ASI tentu sangat perlu disesuaikan dengan usia anak dan frekuensinya,” ucapnya.

6-8 bulan

Untuk anak usia 6-8 bulan, ada baiknya untuk dikenalkan makanan yang lebih cair dengan frekuensi 3 kali sehari, “yakni makanan utama pagi, siang, dan malam. Serta makanan selingan 1-2 kali. Pada kelompok usia ini, dapat diberikan sebanyak 3-5 sendok makan, masih diperkenalkan kebutuhan total kalor sebesar 30%. Jenis yang bisa diperkenalkan berupa makanan saring atau lumat,” sarannya.

9-11 bulan

Pada usia ini, mulai diperkenalkan makanan yang mulai kasar, makanan yang lunak dan cair mulai bisa dikurangi. “Untuk kebutuhan kalori dapat diberikan mulai bertambah, kebutuhan kalori total mulai ditingkatkan menjadi 50% untuk makanan utama. Untuk frekuensinya bisa diberikan 3-4 kali,” anjurnya.

Sementara untuk makanan selingan sebanyak 1-2 kali. Makanan yang diberikan dapat berupa bubur kasar dengan daging cincang atau makanan keluarga lain yang bisa dimodifikasi.

12-23 bulan

Makanan untuk kelompok usia ini, “sudah mulai diperkenalkan makanan yang bentuk padat. Frekuensinya dapat diberikan 3-4 kali per hari. Untuk makanan selingan sebanyak 1-2 kali. Kelompok anak ini juga direkomendasikan untuk mengurangi pemberian makanan cair atau susu formula dan ASI dalam jumlah lebih banyak dari pemberian MPASI,” papar Dokter Loysa.

“Makanan selingan yang dimaksud adalah bisa berupa buah, biscuit, jus, dan olahan lainnya. Tetapi tidak disarankan untuk memberi makanan selingan dengan tambahan madu pada usia anak kurang dari 1 tahun,” pesannya.

Selain itu, “secara teori dan publikasi ilmu kedokteran maka tidak disarankan untuk pemberian mi instan pada anak. Dengan mempertimbangkan bahwa mi instan tidak cukup mengandung nutrisi yang adekuat dan aman untuk pertumbuhan serta perkembangan anak,” ujarnya.

Apakah Penyedap Rasa Boleh Ditambahkan pada MP ASI?

Foto: www.freepik.com

Dokter Loysa menuturkan bahwa pemberian penyedap rasa seperti garam dan gula dapat diberikan pada MPASI.

Baca Juga :  Bagaimana Menghadapi Anak yang Cemburu dengan Saudaranya?

“Tetapi perlu perhatian khusus untuk pemberian garam pada anak. Mengingat pertumbuhan atau fungsi ginjal anak yang belum sempurna, maka jumlah yang diberikan harus sesuai dengan asupan atau kebutuhan garam yang diperlukan,” anjurnya.

Pemberian penyedap rasa seperti garam dan gula juga sudah disesuaikan dengan rekomendasi Codex Standard for Processed Cereal-Based Foods for Infants and Young.

“Untuk penyedap rasa yang lainnya seperti MSG, kaldu organik, atau sebagainya, masih banyak kontroversi pada penelitian-penelitian yang ada,” tambahnya.

“Namun rekomendasi IDAI tentang pemberian MPASI pada anak tidak disarankan untuk pemberian penyedap rasa selain garam dan gula,” imbuhnya.

Bagaimana Cara Mengenalkan MP ASI?

mp asi
Foto: www.unsplash.com

Ketika anak dibawa untuk kontrol ke Dokter Spesialis Anak saat imunisasi, “di usia 4-5 bulan sebaiknya orang tua sudah bisa berdiskusi lebih awal untuk pemberian MPASI. Jadi pada saat anak sudah mendapatkan MPASI, maka orang tua sudah familier, edukatif, dan mencari informasi yang benar dan tepat untuk memberikan MPASI,” ujarnya.

Segala sesuatu yang berhubungan dengan MP ASI perlu dikonfirmasikan kepada Dokter Anak. “Karena pemberian MPASI yang baik dan benar akan sangat memengaruhi perkembangan dan pertumbuhan anak,” tutur Dokter Loysa.

