Bagaimana Menjaga Kelanggengan Pernikahan Beda Agama

menikah beda agama
Foto: www.gettyimages.com

Kamu sudah tahu apa yang terjadi saat menikah tanpa cinta, dan apa yang sebaiknya dilakukan saat pacaran beda agama. Namun bagaimana jika kamu menikah dengan seseorang yang menganut agama yang beda? Kepada LIMONE, Silviani, M.Psi., Psikolog, seorang psikolog klinis dari Sejiwa Psikolog, menjelaskan apa yang sebaiknya dilakukan untuk menjaga keharmonisan saat menikah beda agama.

Apa Peran Agama dalam Sebuah Pernikahan?

menikah beda agama
Foto: www.freepik.com

"Salah satu tujuan dalam sebuah pernikahan adalah merasa aman, nyaman dan bahagia selamanya bersama dengan pasangan hingga akhir hayat. Dan yernyata kebahagiaan pernikahan ini disebabkan oleh berbagai faktor, salah satunya orientasi agama," jelas Silviani.

Mengapa demikian?

"Karena pernikahan merupakan sebuah proses adaptasi antara dua orang untuk menjalani kehidupan bersama, dan agamalah yang memfasilitasi serta menjadi sumber kekuatan untuk menjalaninya. Komitmen dan kepercayaan terhadap agama dapat membentuk struktur keluarga yang sehat, memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap kepuasaan pernikahan jangka panjang serta membuat pernikahan menjadi lebih diterima," bebernya.

Lebih lanjut, Silviani menjelaskan bahwa agama termasuk salah satu faktor yang cukup berpengaruh dalam kepuasaan pernikahan.

"Agama ibarat pakaian yang digunakan seumur hidup dan melekat pada setiap individu yang beragama, termasuk dalam kehidupan rumah tangga," tambahnya.

Dalam kehidupan rumah tangga, terdapat ritual-ritual keagamaan yang idealnya dijaga dan dilaksanakan secara bersama. "Namun dengan adanya perbedaan agama dalam sebuah pernikahan, maka ritual yang harusnya dilaksanakan bersama tidak dapat dilakukan," imbuhnya.

"Berdasarkan penelitian, semakin tua usia seseorang maka ia akan semakin religius dan lebih taat dalam beribadah dari sebelumnya. Ia tidak lagi sekedar ikut-ikutan, namun lebih berusaha memahami secara mendalam ajaran agamanya. Beragama baginya sudah merupakan sikap hidup dan sebagai cara mencari ketenangan jiwa," paparnya.

Apa efeknya bagi pernikahan?

"Hal inilah yang membuat hubungan pernikahan dengan agama berbeda semakin rapuh. Mereka kesulitan mewujudkan kebahagiaan melalui suasana religuisitas/ keberagamaan di dalam rumah. Semakin banyak konflik yang muncul karena perbedaan paham dan keyakinan dalam beragama akan berisiko membuat pernikahan tidak langgeng. Namun ketika pasangan mampu menghadapi konflik tersebut bukan tidak mungkin pernikahannya tetap langgeng," tegasnya.

Baca Juga :  Tanya Psikolog: Apakah Pernikahan Dini Ada Efeknya?

Apakah Pernikahan dengan Agama yang Sama Akan Lebih Bahagia?

Foto: www.unsplash.com

Silviani memaparkan bahwa setiap pasangan memiliki permasalahannya masing-masing.

"Belum tentu pernikahan dengan agama yang sama akan lebih bahagia. Terkadang, pernikahan yang memiliki banyak kesamaan keyakinan pun mengalami konflik. Apalagi dengan pasangan yang memiliki banyak perbedaan," tekannya.

Namun memang tidak bisa dipungkiri bahwa risiko konflik yang mungkin dialami akan semakin besar, karena agama merupakan dasar kepercayaan dan nilai seseorang. "Suatu perbedaan yang tidak mampu untuk diatasi tetap akan memengaruhi perasaan bahagia, meskipun memiliki agama yang sama," tegasnya.

