Menikah Tanpa Cinta, Apakah Bisa Bahagia?

menikah tanpa cinta
Foto: www.stocksy.com
Terakhir diperbarui:

Katanya cinta adalah salah satu fondasi utama dalam pernikahan, tapi ada juga yang memilih menikah tanpa cinta. Apa yang terjadi jika menikah tanpa cinta, apakah pasti tidak bahagia? LIMONE menghubungi Ida Nur Faizah, S.Psi., M.Psi., Psikolog, seorang psikolog klinis, dan berikut penjelasan lengkapnya.

Apa Sebenarnya Fungsi Cinta dalam Sebuah Hubungan?

menikah tanpa cinta
Foto: www.unsplash.com

“Sebelum saya lebih jauh menjawab pertanyaan, sebaiknya kita memahami terlebih dahulu mengenai definisi cinta, agar tidak salah dalam memahami materi,” jelas Ida.

Menurut Kamus American Psychological Association Dictionary (2015), cinta (kata benda) adalah emosi kompleks yang melibatkan perasaan kasih sayang dan kelembutan yang kuat terhadap objek cinta. “Perasaan ini menghadirkan kesenangan, pengabdian untuk kesejahteraan, serta menjadi aware. Cinta memiliki banyak bentuk, termasuk terhadap sesama manusia dan diri sendiri, serta terhadap Tuhan,” terangnya.

Being love dalam psikologi humanistik merupakan suatu bentuk cinta yang dicirikan dengan kebersamaan, perhatian yang tulus terhadap kesejahteraan dan kesenangan orang lain, serta mengurangi ketergantungan, keegoisan dan kecemburuan,” jelasnya.

“Sehingga, kita dapat mendefinisikan cinta sebagai sebuah rasa yang di dalamnya ada kasih dan sayang. Perasaan ini mampu menghadirkan sikap untuk memperhatikan, bertanggung jawab, bahkan rasa hormat untuk mencapai sebuah tujuan kehidupan yang bahagia. Sehingga, cinta di sini sebenarnya tidak terbatas antar manusia, namun juga manusia pada dirinya, Tuhan dengan mahluknya, manusia dengan Tuhan-nya, serta manusia dengan lingkungannya,” lanjutnya.

Oleh karenanya, fungsi cinta dalam sebuah hubungan merupakan motivator atau perangsang. “Dengan adanya cinta dalam sebuah hubungan, kedua sosok akan berusaha saling mengerti dan memberikan yang terbaik bagi pasangan. Setiap perilaku yang disampaikan akhirnya akan menimbang dari sisi pasangan pula,” terangnya.

Bagaimana Peran Cinta dalam Hubungan Suami-Istri?

menikah tanpa cinta
Foto: www.unsplash.com

“Nah, untuk memahami mengenai hubungan suami-istri dalam pernikahan, saya akan menjelaskan mengenai ketahanan keluarga agar kita bisa menjawab sendiri pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan hal ini,” ucapnya.

Mengutip penelitian yang dilakukan oleh Dr. John DeFrain, seorang Professor Emeritus of Family Studies di the Universitas Nebraska–Lincoln, bahwa ada 6 formulasi penting untuk membentuk ketahanan keluarga (the international family strengths model).

1. Apresiasi dan kasih sayang (appreciation and affection each other)

Keluarga yang tangguh biasanya sangat peduli satu sama lain, mereka tidak malu untuk mengungkapkan perasaan cintanya terhadap pasangan dan anggota keluarga lainnya.

2. Komitmen untuk Keluarga (commitment to the family)

Memiliki komitmen untuk mendedikasikan diri mensejahterakan satu sama lain. Di dalamnya terdapat unsur penting yaitu ‘waktu bersama untuk saling interaksi’.

3. Komunikasi positif (positive communication with each other)

“Komunikasi dalam keluarga tidak hanya membahas hal-hal penting atau hanya terbatas untuk menyelesaikan sebuah permasalahan. Dan komunikasi positif adalah bagaimana pasangan maupun anggota keluarga lainnya bisa saling mendengarkan pengalaman satu sama lain,” paparnya.

4. Menikmati waktu menyenangkan bersama (enjoyable time together)

“Aspek penting dalam peningkatan kesejahteraan adalah berkumpul bersama keluarga. Menikmati momen yang menyenangkan tidak harus selalu berekreasi ke tempat yang mahal, kita bisa menciptakannya lewat menonton bersama di ruang keluarga, menikmati makan bersama sambil bercerita, atau saat acara keluarga tiba,” jelasnya.

5. Spiritualitas dan nilai (a sense of spiritual well-being and shared value)

“John DeFrain selalu mengungkapkan kepada kami bahwa temuan ini merupakan temuan paling kontroversial dalam studi ketahanan keluarga. Definisi spiritual sangat dipengaruhi oleh budaya tiap negara. Beberapa yang merujuk pada keyakinan, harapan, serta religiusitas. Namun, jika disimpulkan dari semuanya, spiritualitas adalah perasaan atau kekuatan yang membantu anggota keluarga mengatasi permasalahan dalam keluarga sehari-hari. Nah, spiritualitas ini biasanya berfokus untuk menciptakan kehidupan yang bahagia,” paparnya.

