5 Hal yang Harus Kamu Tahu Hari Ini – 7 Juli 2020

Morning Briefing 7 Juli 2020
Foto: www.unsplash.com

Hello! Sudahkah kamu mendengus pagi ini? Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa setidaknya terdapat 70 jenis dengusan yang semuanya memiliki arti yang berbeda. Contohnya saja, saat kamu mendengus di kamar mandi umum, ini adalah isyarat diplomatik untuk mengindikasikan kepada pengunjung lain bahwa bilik yang mereka gunakan sedang dipakai. Aha! Oh, apakah temanmu mendengus saat sedang mengobrol? Bisa jadi itu artinya: dia kurang tertarik dengan percakapan kalian. Ouch. Apapun dengusan yang kamu keluarkan dan dengar hari ini, semoga harimu menyenangkan. Dan berikut lima berita terbaru yang terangkum dalam Morning Briefing 7 Juli 2020.

Surabaya akan terapkan jam malam.

Oleh karena semakin banyaknya kasus COVID-19, pemerintah kota Surabaya memutuskan akan menerapkan jam malam untuk warganya. Draf peraturan sudah rampung dan akan segera ditandatangi Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini. Jika diberlakukan, pembatasan aktivitas malam hari akan terjadi mulai pukul 22.00 WIB untuk warga kota dan ada sanksi bagi yang melanggar. Kecuali, untuk sektor kesehatan, logistik atau kebutuhan utama masyarakat. Menurut data Catatan Gugus Tugas Provinsi Jatim, jumlah rata-rata harian kasus positif di Surabaya bisa mencapai di atas 100 orang. Baca berita lengkapnya di Medcom.

Tidak akan ada penerimaan CPNS tahun ini.

Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Tjahjo Kumolo, yang mengatakan tahun ini tidak akan seleksi CPNS dengan perjanjian tenaga kerja (PPPK). Meski begitu, rekrutmen untuk kedinasan seperti Akademi Kepolisian dan Akademi Militer tetap digelar. Dan tes Seleksi Kompetensi Bidang (SKB) CPNS Tahun 2019 yang sempat ditunda karena pandemik, akan tetap digelar pada Agustus 2020. Pelaksanaan seleksi CPNS akan kembali dibuka pada 2021. Baca berita lengkapnya di CNN Indonesia.

Update COVID-19 global: India menjadi negara ketiga dengan kasus terbanyak dan Museum Louvre dibuka.

India melewati Rusia dalam jumlah kasus positif coronavirus di dunia, dengan lebih dari 697.410 kasus kemarin. Jumlah ini berada di bawah Amerika Serikat dan Brasil. Meski begitu hanya tercatat 19.693 orang meninggal, meski pejabat kesehatan memperkirakan hal ini karena jumlah tes harian yang dilakukan masih sedikit. Akibatnya, meski sejumlah kawasan wisata sudah dibuka lagi, Taj Mahal diputuskan untuk tetap ditutup. Sementara itu dari Paris dilaporkan Museum Louvre buka kembali setelah ditutup selama empat bulan. Dan dari Melbourne dikabarkan sebuah kawasan hunian apartemen dengan sekitar 3000 penghuni mengalami lockdown dan akan dites karena lonjakan kasus yang dianggap “berpotensi eksplosif.” Dari Inggris diberitakan pemerintah menggelontorkan dana bantuan sebesar £1.5 miliar untuk menyelamatkan industri seni dan budaya akibat pandemik. Dan seorang profesor epidemiologi mengatakan bahwa remdesivir belum terbukti bisa mengobati coronavirus. Studi yang pernah membuktikan sebaliknya ternyata disponsori oleh perusahaan. Menurut mesin penghitung Johns Hopkins University, jumlah total kasus COVID-19 global adalah 11.495.412, dengan 535.027 meninggal dan 6.214.206 sembuh. Baca berita lengkapnya di Financial Times.

China mulai menarik pasukannya dari perbatasan.

Sumber dari pemerintah India mengatakan China mulai menarik kembali pasukannya dari wilayah yang menjadi sumber konflik antara kedua negara tersebut. Kedua belah pihak disebutkan telah setuju untuk menghormati Line of Actual (LAC) yang menandai posisi keduanya atas wilayah tersebut. Dan juga kan berusaha untuk bekerja sama untuk menurunkan ketegangan di perbatasan. Kesepakatan ini didapat setelah terjadi pertemuan diplomat dari kedua negara pada hari Minggu kemarin. Seperti diketahui, ketegangan dan bentrok antara India dan China terjadi bulan lalu yang mengakibatkan 20 tentara India tewas. Tidak ada laporan apakah ada karbon dari pihak China. Baca berita lengkapnya di Reuters.

Penampakan misterius di Pegunungan Alpen.

Para ilmuwan di Italia sedang menginvestigasi penampakan misterius es glasial merah muda di Pegunungan Alpen. Ternyata, disebabkan oleh ganggang yang juga mempercepat efek perubahan iklim. Perdebatan yang muncul kemudian adalah dari mana ganggang itu berasal. Dewan Riset Nasional Italia mengatakan bahwa salju merah muda itu kemungkinan disebabkan oleh tanaman yang sama yang muncul di Greenland, yakni Ancylonema nordenskioeldii. Dan ganggang ini tidak berbahaya. Meski begitu, semakin banyak tanaman ini di sana, semakin banyak sinar matahari yang terserap dan akibatnya, es semakin cepat mencair. Dan ini bisa membahayakan ekosistem dunia. Baca berita lengkapnya di The Guardian.

Selanjutnya: usai membaca Morning Briefing 7 Juli 2020, pastikan membaca bagaimana cara membanatnu anak menghadapi rasa kecewa.

error: Konten dilindungi !!