5 Hal yang Harus Kamu Tahu Hari Ini – 18 September 2020

Morning Briefing 18 September
Foto: www.unsplash.com

Oh, yeah, akhirnya weekend! Tetap pakai masker kamu saat keluar rumah, jaga jarak saat di tempat publik, dan cuci tangan dengan benar. Selamat menikmati akhir pekan, dan berikut lima berita terbaru yang terangkum dalam Morning Briefing 18 September 2020.

Hampir 92% pasien COVID-19 di sejumlah daerah memiliki komorbiditas.

Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Satuan Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo yang mengatakan bahwa kondisi tersebut membuat pasien memiliki risiko tinggi terhadap virus ini. Kesimpulan ini didasarkan pada data pasien dari enam bulan belakangan, dengan komorbiditas terbanyak diabetes. Doni menambahkan Jawa Timur adalah provinsi dengan pasien diabetes terbanyak. Penyakit bawaan terbanyak kedua adalah hipertensi, penyakit jantung, kelainan paru-paru dan pernapasan, kelainan ginjal, asma dan kanker. Dia juga menyampaikan bahwa sejauh ini pemerintah telah mengetes 30.000 spesimen per hari, meski masih di bawah standar WHO yakni 38.000 orang per hari. (The Jakarta Post)

Malaysia longgarkan larangan masuk bagi WNI.

Setelah sempat melarang WNI masuk karena COVID-19, Malaysia kita sudah mulai melonggarkan larang tersebut. Kelonggaran ini diperuntukkan bagi ekspatriat dan pemegang izin kunjungan profesional yang telah mendapat persetujuan dari Departemen Imigrasi Malaysia sebelum memasuki negara itu. Pemerintah Malaysia juga memutuskan untuk mengizinkan penduduk tetap, serta pasangan asing warga negara Malaysia untuk masuk ke Malaysia. Syaratnya, mereka hanya memiliki tiket penerbangan satu arah dan tetap tinggal di Malaysia. Rileksasi ini juga diterapkan untuk 23 negara lainnya. (Medcom)

Update COVID-19 global: NZ masuki resesi terburuk, dan 170 negara ikut rencana distribusi vaksin dunia.

New Zealand memasuki masa resesi pertama sejak satu dekade, dan kontraksi ekonomi ini “terbesar dalam sejauh ini”. Selama lockdown dan perbatasan ditutup, sektor konstruksi dan manufaktur turun drastis. Sementara itu, Direktur Jenderal WHO, Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan bahwa sekarang ada lebih dari 170 negara berpartisipasi dalam rencananya untuk mendistribusikan vaksin secara adil ke seluruh dunia. Perwakilan WHO juga menyarankan agar karantina 14 hari tetap diberlakukan.

Dari Afrika Selatan dilaporkan negara ini akan membuka perbatasannya untuk pendatang internasional mulai awal bulan depan seiring dengan terus menurunnya kasus coronavirus. Sementara itu, menurut Eric Feigl-Ding, seorang epidemiolog dan ahli ekonomi kesehatan dari Federasi Ilmuwan Amerika mengatakan makan dan minum di ruangan tertutup tanpa masker bisa berbahaya. Pasalnya, virus bisa berpindah melalui udara. Dan tren “flights to nowhere” semakin heboh dengan semakin banyaknya maskapai yang memiliki program ini. Menurut mesin penghitung Johns Hopkins University, jumlah total kasus COVID-19 global adalah 29.925.969, dengan 942.076 orang meninggal dan 20.356.242 sembuh. (Telegraph)

Facebook rilis aplikasi untuk mengatur jadwal Instagram dan Facebook.

Kemarin pagi Facebook meluncurkan sebuah aplikasi baru yang didesain untuk mempermudah bisnis untuk mengatur laman dan profil mereka di Facebook, Instagram dan Messenger dari satu tempat. Aplikasi ini disebut Facebook Business Suite, yang menawarkan metode untuk mengatur jadwal unggahan untuk Facebook dan Instagram. Juga bisa memperlihatkan Insights dan menciptakan iklan. Aplikasi ini bisa diakses dari desktop dan mobile. Aplikasi ini juga tersedia sebagai aplikasi mandiri untuk pengguna iOS dan Android. Untuk menggunakannya, bisnis harus terlebih dahulu memiliki akun bisnis, baik untuk Facebook dan Instagram. (TechCrunch)

Greta Thunberg dinominasikan menjadi penerima Nobel Peace Prize.

Aktivis lingkungan berusia 17 tahun asal Swedia tersebut dinominasikan oleh tiga pembuat hukum Norwegia dan dua anggota parlemen Swedia. Jika dia menang, maka Thunberg akan menerima Nobel di usia yang sama dengan Malala Yousafzai, penerima Nobel termuda sejauh ini. Komite Nobel pernah memberikan penghargaan ini kepada aktivis lingkungan, termasuk Wangari Maathai (Kenya) pada 2004 atas kampanye penanaman 30 juta pohon di seluruh Afrika. Selain itu, Al Gore dan Intergovernmental Panel on Climate Change pada 2007. Pemenang yang akan dihadiahi $1 juta ini akan diumumkan pada 9 Oktober di Oslo. (Reuters)

Selanjutnya: Usai membaca Morning Briefing 18 September 2020, jangan lupa membaca mengapa 4 sehat lima sempurna sudah tidak relevan.

podcast button