5 Hal yang Harus Kamu Tahu Hari Ini – 22 Oktober 2020

Morning Briefing 22 Oktober 2020
Foto: www.unsplash.com

Hola! Apa kabar kamu hari ini? Oh, jangan lupa menikmati teh hijau dan kopi hari ini karena sebuah penelitian baru menunjukkan minuman kafein ini baik untuk kesehatan. Semoga harimu menyenangkan, tetap pakai masker, jaga jarak saat di tempat umum, dan cuci tanganmu dengan benar. Dan berikut berita terbaru yang terangkum dalam Morning Briefing 22 Oktober 2020.

Vaksin Merah Putih mulai uji klinis pertama awal 2021.

Pemerintah mengatakan bahwa vaksin Merah Putih, buah karya anak negeri, akan mulai diuji klinis tahap pertama pada tiga bulan pertama 2021. inI Artinya, penemu akan mulai mengujikan obat pada 20 sampai 100 relawan yang memiliki penyakit atau kondisi tertentu. Jika persentase obat yang berhasil sebanyak 70 persen, maka obat tersebut layak menuju ke tahap berikutnya. Vaksin Merah Putih merupakan vaksin yang dikembangkan menggunakan isolat virus COVID-19 yang bertransmisi di Indonesia. Berbeda dengan vaksin lain seperti Sinovac dan Sinopharm, vaksin Merah Putih dikembangkan menggunakan platform protein rekombinan, DNA, dan RNA. Penggunaan vaksin yang dikembangkan di luar negeri merupakan upaya jangka pendek dilakukan pemerintah. Sementara vaksin Merah Putih merupakan upaya jangka menengah dari pemerintah. (Liputan6)

Pajak digital Spotify dan Amazon terus dikejar.

Pemerintah kini sudah bisa menarik pajak pertambahan nilai (PPN) dari perusahaan digital yang menyelenggarakan bisnis barang tidak berwujud atau pelaku usaha Perdagangan Melalui Sistem Elektronik (PMSE). ini termasuk Spotify, Netflix, Shopee Zoom, dan Amazon, yang meski secara fisik tidak hadir di Indonesia. Hingga akhir September 2020, pemerintah sudah mengantongi pajak digital dari pelaku usaha PMSE sekitar Rp96 miliar. Hingga akhir bulan lalu, enam pelaku usaha PMSE sudah menyetor pajak digital. Sementara, terdapat 36 perusahaan yang telah ditetapkan sebagai pemungut PPN atas bisnis barang tidak berwujud. (CNN Indonesia)

Update COVID-19 global: Alat tes baru berlaku di India, dan angka kelahiran merosot tajam di Jepang.

Tes coronavirus berbahan kertas dengan harga murah dan hasil cepat akan mulai tersedia di India minggu ini. Alat tes produksi lokal bernama Feluda ini akan mengeluarkan hasil dalam waktu satu jam dan diharapkan bisa membantu mengatasi pandemi di India. Sementara itu, Jepang mengalami penurunan drastis angka kelahiran bayi yang akan lahir 2021, dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Pada 2019 jumlah bayi yang lahir sudah mencetak angka terendah sepanjang masa yakni 865.000, tapi jika tren ini terus berlanjut bayi yang lahir tahun depan akan berjumlah kurang dari 800.000.

Pihak otoritas Australia menyatakan bahwa sedang mengobati seorang pasien yang kembali terinfeksi coronavirus. Meski ini belum kesimpulan final, tapi peneliti di sana mengatakan bahwa ini menjadi sebuah “peringatan penting”. Sementara itu pihak otoritas Meksiko menutup pemakaman bagi publik sebelum Day of the Dead. Dan uji coba vaksin Universitas Oxford dan AstraZeneca akan kembali berlangsung di AS minggu ini. Sebelumnya uji coba ini ditunda sejak 6 September saat seorang partisipan menjadi sakit. Menurut mesin penghitung Johns Hopkins Universitas, jumlah total kasus COVID-19 global adalah 40.932.220, dengan 1.126.789 kematian, dan 27.970.472 sembuh. (Telegraph)

Perdana Menteri Thailand menyerah.

Perdana Menteri Thailand Prayuth Chan-ocha akhirnya menyerah dan membatalkan status gawat darurat yang diberlakukannya minggu lalu untuk menghentikan demonstrasi yang sudah berlangsung tiga bulan. Akan tetapi para pemrotes mengatakan bahwa hal tersebut tidak cukup dan mendesaknya untuk mengundurkan diri dalam waktu tiga hari. Para demonstran ini sudah melakukan unjuk rasa selama berbulan-bulan dan menuntut Prayuth mengundurkan dan pengurangan kekuasaan Raja Maha Vajiralongkorn. Istana sendiri memiliki kebijakan untuk tidak memberikan komentar kepada media. (Reuters)

TikTok memperlebar pemblokiran ujaran kebencian.

Setelah melarang konten berbau neo-nazi dan white supremacy, sekarang pengaturan yang sama akan melebar ke topik lain, seperti white nationalism dan teori white genocide. Hal ini juga akan berlaku atas bahasa berkode dan simbol yang bisa menormalisasi ujaran dan sikap kebencian. Misalnya kode “HH” atau Heil Hitler, dan angka 14 yang mengacu pada slogan white supremacist yang memiliki panjang 14 kata. Konten yang bersifat misinformasi mengenai komunitas Yahudi, Islam, dan LGBTQ+ akan dilarang. Meski kebijakan baru ini disambut baik oleh aktivis, tapi bukti nyatanya masih ditunggu. (The Guardian)

Selanjutnya: Usai membaca Morning Briefing 22 Oktober 2020, jangan lupa membaca tentang bagaimana menghitung masa subur.