5 Hal yang Harus Kamu Tahu Hari Ini – 9 Oktober 2020

Morning Briefing 9 Oktober 2020

T.G.I.F ! Pastikan kamu tetap memakai masker saat keluar rumah, jaga jarak saat berada di tempat umum, dan cuci tangan yang benar! Selamat menikmati hari pekan, dan berikut lima berita terbaru yang terangkum dalam Morning Briefing 9 Oktober 2020.

Kerugian Transjakarta akibat demo di Jakarta ditaksir mencapai 48 miliar.

PT Transportasi Jakarta atau TransJakarta memprediksi kerugian akibat aksi demonstrasi anarkis penolakan Omnibus Law Cipta Kerja menimbulkan kerugian materiil hingga Rp45 miliar. Estimasi kerugian berasal dari sejumlah halte yang dibakar massa dan halte yang mengalami kerusakan lainnya. Kerugian tersebut belum memperhitungkan kerugian non materiil. Hingga kemarin malam diketahui sebanyak 18 halte Transjakarta rusak, dengan 8 terbakar dan 10 lainnya dirusak massa. Salah satu halte terbakar adalah Halte Bundaran HI yang baru saja diresmikan pada 25 Maret 2019. (CNN Indonesia)

Jumlah kematian COVID-19 tertinggi di Jatim dan Jateng.

Wiku Bakti Bawono Adisasmito, Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan COVID-19, mengatakan bahwa angka kasus kematian nasional akibat COVID-19 mengalami penurunan sebesar 7,7 persen dibandingkan minggu lalu. Akan tetapi, persentase kematian akibat virus ini di lima provinsi melebihi rata-rata dunia 2,91 persen. Lima provinsi ini adalah Jawa Timur (7,3%), Jawa Tengah (6,08), Nusa Tenggara Barat (5,94 ), Sumatera Selatan (5,63), dan Bengkulu (5,08). Dan terdapat 22 kabupaten dan kota di Indonesia mempunyai kasus kematian akibat COVID-19 lebih dari 100 orang. (Liputan6)

Update COVID-19 global: wajib tes di Hong Kong, dan lonjakan kasus di Korea Selatan.

Tes infeksi coronavirus akan segera menjadi wajib di Hong Kong dalam rangka meredam gelombang ketiga pandemi. Pihak otoritas sedang mempelajari kerangka hukum untuk membuat wajib tes ini mungkin dilaksanakan. Sementara itu, Korea Selatan sedang bersiap-siap menghadapi lonjakan kasus baru setelah libur panjang Chuseok berakhir. Jumlah kasus harian di sana mencapai lebih dari 100 kasus dalam enam hari berturut-turut; pemerintah mendorong warga untuk tinggal di rumah jika memungkinkan.

Dari Malaysia dilaporkan, pernyataan Perdana Menteri Muhyiddin Yassin tentang bahwa dirinya perlu menggunakan “cambuk” untuk menegakkan social distancing mendapat banyak kritikan. Tagar #MuhyiddinOut menjadi trending topic. Sementara itu lebih dari 1.000 karyawan positif terinfeksi coronavirus di sebuah pabrik di Sri Lanka yang hingga akhir Agustus kemarin memproduksi masker operasi untuk Amerika Serikat. Ledakan kasus ini pertama kali dideteksi tiga hari yang lalu dengan sebagian besar kasus adalah orang tanpa gejala. Sementara itu dari Jerman dilaporkan bahwa jumlah kasus harian di sana melampaui 4.000, tertinggi sejak April ketika negara tersebut masih di-lockdown. Dan menurut mesin penghitung Johns Hopkins University, jumlah total kasus COVID-19 adalah 36.265.982, dengan 1.057.505 kematian, dan 25.283.401 kesembuhan. (Telegraph)

WTO akan memiliki bos perempuan.

Dengan hanya dua orang yang tersisa sebagai kandidat direktur jenderal, World Trade Organization (WTO) akan dikepalai oleh perempuan untuk pertama kalinya sejak didirikan 25 tahun yang lalu. Pilihan direktur jenderalnya adalah Yoo Myung-hee dari Korea Selatan dan Ngozi Okonjo-Iweala dari Nigeria. Okonjo-Iweala telah menjabat sebagai menteri keuangan Nigeria selama dua kali masa jabatan, sementara Yoo telah berkecimpung di pemerintahan selama 25 tahun. Pengumuman direktur jenderal WTO akan dilakukan awal bulan depan. (The Guardian)

Penyair Louise Gluck menangkan Nobel Prize untuk Sastra.

Louise Gluck, seorang profesor Sastra Inggris di Universitas Yale, memenangkan Nobel Prize 2020 untuk Sastra. Gluck (77 tahun) yang juga sering kali menjadi pemenang sastra di Amerika Serikat menarik perhatian para kritikus pertama kali dengan koleksi puisinya “Firstborn” pada 1968. Dia menjadi perempuan ke-16 yang memenangkan penghargaan sastra paling prestisius di dunia ini sejak diselenggarakan lebih dari satu abad yang lalu. Gluck dianugerahi Pulitzer Prize pada 1993 atas koleksi puisinya “The Wild Iris“, dan National Book Award for untuk karyanya “Faithful and Virtuous Night” enam tahun yang lalu. Pengamat sastra mengatakan karya Gluck “kontemporer” dan pada saat yang bersamaan “abadi”. (Reuters)

Selanjutnya: Usai membaca Morning Briefing 9 Oktober 2020, jangan lupa mengetahui perbedaan antara sunscreen dan sunblock.

podcast button