Ada beberapa faktor yang dapat membuat pernikahan bahagia yakni komunikasi, aktivitas waktu luang, orientasi agama, pemecahan masalah, pengaturan keuangan, orientasi seksual, keluarga dan kerabat, peran menjadi orang tua, kepribadian pasangan serta peran dalam rumah tangga.

"Kebahagiaan pernikahan beda agama juga dipengaruhi dari faktor di atas, hanya saja mereka perlu lebih toleransi dan beradaptasi dalam menjalankan ritual ibadah ataupun memperingati hari besar keagamaan masing-masing," terangnya. "Hal ini dapat dilakukan dengan menghidupkan suasana toleransi yang tinggi dalam keluarga, saling menghormati, saling menasehati, memberikan kebebasan beragama, saling menyayangi, dan dapat memenuhi kebutuhan hidupnya," tambahnya.

Bagaimana Menjaga Kelanggengan Saat Menikah Beda Agama?

Foto: www.pexels.com

Menurutnya, dalam praktiknya memang banyak pasangan beda agama yang akhirnya berpisah di tengah jalan. "Sebagian besar mengungkapkan bahwa perbedaan menjadi penghalang yang sulit diterima serta membuat lelah untuk menanggung risiko yang perlu dihadapi bersama," ujarnya.

Namun bukan berarti pernikahan beda agama tidak bisa langgeng.

"Masih ada beberapa pasangan yang mampu menunjukkan bahwa perbedaan agama dapat tetap berjalan. Toleransi dan saling menerima adalah dua hal yang dapat menjadi sumber kekuatan pernikahan beda agama," ungkapnya.

Bagaimana Menghadapi Konflik saat Menikah Beda Agama?

menikah beda agama
Foto: www.rawpixel.com

Untuk menangani menikah beda agama setidaknya ada 3 model yang perlu selalu dilakukan, yaitu:

  1. Refleksi diri, yakni proses perenungan dan analisis terhadap diri tentang segala kebiasaan, pikiran, perasaan, dan keputusan yang telah dilakukan.
  2. Minta saran orang terdekat untuk mencari alternatif penyelesaian masalah.
  3. Menghadirkan mediator, yakni pihak netral yang membantu dalam proses perundingan guna mencari berbagai kemungkinan penyelesaian suatu permasalahan.
Baca Juga :  Bagaimana Menghadapi Si Kecil yang (Hampir) Selalu Negatif Thinking?

Ada lima bentuk manajemen konflik, yaitu, kompetensi, kolaborasi, kompromi, menghindar, dan mengakomodasi. Berikut penjelasannya:

  1. Kompetisi, bentuk manajemen konflik yang berorientasi pada perebutan kekuasaan karena satu sama lain berusaha untuk memenangkan konflik. "Bentuk manajemen konflik ini menyebabkan adanya permusuhan yang kemudian membuat keduanya saling berprasangka satu dengan yang lain, serta saling memberikan evaluasi yang negatif," jelasnya.
  2. Kolaborasi, bertujuan untuk mencari alternatif bersama yang sepenuhnya memenuhi harapan kedua belah pihak yang terlibat konflik.
  3. Kompromi, strategi untuk mencari jalan tengah yang dapat diterima oleh kedua belah pihak yang bertentangan. Tujuannya agar setiap kelompok sepakat mencapai sasaran yang lebih penting.
  4. Menghindari, kedua belah pihak yang terlibat konflik berusaha menghindari konflik dengan menarik diri dari situasi yang berkembang, dan bersikap netral dalam segala hal agar konflik tidak semakin panjang. 
  5. Mengakomodasi, artinya seseorang mengabaikan kepentingan dirinya sendiri dan berupaya memuaskan kepentingan lawan konfliknya. "Akomodasi dijadikan alternatif untuk menanggapi konflik apabila ingin menjaga hubungan baik," ucapnya.

Manakah yang paling cocok diterapkan untuk pasangan yang menikah beda agama?

