Menikah Muda—Adakah Keuntungannya? Ini Pendapat Psikolog

menikah muda
Foto: www.freepik.com

Mungkin, bagi sebagian orang menikah merupakan salah satu solusi terbaik dalam mendapatkan kebahagiaan. Sehingga menikah muda pun menjadi wishlist bagi sebagian orang. Meski terdapat beberapa keuntungan, namun melakukan pernikahan muda juga dapat menimbulkan risiko.

Simak penjelasan dari Ika Amalia Kusumawardhani. M. Psi., Psikolog, Psikolog Klinis dari Clarity Psychology, Kalm, Sehatq, dan Bully.id, terkait keuntungan dan risiko dari menikah muda.

Apa Definisi dari Menikah Muda?

menikah muda
Foto: www.freepik.com

Menurut Ika, arti dari menikah muda “sesuai dengan padanan katanya, yakni sebuah kegiatan atau prosesi pengikatan antara kedua insan yang biasanya melalui tata cara atau peraturan hukum dan agama,” ujarnya.

“Pernikahan yang sama-sama belum memilki kesiapan-kesiapan untuk hidup bersama, terutama untuk hidup berumah tangga. Bila seseorang berusia 20 namun belum memiliki kesiapan yang dibutuhkan, tentunya bisa disebut dengan usia muda. Ada beberapa usia pernikahan anak yang cukup memprihatinkan, yaitu usia remaja awal sekitar 12-17 tahun,” lanjutnya.

Lantas, apakah menikah muda sama dengan pernikahan dini?

“Pernikahan usia muda sama artinya dengan pernikahan dini. Artinya adalah seawal dan secepat mungkin. Jadi sama saja artinya. Yang berbeda itu usia pernikahan muda. Berarti usia pernikahannya yang muda bukan individu yang melakukannya yang masih muda,” paparnya.

Apakah Menikah Muda Merupakan Hal yang Wajar?

Foto: www.freepik.com

Sesungguhnya kewajaran merupakan suatu hal yang bersifat kolektif. “Hal yang wajar belum tentu baik, namun masyarakatlah yang menciptakan hal wajar dan tidak wajar. Baik dan tidak baik individu perlu menentukan sendiri,” tutur Ika.

“Contohnya saja zaman orang tua kita terdahulu, pernikahan muda dianggap ‘wajar’ karena banyak orang yang melakukannya. Namun pada kenyataannya, banyak tekanan dan faktor yang menyebabkan orang-orang menikahkan anaknya pada usia muda di zaman itu. Terlebih lagi menikah di usia cukup saja belum tentu mudah, apa lagi menikah di usia dini,” imbuhnya.

Baca Juga :  Serius, Bagaimana Cara Mendapatkan Kebahagiaan dalam Pernikahan?

Menurut Psikolog Klinis yang satu ini, “usia matang pernikahan itu sebenarnya perlu lihat dari kematangan emosional utamanya. Biasanya untuk perempuan di atas 26 tahun dan untuk laki-laki di atas 29 tahun, mereka biasanya sudah matang secara emosional,” terangnya.

Apa Penyebab Seseorang Menikah Muda?

menikah muda
Foto: www.freepik.com

Terdapat beberapa faktor yang sering menjadi penyebab seseorang menikah muda, yakni:

Faktor sosial

Faktor yang selalu diungkapkan dan sering menjadi alasan adalah faktor dari luar, yakni “faktor sosial yang paling sering dibahas. Misalnya ‘malu’, ‘apa kata orang’, ‘dari pada zina’, ‘mau gimana lagi’, ‘harus bertanggung jawab’, ‘harus ini…’, ‘harus itu…’ dan lain sebagainya,” papar Ika.

Faktor ekonomi

“Sedangkan faktor dari luar yang kedua adalah ekonomi. Biasanya, orang tua menikahkan anaknya karena sudah tidak mampu mengurus anaknya lagi yang sudah memasuki usia remaja. Sehingga ingin melimpahkan tanggung jawab pada pihak lain, dalam hal ini keluarga calon pasangan,” ujarnya.

Faktor internal

Faktor selanjutnya adalah berasal dari dalam diri, seperti kesulitan untuk mengendalikan nafsu seksual sehingga mulai aktif melakukan kegiatan seksual berisiko.

“Kegiatan seksual di usia dini sangatlah berisiko, selain karena risiko trauma psikologis, juga terdapat trauma fisik. Karena organ-organ reproduksi yang baru berkembang belum sepenuhnya matang. Faktor dari dalam diri lainnya adalah melihat pernikahan sebagai jalan keluar dari sebuah situasi,” terangnya.

Adakah Manfaat dari Menikah Muda?

Foto: www.freepik.com

Sesungguhnya, terdapat beberapa keuntungan dari menikah muda ketika kedua pasangan telah merasa siap. “Bagi para pelaku nikah muda yang telah siap dan matang untuk hidup bersama dan berkeluarga, keuntungan dari pernikahan muda adalah banyak hal yang bisa dialami bersama dengan pasangan. Misalnya seperti pencapaian dan penemuan impian baru,” ungkap Ika.

“Maksudnya adalah belajar memahami satu sama lain dengan kebijaksanaan mental yang dimiliki bisa menjadi sarana mengembangkan diri yang baik. Menghargai orang lain juga menjadi cara untuk menghargai diri sendiri. Bukan berarti individu yang tidak menikah muda tidak bisa mengalaminya,” lanjutnya.

