Bagaimana Menghadapi Orangtua yang Seperti “Anak Kecil”?

orangtua seperti anak kecil
Foto: www.gettyimages.com

“Ah, orang tua kalau semakin memang begitu, seperti anak kecil.” Begitu celetukan yang sering kali terdengar setiap kali, misalnya, kakek atau nenek atau orangtua kita melakukan sesuatu yang (ehm) sulit dimengerti.

Apakah celetukan tersebut—orang tua seperti anak kecil—mengandung sebuah kebenaran?

“Buat saya ini tidak berlaku secara umum, bahwa semua orang ketika dia akan memasuki masa lansia perilakunya akan kembli seperti anak kecil. Pasalnya, beberapa orang tua tidak menunjukkan perilaku seperti itu. Artinya, ini bukan sesuatu yang berlaku secara umum atau pasti akan dialami semua orang,” terang Made Diah Lestari, seorang psikolog dan ahli gerontologi keluarga, kepada LIMONE.

Sekali lagi, tidak semua orang tua akan menjadi seperti anak kecil saat memasuki usia lansia. Lalu, bagaimana cara menghadapi jika salah satu orangtuamu mengalami hal ini? Berikut penjelasan Made.

Mengapa Tidak Semua Orang Tua Memiliki Sifat Seperti Anak Kecil?

orang tua seperti anak kecil
Foto: www.gettyimages.com

Menurut Made, dalam ilmu psikologi ada sebuah teori yang disebut teori perkembangan psikososial atau emosional, salah satu tokohnya Erik Erikson. Made menjelaskan bahwa Erikson mengatakan bahwa ketika seseorang memasuki masa lansia atau periode umur late adulthood, ada sebuah fase perkembangan wisdom dan despair. Erikson menjelaskan bahwa fase perkembangan seseorang itu ditentukan oleh fase-fase sebelumnya.

Fase yang dimaksud adalah mulai dari masa kanak-kanak (childhood), remaja (teenager), early adulthood (20 – 30 tahun), dan middle adulthood (40 sampai 65 tahun).

“Jadi, ketika seseorang memasuki masa lansia dan dia berhasil melalui tahapan-tahapan perkembangan pada fase sebelumnya, maka dia akan mencapai wisdom pada saat memasuki fase late adulthood atau lansia,” terangnya. “Sebaliknya, jika seseorang tidak mampu memenuhi perkembangan pada fase-fase sebelumnya, maka dia akan mencapai despair,” lanjutnya.

Lebih lanjut Made menjelaskan bahwa pengertian wisdom ini bisa didasarkan pada budaya. Misalnya, di Indonesi, wisdom ini bisa berarti orang sudah sangat dihargai, dihormati, didengarkan. “Jika di Bali bisa disebut penglisir, atau budaya lain disebut dengan tetua,” katanya memberi contoh.

Dengan kata lain, seseorang yang mencapai wisdom ini adalah seseorang yang kondisi psikososial dan emosional sudah bena-benar mencapai fase yang tertinggi dan sangat stabil. Sedangkan despair, masih diwarnai dengan kegamangan, merasa tidak berharga, menganggap fase tua adalah fase yang melelahkan, tidak menyenangkan, penuh kekosongan dan depresi. Juga, masih berkutat pada hal-hal duniawi dan tidak mencoba terlepas dari ikatan duniawi.

Nah, dengan penjelasan tersebut, Made kembali menegaskan bahwa tidak semua orang yang masuk ke dalam fase late adulthood, pasti memiliki sifat kekanak-kanakan.

“Dan saya juga tidak setuju bahwa perempuan lebih banyak yang mengalami hal ini. Hal ini sama sekali tidak tergantung pada gender. Melainkan, seperti kata Erikson, tergantung pada apakah seseorang berhasil memenuhi tugas-tugas perkembangan pada fase sebelumnya. Itu akan menentukan apakah dia akan mencapai wisdom atau despair, bukan gender atau jenis kelaminnya.

Mengapa Sebagian Orang Tua Kembali Bersifat Seperti Anak Kecil?

orang tua seperti anak kecil
Foto: www.gettyimages.com

Made menjelaskan bahwa orang tua yang mencapai despair, ciri-cirinya antara lain: pemarah, berfokus pada hal negatif atau melihat orang lain dari kacamata yang negatif.

“Bisa juga yang terjadi mereka tidak mau disebut lansia. Justru marah jika disebut lansia,” tambahnya.

Oh, pernah mendengar teknologi atau produk anti-aging? Menurut Made ini juga bisa dikatakan sebagai, “sebuah perilaku yang tidak mengakui bahwa dirinya akan mencapai fase tua. Dan itu pun buat Erikson masuk ke dalam despair,” jelasnya.

Alasannya?

