5 Hal yang Harus Kamu Tahu Hari Ini – 10 September 2020

Morning Briefing 10 September 2020
Foto: www.rawpixel.com

Hi, kamu! Yep, kamu yang semakin bingung dengan kondisi dunia akhir-akhir ini; yang pasti kamu tidak sendirian. Tetap jaga kesehatan mental dan fisik, pakai masker saat keluar rumah, jaga jarak saat di tempat umum dan cucilah tanganmu dengan benar. Selamat menikmati satu-hari-menuju-akhir pekan ini, dan berikut lima berita terbaru yang terangkum dalam Morning Briefing 10 September 2020.

Jakarta PSBB total lagi.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan akan menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) kembali sebagai langkah rem darurat terkait penanggulangan pandemi COVID-19. Dalam masa PSBB (bukan transisi) ini, sistem ganjil genap ditiadakan dan pembatasan transportasi umum diberlakukan. Dan kebijakan bekerja dari rumah diberlakukan kembali, kecuali 11 industri esensial. Sebelumnya Jakarta memberlakukan PSBB Transisi, tapi jumlah kasus positif COVID-19 masih mencatat rekor penambahan tertinggi. Sampai kemarin Selasa (8/9), Jakarta memiliki kasus aktif sebanyak 11.030 orang. Sementara, persentase kasus positif dalam sepekan terakhir sebesar 13,2 persen. Menurut data, kasus positif ini mayoritas berasal dari klaster perkantoran. Selain jumlah kasus yang terus meningkat, DKI juga mulai kekurangan lahan khusus pemakaman pasien COVID-19. (CNN Indonesia)

Indonesia mulai percobaan skala besar terapi plasma konvalesen.

Litbangkes memulai percobaan klinis terapi plasma konvalesen pada pasien COVID-19, hari Selasa kemarin. Sejumlah rumah sakit akan menjadi tempat uji coba, di antaranya Rumah Sakit Fatmawati (Jakarta), RS Hasan Sadikin (Bandung), RS Dr. Ramelan (Surabaya). Dikatakan bahwa sebanyak 364 pasien akan direkrut untuk uji coba klinis ini, yang diharapkan akan berakhir dalam waktu tiga bulan. Juru bicara Litbangkes mengatakan bahwa plasma konvalesen telah menunjukkan hasil efektif untuk mengobati penyakit menular lain, termasuk Ebola dan SARS. Penelitian atas keefektifan dan keamanannya masih berlangsung, tapi hasil awal menjanjikan. Terapi akan menggunakan plasma darah yang diektraksi dari pasien yang sudah sembuh. Plasma akan disuntikkan kepada pasien COVID-19 parah dengan harapan akan mendorong sistem imunitas mereka. (The Jakarta Post)

Update COVID-19 global: uji coba vaksin dihentikan dan, sekolah dibuka kembali di India.

Perusahaan AstraZeneca menghentikan uji coba global terhadap vaksin coronavirus karena reaksi serius dan tidak diharapkan dari seorang partisipan. Dengan ini, perusahaan tersebut akan melakukan safety review, yang tidak jelas berlangsung berapa lama. Sementara itu, Kementerian Kesehatan India merencanakan untuk membuka kelas untuk SMA pada 21 September, meski secara sukarela; hanya dengan ijin orangtua. Sebagian besar siswa akan belajar secara daring.

Ontario, provinsi terpadat di Kanada, akan mengambil empat minggu “jeda” sebelum mempertimbangkan melonggarkan restriksi atau mengijinkan ekonomi dibuka kembali. Sementara itu, Inggris akan melarang pertemuan lebih dari enam orang mulai minggu depan, seiring dengan semakin banyaknya kasus infeksi di sana. Dan sebuah kebakaran di Lesbos membuat 12.000 penghuninya kehilangan tempat tinggi, beberapa hari setelah mereka dikarantina bersama karena wabah coronavirus. Menurut mesin penghitung Johns Hopkins University, jumlah total kasus COVID-19 global adalah 27.628.190, dengan 898.757 kematian, dan 18.590.528 kesembuhan. (New York Times)

Pasokan senjata dari negara Barat dan Iran perparah konflik di Yemen.

Sebuah laporan terbaru dari PBB menemukan bahwa senjata yang dipasok oleh negara-negara Barat dan Iran memperparah konflik yang sudah berlangsung enam tahun. Dalam laporan ini disebutkan serangan udara koalisi bisa dianggap sebagai kejahatan perang. Hal yang sama juga berlaku untuk aksi Houthi yang didukung oleh Iran yang membunuh banyak orang. Selama tiga tahun berturut-turut, laporan yang dihasilkan oleh para ahli independen ini menemukan bahwa semua pihak melanggar hukum internasional. Yakni, pemerintah Yemen, pemegang otoritas de facto Houthis, Dewan Transisi Selatan, anggota negara koalisi, terutama Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, Inggris, Kanada, Prancis, Iran dan Amerika Serikat. Laporan tahun ini berdasarkan peristiwa-peristiwa yang terjadi dari Juni 2019 hingga Juni 2020. (Reuters)

Keeping Up With the Kardashians berakhir 2021.

Setelah 20 seasons dan hampir 14 tahun, Keeping Up With the Kardashians akan menyiarkan musim finalnya di 2021. Dalam unggahannya di media sosial, keluarga Kardashian-Jenner mengatakan bahwa “dengan berat hati mereka mengatakan selamat tinggal” kepada reality show tersebut. Sebagai informasi, seri ini pertama kali ditayangkan di E! pada Oktober 2007, dan menjadikan Kim, Kourtney dan Khloe Kardashian, Kendall dan Kylie Jenner terkenal. Keeping Up With Kardashians menjadi salah satu acara paling populer di E!, terutama untuk penonton di bawah 35 tahun. Meski penontonnya semakin berkurang, acara ini masih menjadi top 100 show di kalangan penonton usia 18-49 pada 2019-2020. (The Hollywood Reporter)

Selanjutnya: Setelah membaca Morning Briefing 10 September 2020, pastikan mengecek apa sebenarnya manfaat pemanasan sebelum olahraga.

podcast button