5 Hal yang Harus Kamu Tahu Hari Ini – 10 Agustus 2020

Morning Briefing 10 Agustus
Foto: www.unsplash.com

Selamat pagi! Semoga ada sesuatu yang baik terjadi padamu hari ini, dan jangan lupa untuk tetap memakai masker dan jaga kesehatan. Berikut lima berita terbaru yang terangkum Morning Briefing 10 Agustus 2020.

Mendikbud: keputusan final tatap muka ditentukan orangtua.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim mengatakan bahwa meski sejumlah sekolah di zona hijau dan kuning sudah boleh menggelar pembelajaran tatap muka, tapi keputusan mengirimkan anak ke sekolah tetap di tangan orangtua. Jika orangtua masih belum nyaman untuk memperkenankan anaknya masuk ke dalam sekolah, mereka “diperbolehkan melanjutkan PJJ.” Lebih lanjut, Nadiem menyampaikan bahwa sekolah juga tidak diperbelehkan mengadakan ektrakurikuler dan aktivitas lain selain belajar mengajar. (Medcom)

Gaji ke-13 cair hari ini.

Gaji ke-13 PNS (Pegawai Negeri Sipil) dipastikan cair hari ini (10/8). Mengutip PP Nomor 44 Tahun 2020, besaran gaji ini maksimal sebesar penghasilan pada bulan Juli, tapi tidak semua PNS menerima gaji ini. Gaji ke-13 hanya diberikan kepada pejabat eselon III ke bawah dan pejabat setingkatnya di instansi, prajurit TNI, anggota Polri, dan pensiunan. Bagi PNS, prajurit TNI, dan anggota Polri, yang tengah mengambil cuti di luar tanggungan negara atau ditugaskan di luar instansi pemerintah baik di dalam maupun di luar negeri yang gajinya dibayar oleh instansi tempat penugasan, tidak mendapatkan Gaji 13. Dana anggaran gaji ke-13 ini sebesar Rp 28,5 triliun, yang diambil dari APBN dan APBD. (Detik)

Update COVID-19 global: 100 hari di New Zealand tanpa kasus dan rekor di AS.

Lebih dari lima juta kasus dilaporkan terjadi di Amerika Serikat, dengan lebih dari 162.000 kematian. Survei juga memperlihatkan mayoritas pemungut suara tidak puas dengan cara kerja Donald Trump menangani krisis ini. Sementara itu dari New Zealand dilaporkan tidak ada transmisi domestik daalm 100 hari, tapi tetap akan berhati-hati agar tidak mengalami hal yang sama seperti Vietnam dan Australia. Dua negara ini awalnya bisa mengendalikan virus ini, tapi sekarang sedang berjuang mengatasi kasus yang semakin banyak.

Dari Inggris dikabarkan, Perdana Menteri Boris Johnson mengatakan membuka sekolah pada September merupakan keharusan sosial, ekonomi dan moral. Sementara itu dari Malawi diberitakan, bar dan gereja ditutup setelah restriksi baru diberlakukan menyusul peningkatan kasus yang drastis. Dan Brasil mencatat lebih dari 100.000 kematian setelah lima bulan dari sejak pertama kali wabah merebak. Oxfam Brazil mendesak dilakukan investigasi kelalaian pemerintah dalam menangani pandemik. Menurut mesin penghitung Johns Hopkins Hospital, jumlah total kasus COVID-19 global adalah 19.690.080, dengan 727.897 kematian, dan 11.963.442 kesembuhan. (Aljazeera)

Demonstrasi besar-besaran di Beirut menyusul ledakan.

Sekitar 10.000 ribu orang berkumpul di Martyrs’ Square, Beirut, pada Sabtu lalu dan menuntut pemerintah atas kelalaian yang menyebabkan ledakan minggu lalu. Demonstrasi berubah menjadi rusuh ketika para pemrotes mencoba menyingkirkan sebuah pembatas jalan yang menghubungkan dengan gedung parlemen. Protes ini merupakan protes terbesar sejak Oktober ketika ribuan orang turun ke jalan untuk menuntut pembasmian korupsi dan pemerintahan yang buruk. Sejumlah pemrotes menuntut seluruh menteri mengundurkan diri jika tidak bisa “mengubah cara memerintah”. Dikabarkan seorang meninggal dan lebih dari 170 orang luka-luka saat demonstrasi tersebut. Menteri Informasi Manal Abdel Samad mengatakan akan mengundurkan diri. Sebagai informasi, ledakan pada Selasa lalu itu membunuh 158 seorang dan melukai lebih dari 6.000 orang, serta menghancurkan sebagian kota. Perdana menteri dan presiden Lebanon mengatakan bahwa 2.750 ton amonium nitrat menjadi penyebabnya dan disimpan di pelabuhan tanpa menaati prosedur keamanan. (Reuters)

Twitter dilaporkan sudah berbicara dengan TikTok tentang sebuah kesepakatan.

Menurut laporan, Twtitter Inc. sudah mengadakan pembicaraan awal tentang sebuah “kombinasi” dengan Tiktok. Hal ini menjadikan media sosial tersebut sebagai peminang potensial terbaru terhadap aplikasi milik China tersebut. Belum ada keterangan jelas apakah Twitter berminat untuk mengakuisisi TikTok. Sebelumnya, pemerintahan Trump mengeluarkan perintah eksekutif yang melarang ByteDance (pemilik TikTok) campur tangan dalam proses transaksi ini. Perintah ini akan berlaku dalam 45 hari. Pemerintahan Trump menganggap TikTok sebagai ancaman keamanan nasional, meski tidak ada indikasi ByteDance telah membagikan data orang Amerika dengan pemerintahan China. Selain Twitter, Microsoft menjadi salah satu perusahaan yang secara terang-terangan ingin mengakuisisi TikTok. (Wall Street Journal)

Selanjutnya: Usai menikmati Morning Briefing 10 Agustus 2020, jangan lupa membaca bagaimana menghadapi orang yang percaya teori konspirasi.