5 Hal yang Harus Kamu Tahu Hari Ini – 5 Agustus 2020

Morning Briefing 5 Agustus 2020
Foto: www.unsplash.com

Hi! Apa kabarmu hari ini? Dan bagaimana dengan motivasi kerjamu? Jika membutuhkan saran agar lebih bersemangat, tips ini mungkin membantu. Selebihnya, selamat menikmati hari ini dan berikut lima berita terbaru yang terangkum dalam Morning Briefing 5 Agustus 2020.

Uji klinis fase III vaksin COVID-19 dimulai minggu depan.

Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran menyampaikan bahwa uji klinis fase III vaksin COVID-19 buatan perusahaan China, Sinovac Biotec Ltd., akan dilaksanakan pada 11 Agustus 2020. Juru bicara dari universitas itu mengatakan bahwa sudah lebih dari 600 orang yang mengajukan diri sebagai relawan dalam uji klinis tersebut. Namun, hanya 540 orang yang dipilih sebagai relawan dalam tahap pertama. Uji klinis ini akan melibatkan 1.620 subjek dan pengawasan tes ini diperkirakan akan berlangsung selama enam bulan. (CNN Indonesia)

Jouska diinvestigasi atas dugaan pencucian uang.

Pusat Pelaporan Analisis Transaksi Keuangan sedang menginvestigasi perusahaan penasihat keuangan PT Jouska Financial Indonesia atas dugaan pencucian uang. Investigasi ini dilakukan menyusul dugaan investasi ilegal dan manajemen dana yang dikelola oleh perusahaan yang terkenal di media sosial ini. Sebelumnya, pada 24 Juli 2020, Otoritas Jasa Keuangan memerintahkan Jouska untuk menghentikan operasionalnya atas dugaan pialang saham ilegal dan mismanajemen investasi. OJK juga menutup PT Mahesa Strategis Indonesia dan PT Amarta Investa Indonesia, yang diduga menyediakan servis manajemen investasi dan nasihat finansial untuk klien Jouska tanpa sertifikat resmi. Jouska, Amarta Investa dan Mahesa Strategis tidak terdaftar sebagai perusahaan manajemen investasi atau sekuritas di OJK. (The Jakarta Post)

Update COVID-19: Gelombang kedua di Jerman dan WHO desak Rusia soal vaksin.

Jerman sedang berjuang menghadapi gelombang kedua COVID-19 dan ini mengancam cerita sukses pencegahan awal yang selama ini dilakukannya. Pasalnya, jumlah kasus coronavirus harian semakin meningkat beberapa minggu belakangan. Sementara itu, WHO mendesak Rusia untuk mengikuti panduan yang sudah ditetapkan dalam memproduksi vaksin yang aman dan efektif. Pernyataan ini dikeluarkan setelah Moskow mengumumkan rencana untuk mulai memproduksi vaksin secara massal pada September.

Dari Prancis dilaporkan bahwa para lajang lebih memilih untuk melakukan seks dengan mantan pasangan, dibandingkan dengan orang baru di masa pandemik ini. Hasil survei dari French Institute for Public Opinion ini memperlihatkan bahwa 62 persen responden mengatakan menolak berhubungan seks dengan yang orang yang sudah terinfeksi atau pernah berhubungan langsung dengan pasien. Dan dari Vietnam dikabarkan bahwa pemerintah mengalami kekurangan alat rapid test seiring bertambahnya klaster dan jumlah kasus baru. Menurut mesin penghitung Johns Hopkins Unversity, jumlah total kasus COVID-19 global adalah 18.317.520, dengan 694.713 kematian dan 10.936.782 kesembuhan. (Telegraph)

Belasan orang meninggal akibat banjir di Korea Selatan.

Musim hujan terlama dalam tujuh tahun terakhir ini memicu banjir dan tanah longsor di Korea Selatan. Empat belas orang tewas dan lebih dari 1.000 orang harus mengungsi dari rumahnya karena hujan lebat yang turun selama 42 hari berturut-turut di sana. Para korban di antaranya tiga warga New Zealand yang sedang berlibur di Gapyeong, bagian timur laut Seoul. Korban lain adalah tiga pekerja yang tewas ketika tanah longsor menerjang pabrik tempat mereka bekerja. Negara tetangganya, Korea Utara, juga sudah mengeluarkan peringatan potensi banjir. (Reuters)

WhatsApp tambahkan fitur pencari.

WhatsApp meluncurkan sebuah fitur baru yang memungkinkan para penggunanya bisa mencari dengan cepat fakta atas sebuah pesan viral. Per kemarin(4/8), sebuah ikon kaca pembesar akan mulai muncul di samping pesan yang telah diteruskan kepada lima orang atau lebih. Pihak WhatsApp mengatakan bahwa fitur ini dirilis untuk mengecek konspirasi teori atau informasi salah yang terkandung dalam pesan tersebut. Dan juga menyampaikan bahwa pesan apapun yang dipilih pengguna untuk dicari, dikirim langsung ke browser mereka “tanpa dilihat oleh WhatsApp.” Ini adalah usaha terbaru platform messaging itu untuk mencoba menghentikan penyebaran informasi yang salah. (The Verge)

Selanjutnya: Usai membaca Morning Briefing 5 Agustus 2020, ketahui bagaimana cara mengonsumsi suplemen yang tepat dari seorang spesialis gizi.

podcast button