“Yah itu tadi. Kalau menurut Erikson itu karena mereka tidak mampu memenuhi tugas perkembangan di tahapan sebelumnya,” jawabnya. Misalnya saja, tugas perkembangan masa remaja adalah mencapai jati diri. Sementara saat young adulthood dan middlehood, tugas perkembangan seseorang mencapai kestabilan dalam hal pekerjaan, rumah tangga, dan relasi sosial. Dan jika ini tidak tercapai, maka seseorang bisa mudah menjadi depresi, frustrasi, dan merasa gagal.

“Dan hal ini sifatnya akumulatif,” tegasnya. Artinya, jika seseorang sudah mencapai fase tua dan dia sudah tidak mendapatkan kesempatan yang sama untuk berubah, dan merasa ‘oh this is my limit‘—secara mekanisme atau dinamika sosial tentu saja itu akan menghasilkan frustrasi,” terangnya.

Made juga menjelaskan bahwa ada satu teori lagi yang juga bisa menjelaskan tentang hal ini, yakni teori yang mengatakan antar generasi selalu ada kesenjangan atau gap. “Misalnya, antar generasi antara saya dengan orangtua, saya dan anak saya—itu selalu ada gap tertentu yang kadang-kadang kesenjangan ini menjadi sumber konflik. Kita kesulitan memahami orang tua atau generasi yang lebih muda. Alhasil, ini yang membuat kita terkadang menilai atau memilih satu prejudice, prasangka atau stereotipe. Kita punya anggapan bahwa ‘namanya lansia itu pasti cerewet, mau menang sendiri, susah berbaur dengan generasi yang lebih’. Jadinya, kadang-kadang inilah yang membuat kita melihat orang tua sebagai sosok yang childish, kolot, ngambekan, dan sebagainya,” bebernya.

Apa Cara yang Tepat Menghadapi Orang Tua yang Memperlihatkan Perilaku Tersebut?

orang tua seperti anak kecil
Foto: www.rawpixel.com

Menurut Made, sama dengan prinsip relasi lainnya, untuk mengatasi situasi ini ada baiknya kita berusaha memahami hidup orang tua tersebut.

“Kebetulan saya mnelakukan penelitian dengan lansia, mendorong mereka bercerita dengan sebuah teknik, namanya teknik naratif,” jelasnya. Kesimpulan dari riset ini adalah bahwa kita bisa memahami personalitas seorang kakek atau nenek dari cerita masa lampau mereka. Bahwa hal-hal yang terjadi di masa lalu adalah yang membentuk jati diri dan karakter mereka. Bahwa, karakter dan kepribadian itu tidak dibentuk oleh saat ini, atau sekarang, melainkan karena pengalaman-pengalaman hidup tertentu.

Misalnya saja mereka bercerita tentang jaman kemerdekaan dan masa sulit sebelum kita lahir. Dan biasanya sering kali diulang-ulang. “Itu merupakan ciri khas lansia, karena mereka ingin mengenang masa dan di-share ke generasi muda,” jelas Made.

Nah, jika orang tua bercerita—dengarkan. Ini bisa membantu mereka untuk berbagi dan mengenang masa lalu dan tidak merasa kesepian.

Lalu, jangan putus relasi sosial yang mereka miliki. “Problem-nya ketika menjadi lansia, ring pertemanan kita semakin terbatas. Dulu, masih kecil ring pertemanan kita adalah keluarga. Ketika kita remaja kita punya teman SD, SMP. Dan ketika kita bekerja, tambah lagi teman bekerja. Ketika pensiun, teman kerja hilang, teman SMP SMA juga hilang. Jadi ring-nya semakin kecil dan kita kembali lagi ke keluarga. Dan saya menemukan bahwa hal-hal ini memunculkan kebosanan dan akhirnya membuat mereka memikirkan hal-hal yang tidak-tidak atau depresi. Atau menjadi sangat cerewet di rumah, dan sebagainya,” paparnya.

Dengan tidak memutus relasi sosialnya, kamu memberikan kesempatan lagi bagi mereka untuk berkumpul dengan teman-temannya. “Atau kita adakan kumpul keluarga besar, terus kita dengarkan cerita dia. Menurut saya, itu salah satu cara yang tepat untuk membuat lansia tidak bosan dan tidak terjerumus pada depresi atau menjadi terlalu cerewet atau seperti anak kecil. Mungkin memang ada cara lain seperti olahraga, tetap produktif, dan sebagainya. Namun dari pengalaman dan riset-riset saya, salah satunya adalah dengan tidak memutus relasi sosial dan persahabatan pada lansia,” anjurnya.

Sebut saja bukan orangtua yang menjadi sumber masalah kamu saat ini, melainkan pasanganmu tiba-tiba meminta waktu sendiri. Ini cara melalui periode itu dengan lancar.