6. Kemampuan yang efektif dalam manjemen stres dan krisis (the ability to manage stress and crisis and crisis effectively )

Keluarga yang tangguh adalah mereka yang memiliki kemampuan untuk mengelola stress dan krisis kehidupan sehari-hari secara kreatif dan efektif. Biasanya, mereka tahu mencegah masalah sebelum terjadi. Melihat sebuah masalah menjadi kekuatan mempertahankan hubungan.

Sehingga, jika ditanya apakah cinta merupakan faktor mutlak dan utama dalam sebuah komitmen seumur hidup, jawabannya, tentu sudah terjawab dari materi saya di atas. Yakni cinta bukan sebagai faktor mutlak untuk sebuah ikatan pernikahan. Banyak faktor lain yang berkontribusi penting untuk membuat kehidupan pernikahan menjadi bahagia,” tegasnya.

Apa yang Terjadi Jika Menikah Tanpa Cinta?

Foto: www.pexels.com

Seperti yang dikatakan di atas bahwa cinta bukan sebagai faktor mutlak, dan masih banyak faktor lain yang menjadi penentu apakah sebuah pernikahan bahagia. Namun tetap saja kita mungkin bertanya-tanya: apa yang terjadi pada pernikahan yang absen cinta.

“Kembali pada definisi cinta sebagai motivator. Jika sebuah pernikahan tidak ada cinta, maka sulit bagi pasangan untuk berusaha saling memahami. Hal ini jika terus berjalan akan memicu pertengkaran, sehingga berpengaruh terhadap kualitas hidup pasangan,” jelas ida.

Pada aspek kognitif, disebabkan permasalahan dalam keluarga, pasangan suami istri tanpa cinta sangat mungkin mengalami kesulitan pekerjaan. “Motivasi bekerjapun akan menurun jika ia tidak memiliki kemampuan coping yang baik,” tambahnya.

Sementara pada aspek emosi, ia akan cenderung mudah mengalami emosi negatif (seperti marah, kesal, atau sedih) dan dapat berdampak pada kondisi kesehatan mentalnya.

Selain itu, pada aspek sosial, ia cenderung menarik diri terhadap lingkungan keluarganya. “Padahal, banyak literatur menyebutkan bahwa support system yang paling efektif untuk menumbuh kembangkan diri berasal dari keluarga,” ujarnya.

Mengapa Seseorang Memutuskan Menikah Tanpa Cinta?

menikah tanpa cinta
Foto: www.pexels.com

Cinta bukan faktor satu-satunya penentu dalam kebahagiaan keluarga, tapi cinta tetap penting. Lalu mengapa seseorang memutuskan untuk menikah tanpa cinta?

“Individu itu unik, adanya pengalaman fisik dan emosi yang berbeda, kultur budaya, spiritualitas, letak geografi, status ekonomi, secara kompleks mencetak individu dalam karakter yang berbeda. Menikah bagi satu orang mungkin adalah keputusan yang mudah, namun bagi yang lain adalah keputudan yang berat, bahkan ada yang menjadikannya sebagai tujuan hidup. Begitu pun menikah tanpa cinta, banyak faktor yang melingkupinya,” jawabnya.

“Hal ini sesuai dengan hasil studi yang saya dapatkan bahwa pada individu dengan spiritualitas tinggi menganggap cinta Tuhan merupakan hal yang utama. Oleh karenanya ia percaya bahwa Tuhan pula yang menghadirkan cinta pada dirinya dan pasangan. Keputusan menikah bukan dilatarbelakangi oleh adanya cinta, namun adanya visi misi yang sama dalam mengarungi kehidupan setelahnya. Dan hal ini sah-sah saja, mengingat unsur penting dalam pernikahan tidak hanya cinta, namun juga komitmen dan komunikasi,” tegasnya.

Dengan kata lain, tidak ada yang salah jika seseorang memilih untuk menikah tanpa cinta.

“Hal ini disebabkan cinta itu bisa ditumbuhkan jika kita mau dan siap. Saya meminjam kata-kata Prof. Kwartarini—salah satu Dosen Pembimbing saya di UGM—yang selalu mengungkapkan bahwa ‘dua kunci terapi berhasil adalah willingness dan readiness,'” ucapnya.

Apa hubungan terapi dengan cinta?

“Bagi saya cinta itu hal yang bisa kita pelajari, hal ini juga yang saya terapkan dalam terapi, bahwa klien mampu bertumbuh dan berkembang ketika mereka mau berdayaguna lewat belajar,” tegasnya.

“Pernah dengar istilah Jawa ‘witing trisno jalaran soko kulino‘ yang berarti cinta dapat tumbuh ketika terbiasa bersama? Dalam ilmu psikologi kita mengenal Behavioral Therapy, yaitu pengendalian stimulus untuk mencapai respon yang kita inginkan. Stimulus itu adalah diri individu yang mau belajar memahami dan menerima pasangan. Ketika hal ini terjadi, tinggi kemungkinan bahwa pasangan juga akan mencintainya (respons yang terkondisi),” jelasnya.

