5 Hal yang Harus Kamu Tahu Hari Ini – 4 Juni 2020

Morning Briefing 4 Juni 2020
Foto: www.canva.com

Hola! Apakah ponselmu sudah dilengkapi dengan teknologi koneksi 5G? Jangan sedih jika kamu masih setia dengan yang dengan 4G! Menariknya, bahkan ketika belum semua smartphones di dunia ini memiliki 5G, China sedang menggarap 6G. Oh well, selama 4G masih bisa membuat kita menggunakan WhatsApp dan menonton TikTok dengan lancar—rasanya belum perlu khawatir untuk ketinggalan jaman. Selamat menikmati hari ini, dan berikut lima berita yang terangkum dalam Morning Briefing 4 Juni 2020.

Tindakan internet shutdown di Papua dan Papua Barat melanggar hukum.

Hal tersebut merupakan keputusan hakim dari Pengadilan Negeri Tata Usaha (PTUN) Jakarta yang menyatakan tindakan pemerintah terkait internet shutdown di Papua dan Papua Barat pada 2019. Majelis hakim dalam pertimbanganya menyampaikan internet adalah netral. Pihak tidak netral yaitu penggunanya. Hakim juga mengatakan, penggunaan internet bersifat positif dan membangun peradaban menjadi lebih baik. Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G Plate mengatakan belum membaca putusan terkait dan akan menentukan langkah hukum yang diambil pemerintah setelah berbicara dengan jaksa pengacara negara. Meski dirinya menyatakan bahwa langkah pemerintah mengenai pemblokiran internet adalah untuk kepentingan masyarakat. Baca berita lengkapnya di Liputan6.

Perpanjangan PSBB Jakarta adalah hoaks.

Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik Provinsi DKI Jakarta memastikan informasi dan pemberitaan di media online yang menyatakan PSBB diperpanjang adalah hoaks. Seperti diberitakan beredar kabar bahwa Gubernur Anies Baswedan diperpanjang hingga 18 Juni. Menurut pemerintah daerah DKI, hingga saat ini belum ada penetapan apakah PSBB akan diperpanjang. Sebelumnya, dikabarkan bahwa Anies berencana untuk mengumumkan hal tersebut Rabu sore kemarin, tapi dibatalkan. Pengumuman terkait PSBB DKI itu disebutkan akan dilakukan pada sore ini. Baca berita lengkapnya di CNN Indonesia.

Update COVID-19 global: Australia menghadapi resesi dan penyesalan Swedia.

Australia menghadapi resesi pertama dalam 30 tahun terakhir karena pandemik coronavirus. Menurut Biro Statistik Australia, GDP negara tersebut turun hingga 0,3 persen pada akhir Maret. Sementara itu epidemiolog Swedia, Anders Tegnell, sosok yang berada di balik kebijakan lockdown ringan yang diambil oleh Swedia, mengakui bahwa negara tersebut seharusnya memberlakukan aturan yang lebih ketat. Jika restriksi ketat dilakukan, maka kemungkinan angka kasus di negara tersebut tidak setinggi sekarang. Sampai saat ini, Swedia memiliki angka kematian per kapita tertinggi di dunia. Sementara itu, jumlah kasus baru di Korea Selatan meningkat karena cluster baru yang ada hubungannya dengan gereja-gereja di Seoul. Di India, jumlah kasus mencapai lebih 200.000 (tertinggi ketujuh di dunia) dan semakin banyak ahli kesehatan mengkritisi cara kerja Perdana Menteri Narendra Modi. Dan Singapura dan China menyetujui sebuah perjanjian perjalanan bilateral yang mengijinkan bisnis esensial dan pejabat negara keluar-masuk kedua negara tersebut. Menurut mesin hitung Johns Hopkins University, jumlah total COVID-19 global adalah 6.418.078, dengan 381.064 meninggal, dan 2.755.562 sembuh. Baca berita lengkapnya di Financial Times.

Pesawat penumpang China dilarang terbang ke Amerika Serikat.

Keputusan tersebut diambil karena Beijing masih belum memperbolehkan pesawat penumpang Amerika masuk ke China. Kebijakan ini berlaku mulai 16 Juni untuk maskapai Air China, China Eastern Airlines Corp, China Southern Airlines Co dan Hainan Airlines Holding Co. Keputusan ini diyakini akan semakin memperkeruh hubungan keduanya yang makin tegang sejak pandemik coronavirus. Sebagai informasi, sejak 31 Januari, pemerintah AS melarang masuk mayoritas warga negara lain yang pernah ke China (14 hari sebelum tanggal tersebut), tapi tidak melarang penerbangan dari China. Sementara itu, sebagian besar maskapai AS secara sukarela memutuskan untuk menunda penerbangan ke China sejak Februari. Baca berita lengkapnya di Reuters.

Xiaomi siap mengeksplor 6G.

Lupakan 5G, bersiap-siaplah dengan 6G. Menurut co-founder dan chairman Lei Jun, Xiomi sudah bersiap untuk memulai pra-penelitian tentang 6G. Akan tetapi, konsep 6G ini masih tetap belum jelas dan belum ada standarnya. Meski begitu, 6G pelan-pelan menjadi buzzword di antara perusahaan teknologi China. Selain Xiomi, ada sejumlah perusahaan lain yang juga melirik 6G, di antaranya ZTE dan China Telecom, yang menandatangi penelitian 6G bersama. Oppo dan Huawai juga memperlihatkan rasa ketertarikan terhadap teknologi baru ini. Sebagai informasi, China mulai meneliti 6G di 2018, menjadikannya negara pertama yang melakukannya. Baca berita lengkapnya TechinAsia.

Selanjutnya: Setelah membaca Morning Briefing 4 Juni 2020, jangan lupa membaca mengapa kamu sangat perlu membicarakan kebiasaan menonton porno.

podcast button