Baca Juga :  Penasaran: Perlukah Memiliki Panggilan Sayang untuk Pasangan?

Sebenarnya, “pernikahan muda maupun pada usia matang memiliki keuntungan yang sama. Age just a number. Bila dua-duanya memiliki kesiapan yang cukup, kedua tipe pernikahan itu akan memberikan banyak manfaat atau keuntungan,” tegasnya.

Ika juga menambahkan bahwa menikah muda tentu dapat saling memengaruhi kehidupan satu sama lain, seperti halnya pada pernikahan di usia matang.

Adakah Risiko dari Menikah Muda?

menikah muda
Foto: www.freepik.com

Pernikahan merupakan sebuah babak baru dalam kehidupan. “Bahkan dalam ilmu psikologi, dinamika pernikahan dipelajari sebagai salah satu tahapan khusus dan penting dalam kehidupan, seperti kelahiran, usia golden age, usia masuk sekolah, remaja, usia dewasa, pernikahan, kehamilan, usia melepas anak sekolah, usia melepas pasangan, dan menghadapi kematian,” ungkapnya.

“Dalam menghadapi dinamika itu, pasti banyak yang bertumbuh dan berubah. Baik secara fisik maupun mental. Secara fisik pernikahan usia dini tentunya memiliki dampak yang amat sangat unik, namun tidak bisa disamakan dengan satu sama lain,” imbuhnya.

Sedangkan secara mental, tentunya akan lebih banyak yang dipikirkan oleh individu, stressor atau sumber stresnya pun semakin banyak. “Bisa terjadi kelelahan mental, apalagi bagi individu yang menikah dini di usia yang tergolong remaja,” terangnya.

Adakah Dampak Bagi Anak-anak Hasil Penikahan Muda?

Foto: www.freepik.com

Sejatinya, dalam setiap hal yang dilakukan oleh manusia akan memiliki dampak positif dan negatif, termasuk menikah muda.

Dampak positif

Dampak positifnya adalah anak-anak hasil pernikahan usia muda “memiliki kesempatan untuk bersama dengan orang tuanya lebih lama. Serta mengalami berbagai peristiwa-peristiwa penting bersama orang tua. Karena usia orang tua tidak terlampau jauh dengan anak,” ujarnya.

“Selain itu anak juga tidak terlalu merasa kesepian karena orang tua dari pernikahan usia muda yang matang mampu menempatkan dirinya saat menjadi sahabat dan saat menjadi orang tua,” lanjut Ika.

Baca Juga :  Bagaimana Menghadapi Ibu Mertua yang Super Duper Sulit (Apalagi Satu Rumah)

Dampak negatif

Sementara dampak negatifnya adalah “kurang mendapatkan bimbingan yang bersifat mengarahkan, risiko pengabaian yang lebih tinggi dibandingkan usia cukup. Atau sebaliknya, terlalu dimanja dan diperhatikan sehingga sulit mandiri. Bila orang tua dari pernikahan muda belum cukup dewasa atau matang, bisa memberikan kelelahan mental pada anak,” katanya.

Mengapa Kebanyakan Orang Tidak Merekomendasikan Untuk Menikah Muda?

menikah muda
Foto: www.unsplash.com

Meski menikah muda memiliki beragam keuntungan, namun terkadang kebanyakan orang yang sudah menikah justru tidak merekomendasikan untuk melakukannya.

Menurut Ika, “Saya melihat karena adanya beberapa faktor dan alasan. Saat memasuki tahap baru kehidupan, kemungkinan mengalami kejadian-kejadian berharga di tahap sebelumnya akan lebih kecil. Bisa jadi itu yang membuat mereka tidak merekomendasikannya,” tuturnya.

Lantas, bagaimana cara agar tetap bahagia meski menikah muda?

Be yourself! Tidak perlu selalu jadi yang terbaik atau sempurna. Kekurangan merupakan sebuah hal yang perlu dieksplorasi, bukan untuk ditutupi apalagi dihilangkan,” jawabnya.

“Seperti pertanyaan konselor psikolog  (diperankan oleh Robin Williams (alm)) pada film Good Will Hunting setelah menceritakan tentang mendiang istrinya ‘pertanyaanya adalah: apakah kamu menyempurnakan satu sama lain?’ (the question is ‘are you perfect for each other'?). Karena manusia tidak ada yang sempurna, untuk itulah manusia punya pilihan,” lanjutnya.

Kesimpulan

Foto: www.freepik.com

Sebelum menikah, cobalah untuk mencari tahu sebanyak-banyaknya mengenai kehidupan pernikahan. “Banyak-banyaklah berbincang pada pasangan-pasangan yang sudah menikah. Juga banyak komunikasi dengan orang tua. Selain itu, cobalah berpikiran lebih terbuka untuk orang lain dan untuk diri sendiri,” saran Ika.

“Pernikahan adalah sebuah tahap baru yang besar dalam kehidupan. Sebelum memutuskan untuk menikah, sebaiknya banyak mencari tahu hal-hal yang selama ini hanya didengar. Pernikahan baik usia muda maupun usia cukup sama-sama membutuhkan kesiapan. Evaluasilah kesiapan-kesiapan itu dan mulailah dengan optimis,” imbuhnya.

Ika menambahkan bahwa “janganlah merasa terjebak di sebuah pilihan yang kamu buat dengan sadar,” pesannya.