5 Hal yang Harus Kamu Tahu Hari Ini – 17 Februari 2020

Foto: www.canva.com

Hi, kamu! Seberapa sibuk pun kamu hari ini, cuci tanganmu secara teratur dan benar. Dan jangan bawa ponsel ke toilet. Ini bisa membuatmu terkena virus yang tidak diinginkan, karena banyak hal yang kamu sentuh (termasuk yang kotor) akan menempel di ponselmu. Yikes. Selamat menikmati harimu dan berikut lima berita terbaru yang terangkum dalam Morning Briefing 17 Februari 2020.

Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) menolak RUU Omnibus Law Cipta Kerja.

KSPI juga menolak duduk bersama dengan pemerintah karena alasan tersebut. Dalam sebuah konferensi pers, pihak KSPI mengatakan bahwa mereka tidak pernah diundang dan dimintai pandangan mengenai RUU tersebut. Menurut KSPI, banyak sekali pasal dalam RUU itu yang tidak sesuai dengan hak pekerja, termasuk hak pesangon dan upah minimum yang dihapus, serta sistem outsourcing yang bebas. Presiden KSPI Said Iqba juga menyebut RUU ini justru menguntungkan tenaga kerja asing (TKA), yang akan bebas masuk ke Indonesia. Baca berita lengkapnya di Detik.

Kepastian pembangunan GKI Yasmin akan diputuskan pada pertengahan 2020.

Hal tersebut disampaikan oleh Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto yang juga menyatakan bahwa masalah ini sudah disampaikan kepada Menko Polhukam Mahfud Md. Bima berharap, apa pun opsi yang akan ditetapkan nanti, semua pihak bisa menerimanya dengan baik. Wali Kota tersebut juga mengatakan bahwa saat ini Pemerintah Provinsi Bogor sedang melakukan komunikasi dengan pihak GKI Yasmin. Polemik GKI Yasmin sudah terjadi sejak 2008 karena meski mendapat pembangunan izin dari pemerintah setempat, berkembang penolakan dari warga. Baca berita lengkapnya di Liputan6.

China mengumumkan penurunan jumlah kasus coronavirus selama tiga hari berturut-turut.

Pada pertengahan minggu lalu, jumlah kasus yang berkaitan dengan penyakit Covid-19 ini sempat melonjak setelah pemerintah setempat menggunakan metode pendeteksi baru. Akan tetapi, sejak saat itu jumlahnya semakin menurun. Pada Minggu (16/02) dilaporkan 2.009 kasus baru dan 142 karbon meninggal di seluruh China. Secara keseluruhan, lebih dari 68.000 orang terinfeksi di China dan 1.665 sejak wabah virus ini melanda negara tersebut. Di luar China, terdapat lebih dari 500 kasus di hampir 30 negara. Sementara itu, Taiwan baru saja melaporkan kasus kematian pertama, kemarin. Empat korban meninggal lainnya di luar China, berasal dari Prancis, Hong Kong, Filipina dan Jepang. Baca berita lengkapnya di BBC.

Pemerintah Sudan Selatan diduga menutupi laporan yang menyatakan polusi minyak menyebabkan keguguran dan cacat lahir.

Sejumlah laporan lingkungan yang berasal dari 2013 itu memperlihatkan bahwa selama bertahun-tahun pemerintah dan perusahaan minyak telah mengetahui kontaminasi dari pengeboran bisa membahayakan kesehatan warga lokal. Akan tetapi, warga lokal menyatakan bahwa usaha yang dilakukan oleh kedua pihak tersebut untuk mengatasinya masih sangat kurang. Laporan tersebut juga berisi informasi sejumlah cacat kelahiran, keguguran dan isu kesehatan lainnya yang dialami warga yang berdomisili di dekat ladang minyak. Meski belum ada informasi yang jelas yang bisa menjelaskan kaitan polusi dan masalah kesehatan, tapi sejumlah pihak khawatir karena terkesan ada usaha untuk mengubur laporan ini. Baca berita lengkapnya di Independent.

Anya Hindmarch meluncurkan tas “I Am A Plastic Bag.”

Masih ingat dengan tas “I’m Not A Plastic Bag” yang bikin heboh ketika diluncurkan pada 2007? Anya Hindmarch, peciptanya, mengeluarkan tas “tandingannya” dengan nama “I Am Plastic Bag” bulan ini. Dibuat dari plastik yang didaur ulang dan sustainable leather, Hindmarch bermaksud untuk membuat tas dari bahan-bahan bekas untuk mengurangi jejak karbon dan mengurangi sampah. Hindmarch mengatakan bahwa dibutuhkan waktu dua tahun untuk mengembangkan bahan plastik yang berkualitas. FYI, tas ini merupakan hasil daur ulang dari 32 botol mineral 500ml. Tas ini dibuat di Italia, tapi fabriknya diproduksi di Taiwan. “Ini adalah satu-satunya tempat di dunia yang bisa menciptakan tas ini,” katanya di sebuah wawancara. Baca interview lengkapnya di Financial Times.

Selesai menyantap Morning Briefing 17 Februari 2020, baca ini dulu sebelum menikmati yang manis-manis hari ini.