5 Hal yang Perlu Kamu Tahu Hari Ini – 22 September 2020

Morning Briefing 22 September 2020
Foto: www.unsplash.com

Hola! Seperti biasa, tidak banyak kata yang terucap selain: pakai masker saat keluar rumah, jaga jarak saat berada di tempat publik, dan cuci tanganmu dengan benar. Semoga harimu menyenangkan, dan berikut lima berita yang terangkum dalam Morning Briefing 22 September 2020.

Pilkada serentak 2020 tak ditunda.

Komisi II DPR bersama Menteri Dalam Negeri dan penyelanggara Pilkada memutuskan untuk tetap mengadakan Pilkada, tanggal 9 Desember 2020. Dalam pelaksanaan Pilkada kali ini akan diterapkan disiplin dan sanksi tegas bagi yang melanggar protokol kesehatan. Selama masa kampanye dilarang melibatkan banyak massa dan menyebabkan kerumuman. Hal ini termasuk menggelar konser, rapat umum, dan arak-arakan. Kampanye disarankan untuk dilakukan secara daring. Jika menyelenggarakannya secara tatap muka, peserta wajib mengenakan masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan dengan sabun. Hasil rekapitulasi pemungutan suara juga dilakukan secara elektronik. (Medcom)

Rencana pemerintah untuk mengubah definisi kematian akibat COVID-19.

Pemerintah sedang berencana untuk mengubah definisi angka kematian akibat COVID-19 menjadi hanya akibat coronavirus dan mencoret akibat penyakit penyerta. Sebenarnya, wacana penyempitan definisi ini sudah mengemuka dalam rapat koorinasi pandemi antara Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Investasi dengan kepala daerah 9 provinsi. (Tempo)

Update COVID-19 global: Taj Mahal dibuka dan NZ akan longgarkan semua restriksi.

India membuka kembali Taj Mahal setelah enam bulan, seiring dengan laporan terdapat 86.961 kasus baru di sana. Pemerintah India juga melonggarkan restriksi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang terkontraksi hingga 24 persen di kuartal kedua. Sementara itu, New Zealand juga akan meniadakan restriksi di semua bagian negara mulai kemarin, kecuali Auckland. Kota terbesar ini akan menerapkan level 2, yakni di mana pertemuan sosial dibatasi hingga 100 orang.

Sementara itu dari Seoul dilaporkan bahwa sekolah di sana dan sekitarnya mulai kembali mengadakan proses belajar mengajar di kelas untuk pertama kalinya setelah hampir satu bulan. Keputusan ini diambil karena kasus harian terus menurun sejak pertengahan Agustus. Dan dari Inggris diperkirakan bahwa jika kondisi seperti sekarang terus berlanjut, akan terjadi 50.000 kasus per hari hingga akhir Oktober dan 200 lebih kematian per hari per November. Sementera itu menurut WHO, rute tercepat untuk mengakhiri pandemi dan mempercepat pemulihan ekonomi dunia adalah memastikan sejumlah orang divaksinasi di seluruh negara, bukan semua orang di sejumlah negara. Dan menurut Johns Hopkins University, jumlah total kasus COVID-19 global adalah 31.110.407, dengan 961.544 kematian, dan 21.285.899 kesembuhan. (Telegraph)

Iran siap menukar semua tahanannya dengan Amerika Serikat.

Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif, mengatakan dalam sebuah siaran virtual bahwa Iran siap untuk melakukan penukaran semua tahanannya dengan Amerika Serikat. Washington sudah lama menuntut Iran untuk membebaskan warganya, termasuk ayah dan anak berdarah Iran-Amerika, Baquer dan Siamak Namazi. Hubungan kedua negara ini memang semakin tidak harmonis sejak 2018 ketika Presiden Donald Trump mengundurkan diri dari perjanjian nuklir Iran 2015 dan menerapkan sanksi yang menyebabkan perekonomian Iran lumpuh. Sejauh ini, Iran menyangkal menahan orang atas dasar politik, melainkan hanya atas tuduhan spionase. (Reuters)

Twitter meminta maaf.

Twitter meminta maaf atas algoritma pemotongan gambar “rasis” setelah para pengguna menemukan fitur ini yang secara otomatis fokus pada wajah-wajah kulit putih ketimbang kulit hitam. Perusahaan ini mengatakan bahwa servis tersebut sebelumnya telah diujicobakan sebelum digunakan, tapi mengakui belum cukup netral. Isu ini pertama kali diangkat oleh seorang mahasiswa bernama Colin Madland pekan lalu yang menemukan bahwa ketika dirinya mengunggah fotonya bersama seorang teman kulit hitam, Twitter langsung memotong dan hanya fokus pada wajah Madland. Twitter bukan perusahaan teknologi pertama yang mengalami kesulitan menjelaskan mengapa algoritmanya bersifat rasis. Google juga pernah mengalami hal yang sama. (The Guardian)

Selanjutnya: Setelah menikmati Morning Briefing 22 September 2020, cek di sini untuk mengetahui apa bedanya introver dan pemalu.

podcast button