5 Hal yang Harus Kamu Tahu Hari Ini – 2 Juni 2020

Morning Briefing 2 Juni 2020
Foto: www.unsplash.com

Hello, there! Begitu banyak hal yang terjadi selama akhir pekan ini di berbagai belahan dunia dan mungkin membuat kamu semakin cemas dan stres. Sebuah penelitian terbaru dari Universitas Yale mengatakan bahwa salah satu cara untuk mengendalikan stres adalah mengingat memori positif. Apa memori paling positif yang kamu miliki dalam tiga bulan belakangan? Berhasil memasak menu masakan baru? Tidur nyenyak delapan jam tanpa ada yang mengganggu? Anyways, tetap nikmati hari ini dan berikut lima berita yang terangkum dalam Morning Briefing 2 Juni 2020.

Jawa Barat tidak direkomendasikan menerapkan new normal.

Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Pusat belum merekomendasikan Jawa Barat sebagai wilayah yang diizinkan menerapkan AKB (Adaptasi Kebiasaan Baru) atau new normal. Dari 102 nama daerah yang direkomendasikan untuk menerapkan new normal, Jawa Barat tidak termasuk di dalamnya. Alasannya, karena masih ada tambahan kasus positif setiap harinya. Sebagai informasi, pemerintah Jabar mulai mengijinkan 60 persen atau sekitar 15 daerah untuk menerapkan AKB mulai kemarin. Baca berita lengkapnya di Medcom.

Pemerintah ingin lebih meningkatkan jumlah spesimen per hari.

Selama enam hari berturut-turut, jumlah target spesimen baru selalu melampuai angka 10.000. Dan pemerintah yakin jumlah ini bisa ditingkatkan. Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19, Achmad Yurianto menjelaskan ada beberapa faktor yang membuat jumlah spesimen terus meningkat, di antaranya jumlah laboratorium dan reagen. Sejauh ini, ada dua jenis tes yang dipakai untuk menguji sampel, yakni real time-polymerase chain reaction (RT-PCR) dan tes cepat molekular (TCM). Tes ini biasanya digunakan untuk TBC. Namun, dengan cartridge khusus maka alat TCM bisa digunakan untuk mengetes sampel untuk uji spesimen COVID-19. Baca berita lengkapnya di Detik.

Update COVID-19 global: India melonggarkan lockdown dan PM Armenia tes positif.

Terlepas dari angka kasus baru yang semakin meningkat selama akhir pekan, India melonggarkan kembali lockdown kemarin. Bisnis swasta sekarang bisa beroperasi dengan bebas, dan perjalanan antar-negara bagian diijinkan untuk barang dan orang. Hal yang sama juga dilakukan pemerintah Rusia, yang melonggarkan lockdown di Moscow dan mewajibkan pemakaian masker. Turki juga membuka kembali restoran, kafe, dan taman kemarin. Sementara itu pemerintah Jepang sedang mempertimbangkan untuk memperbolehkan masuk sejumlah turis dari negara yang memiliki infeksi rendah, yakni Thailand, Vietnam, Australia dan New Zealand. Sementara para dokter di Prancis mengatakan bahwa obat artritis, anakinra, diperkirakan bisa dipakai untuk mengobati COVID-19. Dan PM Armenia Nikol Pashinyan menyatakan bahwa dirinya dan seluruh keluarganya positif terinfeksi virus ini. Menurut mesin penghitung Johns Hopkins University, total jumlah kasus COVID-19 global adalah 6.198.167, dengan 372.566 meninggal dan 2.659.108 sembuh. Baca berita lengkapnya di Telegraph.

Rihanna, Ariana Grande, Beyonce, Billie Eilish menyuarakan solidaritas terhadap demonstran.

Sejumlah selebriti menggunakan platform mereka untuk mendukung demonstran dan mengecam brutalitas polisi, menyusul kematian George Floyd dan warga Amerika kulit hitam lainnya. Termasuk, Rihanna, Ariana Grande, Travis Scott, Halsey, Taylor Swift, Beyonce, Jay-Z, dan Billie Eilish. Di dalam akun Instagramnya, Eilish, mengkritik penggunaan frasa “all lives matter” yang merespon gerakan Black Lives Matter. Sementara itu, Jay-Z mengunggah bahwa dirinya sudah berbicara dengan gubernur Minnesota Tim Walz dan menyambut gembira penunjukkan Keith Ellison, seorang kulit hitam, sebagai jaksa yang menangani kasus tersebut. Sebelumnya diberitakan bahwa Floyd meninggal di tangan seorang polisi berkulit putih hari Senin minggu lalu. Baca berita lengkapnya di The Guardian.

Sejumlah pegawai Facebook mengkritik Mark Zuckerberg.

Menyusul pembiaraan Facebook terhadap ujaran provokatif dari Presiden Donald Trump, sejumlah karyawan senior menyuarakan kritik mereka terhadap CEO perusahaan tersebut secara publik. Ryan Frietas, direktur desain produk Facebook News Feed, menuliskan di Twitter-nya, “Mark salah, dan saya akan berjuang untuk mengubah pikirannya.” Dia menambahkan bahwa sudah berhasil memobilisi kurang lebih 50 orang dengan pikiran yang sama untuk mendorong perubahan internal. Para pegawai ini memuji tindakan Twitter yang menyembunyikan cuitan Trump pada Jumat lalu. Twitter menjelaskan bahwa tindakan itu diambil karena ciutan tersebut melanggar kebijakan tentang “hasutan kekerasan.” Baca berita lengkapnya di Reuters.

Selanjutnya: Selesai membaca Morning Briefing 2 Juni 2020, pastikan kamu mengetahui apa yang sebaiknya dilakukan saat pasangan menolak punya anak.