Terdapat beberapa persyaratan MP ASI yang perlu diketahui oleh orang tua, yakni:

  • Pastikan MPASI tepat waktu, sesuai dengan usia, tanda-tanda kesiapan ASI, dan kebutuhan energi yang semakin bertambah.
  • Berikan MPASI adekuat yang mana harus mengandung cukup energi yakni makro nutriti (karbohidrat, protein, lemak) dan mikronutrisi (vitamin dan mineral).
  • Memastikan MPASI aman, yakni penyimpanannya dan penyiapannya aman, serta higienis. Hal ini bersangkutan dengan peralatan makan untuk MPASI.
  • MPASI diberikan seiring dengan tanda lapar. Maka orang tua perlu mengidentifikasi atau mengenal anak dengan rasa lapar dan kenyang.

Bagaimana Jika Berat Badan Bayi Menjadi Turun Ketika MPASI?

Foto: www.rawpixel.com

Selama masa MPASI, idealnya hal ini perlu dikonsultasikan dengan dokter anak untuk memantau pertambahan berat badan (BB), panjang badan (PB), dan lingkar kepala (LK).

“Rekomendasi IDAI, pemantauan pertumbuhan anak usia kurang dari 1 tahun sebaiknya dibawa kontrol setiap bulan sejak usia 0-12 bulan. Dan kontrol setiap 3 bulan untuk usia 12-36 bulan,” tuturnya.

Untuk anak dengan MPASI yang diberikan pada usia di atas 6 hingga 24 bulan, idealnya kontrol setiap bulan untuk melihat pertumbuhan BB, PB, dan LK.

Baca Juga :  Jumlah Kalori dalam Semangkuk Mie Instan

Lantas, bagaimana jika berat badan anak menjadi turun?

Dokter Loysa menyarankan untuk mengevaluasi kembali terkait pemberian MPASI. “Apakah sudah sesuai dengan aturan MPASI, apakah sudah memenuhi syarat energi dan kandungan nutrisi. Dan penting juga diketahui apakah anak memiliki riwayat penyakit gangguan kelainan jantung atau gangguan neurologis (saraf),” pesannya.

Karena anak dengan gangguan pertumbuhan dan perkembangan, maka secara tidak langsung dapat memengaruhi berat badan mereka meski telah mendapatkan MPASI yang sesuai dengan aturan.

“Namun jika MPASI sudah sesuai dengan aturan tetapi BB, PB, dan LK tetap tidak naik juga, mungkin perlu diberikan susu formula tambahan khusus, atau dalam kedokteran disebut dengan susu formula medical purpose. Tentunya susu ini tidak dapat dibeli sendiri tanpa pemberian resep dan aturan dokter,” ungkapnya.

Di Indonesia, pemberian susu sudah terdapat dalam Permenkes tahun 2019, di mana “pemberian susu formula sudah menjadi kesepakatan bersama antara pemerintah dan tenaga dokter spesialis anak. Terutama untuk mereka yang sangat membutuhkannya. Hal ini bertujuan untuk mencegah anak dengan gizi kurang hingga gizi buruk,” tuturnya.

Bolehkah Buah Hati Diajarkan untuk Makan Sendiri?

mp asi
Foto: www.freepik.com

Anak usia di bawah 12 bulan belum bisa makan sendiri. Namun jika buah hati bisa mulai makan sendiri tentu tidak akan bisa masuk semua dan kebutuhan nutrisinya, baik makronutrisi dan mikronutrisi, tidak bisa dipenuhi.

“Dalam proses makan sebenarnya ada proses belajar. Anak juga punya aturan makan atau istilah kedokterannya feeding rule yakni membentuk dan melatih anak untuk bisa makan sendiri pada waktunya. Serta ketika fungsi sensorik-motorik-psikologis berkembang sempurna dan anak telah siap untuk makan mandiri tanpa bantuan orang tua,” paparnya.

Jika feeding rule ini sudah mulai diberlakukan sejak dini, maka anak akan lebih cepat untuk bisa makan secara mandiri dan tidak perlu bantuan orang dewasa.

“Lalu untuk anak dengan berkebutuhan khusus, seperti tumbuh dengan gangguan fungsi saraf (neurologis), fungsi jantung, fungsi motorik, dan gangguan fungsi pertumbuhan serta perkembangan lainnya, tidak bisa makan sendiri tanpa bantuan orang dewasa. Jadi tetap perlu bantuan orang dewasa,” tambahnya.