"Dari kelima bentuk manajemen konflik di atas, mengakomodasi terlihat menjadi bentuk yang paling tepat ketika menghadapi pernikahan beda agama, Namun sebenarnya kembali lagi pada kondisi keluarga masing-masing serta kondisi yang sedang dialami. Pastikan apa yang memang benar-benar dibutuhkan dan tepat untuk menjadi manajemen konflik di keluargamu," sarannya.

Bagaimana Menjelaskan Perbedaan Ini kepada Anak?

Foto: www.rawpixel.com

"Anak memiliki hak untuk mendapatkan pembelajaran dan arahan dari orang tuanya mengenai suatu agama. Hal ini karena anak tidak akan mengerti tentang suatu hal seperti kekuasaan Tuhan, etika, dan perilaku yang dianjurkan agama jika orang tua tidak memberikan keteladanan bagi anak-anaknya. Oleh karena itu, orang tua harus memberikan teladan bagaimana perilaku yang mencerminkan keimanan," beber Silviani.

Pada anak balita, pola pendidikan yang dapat dilakukan dengan menanamkan nilai keimanan. Pada masa kanak-kanak perlu ditonjolkan pada hal-hal yang konkrit terutama melalui keteladanan. Sebab, keteladanan yang dilihat anak lebih berkesan.

Baca Juga :  Bagaimana Mendeteksi Ciri-Ciri Suami yang Sedang Selingkuh?

"Contoh keteladan tersebut dapat berupa tampilan fisik orang tua seperti cara berpakaian, gaya bicara serta cara memperlakukan orang, seperti menunjukkan kasih sayang, suka menolong, melindungi, dan lain sebagainya," ujarnya memberikan contoh.

Satu hal yang pasti: dalam pernikahan yang beda agama, penjelasan mengenai perbedaan agama kepada anak tetap perlu dilakukan.

"Anak perlu untuk diperkenalkan dengan dua keyakinan yang dianut oleh orang tuanya. Dengan itu, mereka akan memiliki orientasi pada keberagaman dan mampu memilih mana keyakinan yang harus dia ikuti," sarannya.

Adakah sesuatu yang sebaiknya diperhatikan oleh orang tua memperkenalkan dua keyakinan yang dianut oleh orang tuanya?

"Harapannya orang tua tidak memberikan pemahaman agama mana yang lebih baik karena ketika hanya merujuk pada agama tertentu, akan membuat salah satu merasa tidak terima dan akhirnya makin menimbulkan konflik," tekannya.

Selain itu orang tua perlu menyadari bahwa selain adanya kemungkinan konflik antara orang tua, pernikahan beda agama berpotensi mengganggu psikologi anak. "Anak akan kebingungan dan kesulitan mencari pegangan spritual karena perbedaan ajaran dan nilai agama yang dianut kedua orang tuanya. Anak juga kemungkinan mendapatkan tekanan karena terkadang tidak ingin melukai salah satu orang tua yang disayangi," ujarnya.

Kesimpulan

Foto: www.freepik.com

Pernikahan adalah sebuah komitmen jangka panjang yang membutuhkan kompromi dan kerja keras agar keharmonisan tetap terjaga. Kerja keras ini mungkin bisa berlipat ganda ketika menikah beda agama.

"Bagi yang akan melangsungkan pernikahan beda agama hendaknya perlu mempersiapkan secara matang dan dipikirkan berulang-ulang karena pada dasarnya perbedaan keyakinan rentan akan konflik. Sadari seberapa besar kemampuanmu untuk bertoleransi dalam hal agama atau nilai yang sudah dianut sejak lama. Seberapa mampu dirimu menerima perbedaan dan mengambil risiko ke depannya," sarannya.

"Pernikahan bukan hanya perlu mempersiapkan hubungan antara dua orang, namun juga banyak hal yang perlu dipertimbangkan dan dipikirkan, seperti pendidikan anak ke depannya," tegasnya.

Selanjutnya: Efek Pernikahan DIni, Menurut Psikolog.