Apakah Menikah Tanpa Cinta Memengaruhi Anak?

Foto: www.rawpixel.com

“Jelas iya,” tegasnya.

“Ketika saya kuliah, DeFrain pernah mengungkapkan bahwa, ‘Saya bukan anti perceraian namun saya anti terhadap pernikahan tidak bahagia’. Dan ketika berpraktik, saya menemukan pasangan tanpa cinta akan menganggap pasangannya sebagai rival, bukan teman hidup. Komunikasi pasangan biasanya mengarah pada agresi. Hal ini tentu berdampak pada pola asuh anak,” ungkapnya. Dan pada akhirnya berpengaruh pada kemampuan kognitif, afektif dan sosial anak.

“Anak yang diasuh tanpa kehangatan cinta memiliki keterbatasan dalam berhubungan dengan lingkungan sekitarnya. Ia cenderung meniru relasi orang tuanya. Pada bidang akademik, anak cenderung memiliki motivasi berprestasi rendah. Ia merasa tidak memiliki tanggung jawab untuk belajar dengan optimal sebab merasa orang tuanya pun tidak bertanggung jawab untuk mencintainya,” jelasnya.

“Selain itu, ia sering kali memiliki emosi marah yang meledak-ledak, atau sebaliknya, sering menahan emosinya sehingga berakibat buruk terhadap kesehatan mentalnya. Oleh karenanya, cinta dalam pernikahan tidak hanya hubungan pasangan yang tidak bahagia namun juga kehidupan anak,” tuturnya.

Bagaimana Cara Menumbuhkan Cinta yang Belum Berkembang di Sebuah Pernikahan?

Foto: www.pexels.com

“Berdasarkan studi yang saya lakukan kepada teman yang melakukan ta’aruf, ada beberapa hal atau teknik yang dapat digunakan,” kata Ida. Penasaran? Berikut ini penjabarannya.

  • Seringlah untuk menanyakan kabar. “Memberikan perhatian dengan menanyakan kabar akan membuat pasangan dihargai dan membuka diri,” ujarnya.
  • Jangan malu untuk bertanya. “Kamu baru saja mengenalnya, jadi sebaiknya bertanya jika akan mengambil keputusan. Misalnya saat memasak, tanyakan apakah pasangan memiliki alergi tertentu? Situasi ini bisa meningkatkan komunikasi dalam hubungan pernikahan,” katanya.
  • Lakukan hobi bersama. “Ciptakan momen indah agar pasanganmu terus mengingatnya,” anjurnya.
  • Berikan kejutan meskipun untuk hal-hal kecil, misalnya memasak makanan yang ia sukai.
  • Jadilah pendongeng dan pendengar yang baik. “Terbuka terhadap pasangan akan membuatnya merasa dipercaya dan hal ini dapat meningkatkan kualitas hubunganmu. Sebagai orang yang sudah didengarkan, sebaiknya kamu juga bisa meluangkan pikiran dan waktumu untuk mendengarkan pasanganmu. Karena dengan mendengarkan pasangan, kita bisa mengetahui bagaimana karakternya, kebahagiaannya serta ketakutannya. Jadinya, ketika pasanganmu mendapatkan masalah, kamu bisa berempati dengan benar dan bersikap secara efektif,” tekannya.

Apa Sebenarnya yang Perlu Dipertimbangkan Sebelum Memutuskan Menikah?

Foto: www.freepik.com

Sebut saja saat ini kamu sedang mempersiapkan diri untuk menikah, tapi masih bingung tentang segala hal. Mengutip sebuah penelitian, ada beberapa hal yang perlu kamu persiapkan:

  • Siap untuk transisi peran, yakni independen terhadap diri secara ekonomi dan finansial. Tahap perkembangan berjenjang membuat tugas perkembangan kian kompleks. Individu dewasa memiliki tugas untuk membangun hubungan romantis dengan lawan jenis dan mandiri. Sehingga kesiapan dalam ekonomi serta finansial dpaat membantu mencapai kesejahteraan.
  • Meningkatkan kapasitas internal diri, mampu mengembangkan diri tidak hanya dalam pekerjaan namun juga pada kemampuan regulasi emosi serta spiritual. “Pernikahan membuat peran individu bertambah, yang awalnya sebagai anak, adik atau kakak, akhirnya menjadi istri atau suami serta menantu. Hal ini mengakibatkan tanggung jawab yang ia miliki pun bertambah. Inilah mengapa penting meningkatkan regulasi emosi untuk kesehatan mental,” jelasnya.
  • Meningkatkan kapasitas intrapersonal diri, yaitu dapat berelasi dengan berbagai lingkungan sosial dengan baik, dapat menyelesaikan masalah secara efektif dengan menggunakan beragam perspektif. “Menikah adalah kehidupan baru bersama orang yang baru, juga kehidupan baru bersama keluarga baru. Individu yang dulunya hidup bersama dikelilingi oleh keluarga kedua orang tuanya, kini juga harus menjadi keluarga pasangannya. Oleh karenannya penting untuk bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan pasangannya,” tegasnya.

Selanjutnya: Seorang Psikolog Menjelaskan Efek Pernikahan Dini.