5 Hal yang Harus Kamu Tahu Hari Ini – 18 November 2020

Morning Briefing 18 November
Foto: www.unsplash.com

Hai, hai! Bagaimana bulan November kamu sejauh ini? Tetap rajin pakai masker saat keluar rumah ya, dan jaga jarak saat di tempat publik dan cuci tangan dengan benar dan secara teratur. Semoga harimu menyenangkan, dan berikut lima berita terbaru yang terangkum dalam Morning Briefing 18 November 2020.

BPOM mencabut izin edar 23 obat COVID-19.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mencabut izin edar obat COVID-19 yang mengandung Chloroquine Phosphate dan Hydroxychloroquine Sulfate. Hal tersebut dilakukan sehubungan perkembangan studi klinik terbaru. Dengan keputusan ini, BPOM mengimbau agar obat yang mengandung Hydroxychloroquine Sulfate dan Chloroquine Phosphate tidak digunakan lagi dalam pengobatan coronavirus ini. BPOM juga memberitahukan daftar nama obat, sediaan, serta nama perusahaan farmasi yang memegang Emergency Use Authorization (EUA). (Kompas)

MK meminta pemerintah jelaskan tahapan pemblokiran di Papua.

Permintaan ini berkaitan dengan pemblokiran situs berita Suara Papua pada November 2016. Ketika itu, portal berita yang menyajikan isu seputar Papua tak bisa diakses sehingga berimbas kepada terhambatnya kerja-kerja jurnalistik. Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi meminta pemerintah menjelaskan kiteria apa saja yang dijadikan acuan sehingga akhirnya memblokir situs berita tersebut. Hakim juga meminta pemerintah untuk menjelaskan rangkaian peristiwa ataupun tindakan yang sudah ditempuh sebelum memblokir Suara Papua. Sidang ini merupakan sidang lanjutan dari perkara yang diajukan oleh Pemimpin Redaksi Suara Papua, Arnoldus Belau, dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Sidang ini akan dilanjutkan kembali pada 2 Desember 2020 dengan agenda keterangan ahli yang dihadirkan para pemohon. (CNN Indonesia)

Update COVID-19 global: Restriksi diberlakukan lagi di Korea Selatan, dan satu kasus baru di Australia.

Pemerintah Korea Selatan memberlakukan kembali social distancing ketat dan usaha pencegahan seiring jumlah kasus baru terus meningkat. Ini artinya, hanya dua-pertiga siswa yang akan menghadiri sekolah, dan restoran ditutup. Aturan ini berlaku di area Seoul dan sekitarnya. Sementara itu, Australia Selatan menambahkan satu kasus lokal baru kemarin, yang berkaitan dengan klaster sebuah hotel. Australia Selatan kembali memberlakukan restriksi pada Senin, termasuk menutup gim dan membatasi pengunjung restoran untuk membatasi penyebaran virus.

India melaporkan akan merencanakan kebijakan lockdown baru di New Delhi karena ada tanda infeksi meningkat lagi, meski kasus harian nasional mulai menurun. Jika disetujui pemerintah pusat, area perbelanjaan akan tutup dan tamu pernikahan akan dibatasi menjadi 50 orang (bukan 200 orang). Sementara itu China memperketat skirining dan sterilisasi makanan beku impor, terutama dari Jerman, Argentina, Ekuador dan Indonesia. Hal ini dilakukan setelah kemasan makanan tersebut positif terinfeksi coronavirus. Menurut mesin penghitung Johns Hopkins University, jumlah total kasus COVID-19 global adalah 55.204.949, dengan 1.330.299 kematian, dan 35.490.309 sembuh. (Financial Times)

Sebanyak 1% orang menyebabkan emisi aviasi global.

Sebuah penelitian terbaru yang diterbitkan di jurnal Global Environmental Change menunjukkan bahwa 1% orang menyebabkan setengah dari emisi aviasi global pada 2018. Di tahun tersebut hanya 11% dari populasi dunia yang menggunakan pesawat dan 4% terbang ke luar negeri. Sejauh ini, penumpang dari Amerika Serikat merupakan penyumbang carbon footprint terbesar di antara negara-negara kaya lainnya. Emisi aviasinya bahkan lebih besar daripada emisi gabungan milik 10 negara lain, termasuk inggris, Jepang, Jerman, dan Australia. Para peneliti ini mengatakan bahwa studi tersebut menunjukkan bahwa sebuah elit grup menikmati penerbangan secara berkala yang berdampak pada krisis iklim yang memengaruhi setiap orang. Studi lain dari peneliti yang sama menemukan bahwa setengah dari “leisure flights” yang dilakukan penumpang bersifat tidak penting, melainkan terjadi karena harga tiket murah. (The Guardian)

TikTok hadirkan fitur agar orang tua bisa kendalikan akun anak.

Aplikasi video ini semakin memaksimalkan fitur “Family Pairing” yang diperkenalkannya awal tahun ini, sehingga membuat orang tua bisa menghubungkan akun mereka dengan akun anak. Dengan begini, orang tua memiliki lebih banyak kontrol, termasuk kemampuan memonitor apa yang dilihat anak remaja mereka di platform tersebut. Dengan fitur ini, orang tua bisa menentukan konten, pengguna, tagar atau suara seperti apa yang bisa dicari oleh anak mereka. Selain itu, orang tua juga bisa memutuskan apakah akun anaknya bersifat publik atau private. (Reuters)

Selanjutnya: Jika sudah selesai membaca Morning Briefing 18 November 2020, jangan lupa mengecek mengapa status jomblo sering kali membuatmu minder.