5 Hal yang Harus Kamu Tahu Hari Ini – 4 November 2019

Foto: www.canva.com

Selamat pagi, apa kabarmu hari ini? Semoga baik dan siap menghadapi Senin (atau malah tidak?). Untuk kamu yang mencari cara untuk lebih membangunkan dan menyegarkan diri, coba baca lima berita berikut ini.

Dari hasil survey yang dilakukan oleh LSI, ditemukan: mayoritarianisme di Indonesia terus meningkat.

Menurut survey tersebut, hal itu bisa dilihat dari semakin tingginya keinginan warga agar pemerintah mengutamakan Islam dalam aspek bernegara. Direktur Eksekutif LSI Djayadi Hanan menyampaikan mayoritarianisme adalah suatu pandangan, sikap, bahwa mayoritas yang harus diutamakan. Sementara, kaum minoritas harus mengikuti mayoritas. Meski fenomena ini terjadi di berbagai belahan dunia, Djayadi mengatakan bahwa pemerintah harus mengelola hal ini agar tidak terjadi pergesekan. Baca berita lengkapnya di sini.

Berita duka datang dari dunia balap nasional.

Afridza Syach Munandar (20) meninggal dunia akibat cedera kepala usai kecelakaan saat bertarung di arena Asia Talent Cup 2019 di Sepang, hari Minggu. Jenazahnya akan dipulangkan ke Indonesia dan tiba di Bandara Soekarno Hatta sore ini. Astra Honda Indonesia menyatakan bahwa Afridza lulus dari Astra Honda Racing School pada 2017 dan merupakan salah satu pebalap berbakat yang dimilikinya. Baca berita lengkapnya di sini.

Dresden mendeklarasikan status “gawat darurat Nazi”.

Kota yang terletak di bagian timur Jerman itu menyatakan bahwa ada pergolakan serius yang disebabkan oleh gerakan kanan ekstrim. Selama ini, Dresden dianggap sebagai benteng pertahanan gerakan garis kanan ekstrim dan tempat lahirnya gerakan anti-Islam, Pegida. Menurut seorang anggota dewan kota, kondisi yang dialami kota itu sekarang sangat serius dan bisa membahayakan demokrasi. Baca berita lengkapnya di sini.

Sementara itu, New Delhi diselimuti kabut beracun dan merupakan kondisi terburuk.

Akibatnya sejumlah penerbangan dialihkan atau ditunda, serta jarak mata pandang yang sangat terbatas. FYI, setiap musim dingin, kota metropolitan tersebut dipenuhi dengan asap kabut yang berasal dari kendaraan, emisi pabrik dan pembakaran lahan dari kota-kota tetangganya. Akan tetapi, ketebalan dan level konsentrasi partikel-partikel berbahaya mencapai puncaknya tahun ini. Menurut bacaan dari alat pendeteksi, polutan di atmosfer mencapai 810 mikrogram per meter kubik pada Minggu pagi—sangat jauh di atas angka aman maksimum versi WHO, yakni 25 mikrogram per meter kubik. Para pejabat negara bagian dan federal saling lempar kesalahan dan tanggung jawab. Sejumlah sekolah diliburkan sampai Selasa. Baca berita lengkapnya di sini.

Google baru saja membeli Fitbit.

Perusahaan yang memproduksi fitness tracker itu resmi menjadi bagian dari si raksasa Google setelah dibeli dengan harga $2,1 miliar. Menurut Google ini adalah kesempatan yang tepat untuk berinvestasi dan memperkenalkan barang-barang siap pakai darinya. Di surat rilisan terpisah, Fitbit memproklamirkan bahwa dirinya akan tetap menjaga privasi data secara serius. “Data kesehatan dan kesejahteraan Fitbit tidak akan digunakan untuk Google ads,” begitu pernyataan Fitbit. Baca berita lengkapnya di sini.