5 Hal yang Harus Kamu Tahu Hari Ini – 24 September 2020

Morning Briefing 24 September 2020
Foto: www.unsplash.com

Hampir akhir pekan, apakah kamu memiliki rencana khusus? Jika memungkinkan, tetap di rumah, ya. Atau saat memang harus keluar rumah, pastikan kamu memakai masker dan jaga jarak saat berada di tempat umum. Plus, yang tak kalah pentingnya, cuci tangan dengan benar. Semoga harimu menyenangkan dan berikut lima berita terbaru yang terangkum dalam Morning Briefing 24 September 2020.

Indonesia catat rekor kasus harian.

Indonesia mencetak rekor kasus harian kemarin (23/9), yakni 4.465 kasus, sehingga secara nasional ada 257.388 kasus. Jakarta masih menjadi penyumbang kasus terbanyak, yakni 1.133 kasus, meski sedang menerapkan PSBB ketat sejak seminggu lalu. Sejak hari Senin, indonesia memiliki lebih dari 4.000 kasus baru per hari. Sebuah survei yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa banyak warga yang tidak percaya COVID-19 ada dan menolak mematuhi protokol kesehatan. Hal ini dianggap sebagai salah satu penyebab semakin menyebarnya virus ini. (The Jakarta Post)

Dana BOS 2021 akan lebih banyak disalurkan ke sekolah di pelosok.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim akan mengganti metode penghitungan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) pada 202. Selama ini perhitungan dana BOS berdasarkan jumlah murid sehingga berpotensi menimbulkan ketidakadilan, terutama untuk sekolah di daerah pelosok. Nadiem menjelaskan Kemendikbud mengubah metode penghitungan BOS menjadi dua variabel, yakni indeks kemahalan konstruksi (IKK) dan indeks besaran peserta didik (IPD). Metode IKK digunakan untuk menentukan apakah area sebuah sekolah sulit dicapai atau tidak. Perubahan penghitungan dana BOS ini membuat sekolah yang berada di daerah 3T dan memiliki jumlah murid sedikit, menerima dana BOS yang lebih baik. (CNN Indonesia)

Lukashenko disumpah menjadi presiden Belarus dalam upacara rahasia.

Inagurasi Alexander Lukashenko sebagai presiden berlangsung di sebuah upacara rahasia di Minsk dengan tidak ada pemberitahuan sebelumnya. Aksi ini dikecam oleh pemimpin oposisi dan politikus Eropa dan menganggap hal ini melanggar hukum. Lukashenko mengklaim diri sebagai pemenang di pemilu 9 Agustus dengan 80% suara dan menyebabkan demonstrasi besar-besaran. Aksi inagurasi tanpa publisitas ini diperkirakan untuk mencegah protes dan demonstrasi. Uni Eropa menolak mengakui legitimasi pemilu, sementara negara tetangganya, Lithuania, sudah tidak menganggap Lukashenko sebagai presiden. Akan tetapi, Rusia mendukung Lukashenko. (The Guardian)

Update COVID-19 global: Jepang bolehkan orang asing masuk dan perkembangan vaksin.

Japan mempertimbangkan untuk membuka pintu kepada pendatang asing, yakni mereka yang memiliki ijin tinggal lebih dari tiga bulan, termasuk mahasiswa dan pekerja kesehatan. Akan tetapi, larangan masuk masih berlaku untuk turis. Kuota pendatang asing dibatasi, yaitu hanya 1.000 per hari. Sementara dari india dilaporkan terjadi penurunan jumlah kasus setelah selama seminggu mencetak rekor. India diperkirakan akan menjadi negara dengan kasus terbanyak dalam beberapa minggu ke depan, melampaui Amerika Serikat.

Vaksin suntik potensial pertama yang sedang dikembangkan oleh Johnson & Johnson memasuki fase final di Amerika Serikat dalam sebuah uji coba internasional yang melibatkan 60.000 partisipan. Jika semua proses lancar, perusahaan ini berencana memproduksi satu miliar dosis vaksin tahun depan. Sementara itu, World Fund Programme PBB mewanti-wanti bahwa Yemen berisiko mengalami bencana kelaparan karena konflik yang semakin memanas dan COVID-19. Ini akan menggagalkan semua usaha kemanusiaan yang sudah dicapai selama beberapa tahun belakangan. Menurut mesin penghitung Johns Hopkins Hospital, jumlah total kasus COVID-19 global adalah 31.673.086, dengan 972.372 kematian, dan 21.785.468 kesembuhan. (Telegraph)

Saingan TikTok rilis fitur baru.

Reels, milik Instagram, dan saingan TikTok, kemarin merilis beberapa perubahan baru setelah menerima kritikan berkaitan dengan desain. Menanggapi respons publik, Reels menyampaikan ada beberapa perubahan, termasuk bentuk huruf dan pengguna bisa membuat video dengan durasi lebih lama, yakni 30 detik. Sebagai perbandingan, TikTok mengijinkan penggunanya menciptakan video dengan durasi satu menit. Ini artinya pengguna Reels harus menciptakan konten asli untuk Reels, tidak bisa lagi hanya mengunggah dari video TikTok. Meski sudah melakukan perubahan, saja TikTok lebih mudah digunakan, termasuk dalam mengedit video. (TechCrunch)

Selanjutnya: Selesai membaca Morning Briefing 24 September 2020, jangan lupa mengecek tentang cara membaca hasil USG di sini.

podcast button