5 Hal yang Harus Kamu Tahu Hari Ini – 2 Oktober 2020

Morning Briefing 2 Oktober
Foto: www.unsplash.com

Uh-uh, ini hari jumat, dan berarti akhir pekan sudah dekat! Oh, yeah! Mari tetap memakai masker, jaga jarak saat berada di ruang publik, dan cuci tangan dengan benar. Selamat menikmati harimu, dan berikut lima berita terbaru dalam Morning Briefing 2 Oktober 2020.

Warga DKI Jakarta diijinkan isolasi mandiri di rumah.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memberikan ijin pasien COVID-19 di Jakarta untuk melaksanakan isolasi mandiri di rumah dengan berbagai persyaratan. Sejumlah aturan yang dipenuhi antara lain, pengawasan dan pemantauan kesehatan pasien oleh lurah dan RT/RW. Selain itu, lurah juga harus menempelkan tanda di rumah orang yang sedang melakukan isolasi mandiri. TIdak hanya itu, pasien juga dilarang bepergian keluar rumah dan berinteksi langsung dengan keluarga atau kerabat selama masa isolasi. Di samping itu, pasien juga diwajibkan selalu memakai masker di rumah, dan menghindari pemakaian bersama peralatan makan dan mandi. (Liputan6)

Pemerintah bentuk tim gabungan untuk kasus pembunuhan di Papua.

Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD yang menyatakan bahwa tim ini akan melibatkan pejabat pemerintah, akademisi, tokoh agama, dan komunitas. Tim ini dibentuk sehingga bisa lebih objektif dalam menginvestigasi peristiwa pembunuhan ini. Dalam beberapa minggu ini, media melaporkan sejumlah peristiwa pembunuhan di wilayah Intan Jaya, Papua. Mahfud mengonfirmasi bahwa kematian seorang pendeta, seorang warga sipil dan dua anggota TNI, merupakan tanggung jawab kelompok kriminal bersenjata. Sementera itu, Persatuan Gereja Indonesia menuduh pendeta yang tewas, Yeremia Zanambani, adalah karena dibunuh oleh seorang anggota TNI. Pihak militer menyangkal hal ini. (The Jakarta Post)

Update COVID-19 global: India buka bioskop dan Afrika Selatan ijinkan pengunjung internasional.

Meski jumlah kasus makin bertambah, India memutuskan untuk mengijinkan bioskop dan taman hiburan dibuka kembali mulai 15 Oktober. Hal ini dilakukan untuk menggerakkan kembali ekonomi yang terpuruk karena pandemi. Per kemarin, India melaporkan setidaknya 6,3 juta kasus dan 98.000 kematian. Sementara itu, Afrika Selatan akan mulai membuka pintunya untuk turis international mulai kemarin (1/10) untuk pertama kalinya sejak Maret. Meski begitu, sejumlah negara Eropa dengan risiko tinggi, Amerika Serikat dan mayoritas Amerika Latin belum boleh masuk.

Di sisi lain, Turki mengakui bahwa tidak menghitung kasus tanpa gejala dalam penghitungan hariannya, melainkan hanya pasien bergejala. Turki sendiri menerapkan lockdown sebagian selama akhir pekan dan libur nasional, melarang perjalanan antar kota dan menutup fasilitas sosial seperti gim dan kafe. Akan tetapi menghindari melakukan hal yang ekstrem yang bisa membuat ekonomi semakin melemah. Sementara itu sebuah laporan baru dari Universitas Cornell menyimpulkan bahwa Presiden Donald Trump menjadi pendorong utama “infodemi”, yakni kebohongan yang berkaitan dengan pandemi. Para peneliti mendapatkan kesimpulan ini setelah menganalisas 38 juta artikel tentang pandemi di media berbahasa inggris di seluruh dunia. Menurut mesin penghitung Johns Hopkins University, jumlah total kasus COVID-19 global adalah 34.080.123, dengan kematian 1.015.815, dan 23.688.865 kesembuhan. (New York Times)

Turki tolak anjuran gencatan senjata dari Rusia, Prancis, dan AS.

Presiden Prancis, Rusia, dan Amerika Serikat menyerukan genjatan senjata segera antara pasukan Azerbaijan dan etnis Armenia di sekitar Nagorno-Karabakh, kemarin. Akan tetapi, Turki mengatakan bahwa tiga kekuatan besar tersebut tidak memiliki peran dalam proses perdamaian. Presiden Turki Tayyip Erdogan mengatakan bahwa oleh karena ketiga negara telah mengabaikan masalah ini selama hampir 30 tahun, sehingga tidak layak terlibat dalam penentuan genjatan senjata. Menutur Erdogan, sebuah genjatan senjata bisa terjadi hanya jika “penjajah Armenia” mundur dari Nagorno-Karabakh. Lusinan orang dilaporkan tewas dan ratusan terluka sejak Minggu di daerah tersebut. Nagorno-Karabakh lepas dari Azerbaijan pada sebuah perang di 1991-94 yang membunuh 30.000 orang, tapi tidak diakui sebagai sebuah republik independen oleh dunia internasional. (Reuters)

Pengadilan memutuskan roti yang dipakai Subway bukan roti.

Mahkamah Agung Irlandia memutuskan bahwa roti yang digunakan Subway, toko lapis raksasa AS dengan 110 cabang di seluruh dunia, ternyata tidak bisa disebut sebagai roti karena kandungan gula yang tinggi di dalamnya. Keputusan ini dikeluarkan setelah sebuah cabang Subway di Irlandia, Bookfinders Ltd, mengajukan naik banding. Perusahaan ini berargumen bahwa roti yang digunakan pada roti lapis Subway termasuk makanan pokok dan harusnya bebas dari VAT (value-added tax). Akan tetapi, pengadilan menyatakan bahwa roti yang dipakai oleh Subway masuk ke dalam kategori “makanan untuk memanjakan” sama seperti es krim, cokelat, dan popcorn. Pasalnya, menurut undang-undang VAT Irlandia, untuk disebut roti (makanan pokok), kandungan di dalam gula tidak boleh melebihi 2% dari berat tepung yang dimasukkan ke dalam adonannya. (The Guardian)

Selanjutnya: Selesai membaca Morning Briefing 2 Oktober 2020, jangan lupa mengecek cara mendeteksi orang yang gaslighting kamu.

podcast button