5 Hal yang Harus Kamu Tahu Hari Ini – 20 Oktober 2020

morning-briefing-20-oktober
Foto: www.unsplash.com

Hola! Semoga harimu menyenangkan, dan tetap pakai masker, jaga jarak saat berada di tempat publik, dan cuci tangan tangan dengan benar. Yep, sebuah penelitian baru menunjukkan bahwa coronavirus bisa bertahan di kulit hingga sembilan jam. Itu satu dari berita yang terangkum dalam Morning Briefing 20 Oktober 2020.

Pembangunan MRT Jakarta Fase 2A terancam molor.

Direktur Utama MRT William Sabandar menjelaskan semula proyek MRT Jakarta Fase 2A, khususnya segmen 2 (Harmoni-Kota) ditargetkan selesai pada Maret 2026, tapi, kini mundur menjadi Agustus 2027. Penyebabnya adalah masalah tender yang gagal dan pengadaan rolling stock (kereta) yang tak dilirik sedikit pun oleh kontraktor Jepang. Keengganan ini dikarenakan tingkat kesulitan untuk pembangunan konstruksinya tinggi dan jadwal konstruksi juga ketat, yakni 57 bulan. Jika investor Jepang tak berminat untuk terlibat dalam pengerjaan MRT Fase 2A, pemerintah perlu membuka kesempatan partisipasi kontraktor internasional non Jepang. (CNN Indonesia)

Beberapa relawan uji klinis vaksin COVID-19 dilaporkan sakit.

Menurut Manajer Tim Riset uji vaksin dari Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran, Eddy Fadlayana, sakitnya relawan tersebut bukan karena imunisasi, melainkan penyakit bawaan yang kumat. Seperti sakit tipes, rematik, dan maag. Belum ada keterangan jumlah pasti relawan yang sakit, tapi menurut Eddy hanya sedikit dan “tidak ada yang berat”. Hasil swab test para relawan ini juga semuanya dinyatakan negatif. Semua relawan yang berjumlah 1.620 orang telah mendapat suntikan pertama dari vaksin Sinovac ini, dan 600 di antaranya sudah mendapatkan suntikan kedua. Laporan hasil riset uji klinis vaksin akan diberikan pada Desember 2020. (Tempo)

Belanda tawarkan kompensasi pada anak Indonesia yang orangtuanya dieksekusi di masa penjajahan.

Kemarin, pemerintah Belanda mengatakan akan menawarkan kompensasi kepada anak-anak Indonesia yang orangtuanya dieksekusi oleh tentara Belanda selama perang antara 1945 dan 1950. Pemerintah menjanjikan 5.000 euro untuk setiap orang yang memiliki bukti ayahnya dieksekusi selama konflik. Dalam sidang pengadilan tahun lalu dikatakan bahwa tentara Belanda mengeksekusi lawan tanpa proses hukum dan menyiksa selama melakukan interogasi. Belanda sebelumnya telah menawarkan kompensasi pada janda dari orang yang dieksekusi, tapi selalu menolak membayar ganti rugi kepada anak-anak mereka. Perang ini berlangsung sejak 1945 dan berakhir pada Desember 1949, ketika Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia. (Reuters)

Update COVID-19 global: India lewati titik puncak, dan rencana Unicef timbun jarum suntik.

India melaporkan angka kematian harian terendah dalam tiga bulan terakhir seiring para ilmuwan mengatakan negara tersebut telah melewati titik puncak pandemi. Komite ilmuwan mengatkan bahwa penyakit ini akan “berakhir” pada Februari 2021 jika semua orang memakai masker dan melakukan social distancing. Sementara itu Unicef menggelontorkan rencana untuk menimbun lebih dari setengah miliar jarum suntik sebelum Natal di seluruh dunia. Hal ini dilakukan untuk menghindari kekurangan jarum suntik yang bisa menyebabkan pengadaan vaksin terhambat.

Korea Selatan melaporkan 76 kasus baru coronavirus saat pihak otoritas mulai melakukan tes terhadap puluhan ribu pekerja di rumah sakit dan panti jompo untuk mencegah transmisi di fasilitas serupa. Sementara itu sebuah penelitian dari Jepang menemukan bahwa virus ini dapat bertahan hidup di kulit hingga sembilan jam. Hal ini semakin menitikberatkan pentingnya mencuci tangan. Dan Polandia berencana untuk mengubah stadium di Warsawa menjadi rumah sakit dengan 500 kamar karena jumlah kasus yang makin melonjak. Menurut Johns Hopkins University, jumlah total kasus COVID-19 global adalah (Telegraph)

Pakistan tidak lagi memblokir TikTok.

Hanya 10 hari setelah memblokir aplikasi ini, Otoritas Telekomunikasi Pakistan memperbolehkan TikTok kembali beroperasi. Sebelumnya pemblokiran ini dilakukan atas dasar pertimbangan video-video di aplikasi tersebut “tidak bermoral” dan “tidak senonoh”. Akan tetapi, TikTok telah meyakinkan pihak otoritas bahwa video akan dimonitor “menurut norma sosial dan hukum Pakistan.” Sebelum pemblokiran ini terjadi, TikTok tidak terlalu responsif terhadap permintaan restriksi akun dan video di aplikasinya. Pakistan adalah pasar TikTok ke-12 terbesar di dunia dalam hal pemasangan, dengan total 43 juta install. Sementara itu, TikTok tetap dilarang di India, dan masih terancam di Amerika Serikat. (The Verge)

Selanjutnya: Seetelah membaca Morning Briefing 20 Oktober 2020, pastikan kamu mengetahui bagaimana membantu orang yang menderita bipolar.