5 Hal yang Harus Kamu Tahu Hari Ini – 3 Oktober 2019

Foto: www.canva.com

Hari Kamis, artinya hanya tinggal dua hari lagi… weekend! Sambil menghitung hari dan tetap bersemangat, mari mengetahui kabar dunia hari ini.

Ternyata manusia (iya, kamu dan saya) memompa 100 kali lebih banyak karbon dioksida ke atmosfer dibandingkan jumlah CO2 dari semua gunung berapi di dunia.

Dan ini, menurut para ilmuwan, terjadi setiap tahun. Kesimpulan ini didapat dari hasil studi (diterbitkan di jurnal Elements) selama satu dekade yang meneliti simpanan karbon dioksida di planet ini. Dalam penelitiannya, tim dari program Deep Carbon Observatory (DCO) di Amerika Serikat itu mengkalkulasikan bahwa Bumi paling tidak memiliki 1,85 milyar gigaton karbon. CO2 di atmosfer bisa berasal dari erupsi vulkanik, tetapi menurut data penelitian ini, sebagian besar berasal dari aktivitas manusia, seperti akibat dari pembakaran bahan bakar fosil. Selanjutnya, para peneliti tersebut ingin mengetahui lebih lanjut siklus karbon dan bagaimana caranya mengubahnya di masa depan. Baca berita lengkapnya di sini.

Akhirnya: Instagram meluncurkan anti-bullying tool berlaku global untuk melindungi penggunanya dari kebencian.

Yes! Alat yang diberi nama ‘Restrict‘—dan berlaku di seluruh dunia—ini didesain untuk memerangi perundungan di platform tersebut. Bagaimana caranya? Alat ini akan memampukan para pengguna “dengan diam-diam” melindungi diri mereka sendiri dengan cara menyembunyikan komentar-komentar dan akun-akun perundung dari penglihatan mereka saat mereka sedang online. Saat kamu menerapkan ‘Restrict‘ pada seseorang, komentar-komentar dari orang tersebut di postingan kamu hanya bisa dilihat orang tersebut. ‘Restrict‘ bisa diakses dengan ‘swiping left‘ pada sebuah komentar, melalui pengaturan Privasi pada menu Settings atau langsung pada akun profil yang ingin di ‘Restrict‘. Baca keterangan lengkapnya di sini.

Kabar baik: sebuah pengadilan banding Belanda menetapkan bahwa statute of limitations tidak berlaku bagi dugaan kejahatan di era kolonial.

Sebuah pengadilan banding di Den Haag memutuskan bahwa enam orang laki-laki dan perempuan yang mengklaim bahwa para ayah mereka dibunuh oleh negara Belanda pada tahun 1947, selama masa “pembersihan” (purging) di Indonesia, bisa mengklaim kompensasi meski puluhan tahun sudah berlalu. Secara terpisah, pengadilan ini juga memutuskan bahwa seorang laki-laki yang disiksa ketika berada di dalam penjara militer pada periode yang sama juga harus mendapatkan kompensasi senilai €5,000 yang diserahkan kepada anak-anaknya. Hal ini merupakan sebuah terobosan baru bagi dunia dan menurut pengacara para penggugat, Liesbeth Zegveld, “bisa dijadikan preseden untuk sejumlah kasus yang sedang bergulir termasuk sebuah kasus tertunda [dugaan] pemerkosaan.” Baca berita lengkapnya di sini.

Dari isu karhutla, titik api pindah ke Lampung.

Kepala Pusat Data dan Informasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Agus Wibowo, menyampaikan bahwa hotspot di Sumatera pindah ke Lampung, sementara di Jambi dan Riau sudah mulai reda. Dari informasi sementara yang didapatkan dari Humas Polda Lampung, penyebab munculnya hotspot itu karena cuaca yang terlampau panas di wilayah tersebut. Dari data BNPB, dari Januari hingga September 2019 seluas 328.722 hektare lahan di Indonesia terbakar dengan jumlah hotspot 809. Baca berita lengkapnya di sini.

Selena Gomez menulis sebuah op-ed di Time tentang kesedihannya menyaksikan perlakuan negaranya terhadap para imigran.

Meski menyadari bahwa dirinya bukan seorang ahli, politikus, dokter, tapi sebagai seseorang dengan darah Meksiko-Amerika, Gomez menuliskan bahwa dia “merasa memiliki tanggung jawab untuk menggunakan platform-nya untuk bersuara mewaklili orang-orang yang terlalu takut untuk bicara.” Penyanyi dan aktris ini berharap dengan menonton seri dokumenter baru, Living Undocumented, (dia bertindak selaku produser eksekutif) akan membuat orang terinspirasi untuk lebih berbelas kasih dan belajar tentang imigran. Living Undocumented bisa ditonton di seluruh dunia di Netflix mulai Rabu, 2 Oktober 2019. Baca tulisan lengkap Gomez di sini.

podcast button