5 Hal yang Harus Kamu Tahu Hari Ini – 15 April 2020

Morning Briefing 15 April 2020
Foto: www.canva.com

Selamat pagi! Apa pun yang kamu lakukan hari ini, jangan lupa cuci tangan secara regular, minum air putih, konsumsi makanan sehat, dan usahakan tetap di rumah. Selain itu, cobalah berusaha menikmati hari ini dan berikut lima berita terbaru yang terangkum dalam Morning Briefing 15 April 2020.

Sebanyak 139.137 warga Indonesia yang masuk dalam kategori ODP diminta untuk melakukan karantina mandiri.

Juru bicara pemerintah untuk penanganan COVID-19 Achmad Yurianto menyatakan bahwa orang-orang dalam kelompok ini diminta waspada karena tak menutup kemungkinan terinfeksi meski merasa sehat. Dan Orang Dalam Pemantauan (ODP) ini juga bisa berpotensi menjadi sumber penularan jika tidak segera melakukan karantina mandiri. Yuri juga menyatakan bahwa ada 10.482 orang dalam pengawasan (PDP). Namun, baru 31.628 orang yang menjalani tes metode Polymerase Chain Reaction (PCR). Dari total itu, 4.838 orang di antaranya positif COVID-19 dan 26.789 orang dinyatakan negatif. Pemerintah berjanji akan meningkatkan kapasitas pemeriksaan sampel untuk percepatan penanganan wabah ini. Baca berita lengkapnya di Medcom.

THR untuk sebagian ANS akan cair, meski jumlahnya berkurang.

Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang memastikan tunjangan hari raya (THR) untuk aparatur sipil negara (ASN), TNI, dan Polri akan dibayarkan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan. Hanya saja, pencairan THR tersebut hanya berlaku untuk ASN yang jabatannya setara dengan eselon III ke bawah. Jumlah THR tahun ini akan berbeda dengan tahun sebelumnya, karena hanya meliputi gaji pokok plus tunjangan melekat, seperti tunjangan istri/suami dan anak. Akan tetapi, tidak termasuk tunjangan kinerja (tukin). Sementara itu, THR tidak akan didapat oleh presiden, wakil presiden, menteri, dan anggota DPR dan DPD. Baca berita lengkapnya di Kompas.

Sejumlah kreditur besar internasional sepakat untuk memberikan penundaan pembayaran utang kepada negara-negara termiskin.

Sebanyak 76 negara—di antaranya 40 negara di sub-Sahara Afrika—berhak mendapatkan penundaan pembayaran utang yang jika dikombinasikan bernilai $20 miliar. Sementara para pemerintah kreditur, termasuk Paris Club, China dan anggota G20, berencana untuk menunda pembayaran utang dari sejumlah negara sebesar $12 miliar. Sebagai informasi, China telah menjadi kreditur utama untuk negara-negara berkembang, terutama di Afrika, meski memang tidak ada keterangan berapa jumlah utang-utang negara tersebut. Sebelumnya, bulan lalu Bank Dunia dan IMF meminta para pemerintah kreditur untuk memberikan keringanan utang. Dan Senin lalu, IMF akan melakukannya kepada 25 negara dalam program yang disebut “Catastrophe Containment and Relief Trust“. Baca berita lengkapnya di Reuters.

Update COVID-19 global: dua vaksin di China disetujui untuk diujicobakan pada manusia dan beberapa negara melonggarkan restriksi.

Perdana Menteri India Narendra Modi memperpanjang karantina seluruh negara selama lebih dari tiga minggu dan mewanti-wanti warganya untuk tetap hati-hati. Sementara itu, parlemen Turki setuju untuk membebaskan puluhan ribu tawanan untuk mengurangi penyebaran virus ini di penjara. Sementara itu beberapa negara di Eropa melonggarkan pergerakan warga, di antaranya Spanyol, Austria, dan Italia yang memperbolehkan toko-toko kecil untuk dibuka lagi. Sementara Denmark memperbolehkan anak di bawah umur 11 tahun kembali ke sekolah, dan Polandia pelan-pelan mulai membuka perekonomian. Menurut mesin penghitung Johns Hopkins University, jumlah kasus total mencapai 1.942.360, meninggal 121.726 orang, dan sembuh 465.073 orang. Baca berita lengkapnya di New York Times.

Partai feminis pertama Korea Selatan diperkirakan bisa mendapatkan kursi di majelis nasional.

Dua tahun setelah Korea Selatan menjadi pusat gerakan #MeToo di Asia, Partai Formasi Perempuan diharapkan bisa menorehkan sejarah menjadi partai feminis pertama yang memenangkan kursi di majelis nasional. Partai yang baru diluncurkan bulan lalu ini menitikberatkan kampanyenya pada isu-isu perempuan yang selama ini diabaikan, seperti diskriminasi seksual dan kekerasan. Meski makmur secara ekonomi dan teknologi, Korea Selatan sangat konservatif dan patriarki. Menurut indeks Global Gender Gap versi World Economic Forum, negara ini menduduki peringkat ke-108 dari 153, dan hanya terdapat 17% perempuan yang menjadi anggota parlemen. Angka ini jauh di bawah rata-rata dunia, yakni 25%. Meski begitu, partai ini harus bekerja keras menarik perhatian para pemberi suara, karena saingannya adalah dua partai utama, yakni Partai Demokrasi Liberal dan Partai United Future. Baca berita lengkapnya di The Guardian.

Selanjutnya: usai membaca Morning Briefing 15 April 2020, baca penjelasan dokter kandungan ini tentang hamil saat pandemik COVID-19.

podcast button