Bagaimana Mengatasi Stres karena Home Learning Diperpanjang

Foto: www.istockphoto.com

Panik. Nyaris histeris. Dan (sedikit) stres ketika mendengar periode home learning anak diperpanjang lagi tanpa batas yang belum ditentukan. Belum lagi, jika harus bekerja dari rumah. Pusing seratus keliling. Apa yang bisa dilakukan oleh orangtua saat menemani anak home learning dan tetap menunaikan tanggung jawab lain? Maulidta, M.Psi., Psi., seorang psikolog dari Klinik Tumbuh Kembang Anak Permataku, Klinik Mandiri Center Stroke dan Rumah Psikologi Cantara Hati, dan Papillon Psychological Center memberikan tips berguna.

Apakah Normal Ketika Orangtua Merasa Panik karena Home Learning Diperpanjang?

periode home learning
Foto: www.istockphoto.com

Menurut Maulidta, dua minggu anak belajar di rumah sudah tentu menjadi salah satu perubahan cukup besar bagi anak dan orangtua. Apalagi, sekarang sistem in diperpanjang. “Rasanya 24 jam akan menjadi lebih padat dari biasanya karena ada tugas baru bagi orangtua, yaitu mendampingi anak belajar di rumah,” ujarnya, memahami.

Dan jika kamu sebagai ibu panik dan kebingungan, itu adalah merupakan hal yang wajar. Ini biasanya timbul “akibat kecemasan dari orangtua karena adanya perubahan dalam hidup dan proses penyesuaian rutinitas yang baru. Tidak jarang banyak orangtua yang merasa bingung harus berbuat apa, misalnya ketika memiliki anak yang bersekolah di sekolah alam dengan tipe kinestetik dan lebih senang berkegiatan di outdoor. Akan menjadi tantangan tersendiri bagi orangtua tersebut, sehingga orangtua dituntut untuk bisa lebih kreatif memberikan metode belajar yang tidak membosankan di luar worksheet yang memang sudah diberikan oleh sekolah,” bebernya.

Tentukan prioritas, tidak perlu sempurna mengerjakan semuanya. Bila jadwal maupun kegiatan yang sudah dibuat tidak berjalan sesuai dengan rencana, maka sebaiknya bisa mencoba menikmati prosesnya.

Ada hal lain yang menyebabkan ibu panik: work from home. Uh-uh. Dan pada saat yang bersamaan, anak bersekolah dari rumah. Alhasil, anak-anak dengan ibu bekerja akan lebih sering mencari perhatian ketika sang ibu di rumah.

“Misalnya, sedang siap-siap mau review kerjaan, si kakak minta tolong print tugas sekolah. Sedang online meeting, si adik bolak-balik menghampiri bertanya tugas matematika. Baru mulai fokus kerja, anak-anak bilang ada tambahan tugas yang perlu didokumentasikan, belum lagi pekerjaan rumah tangga yang juga perlu diperhatikan, dan lain-lain Dengan kondisi demikian, jika ibu tidak memiliki ketahanan diri serta kemampuan regulasi emosi yang memadai, maka kondisi tersebut justru akan berubah menjadi stressor,” jelasnya.

Dan hal ini juga terjadi pada ayah. Ayah yang bekerja di kantor, sekarang harus bekerja dari rumah. Biasanya bertemu orang dewasa, sekarang ada anak-anak yang kerap kali lalu lalang. “Ketika hendak fokus kerja, anak-anak minta tolong perihal tugas sekolahnya. Lama duduk di depan laptop, istri mengeluh suami tidak ikut membantu mendampingi anak belajar dan urus rumah. Mau membantu istri dan anak, namun ada deadline tugas kantor yang tidak bisa di tunda,” terangnya.

Itu semua: “membuat orangtua panik dan cemas, terlebih jika orangtua tidak memiliki kesiapan dan persiapan dalam menghadapi periode home learning ini diperpanjang,” ujarnya.

Apa Tantangan Terbesar yang Dihadapi Orangtua Ketika Anak Home Learning?

periode home learning
Foto: www.istockphoto.com

Hah, mendengar kata ‘home learning‘ saja sudah menjadi sebuah tantangan, apalagi menjalaninya.

“Sebenarnya yang dibutuhkan orangtua dalam menghadapi situasi saat ini adalah kesiapan. Sehingga tantangan terbesarnya adalah konsistensi, komitmen dan disiplin dari semua anggota keluarga,” tukas Maulidta.

Ini artinya, jika ayah bekerja di rumah, ibu pekerja dan juga bekerja di rumah dan anak menjalani periode home learning, maka:

Perlu adanya kesepakatan bersama di awal mengenai jadwal kegiatan. Tentang waktu bermain, belajar, istirahat, mengerjakan tugas-tugas.

√ Selain itu, apabila memungkinkan, tentukan ruangan atau tempat bekerja bagi masing-masing keluarga.

√ Tentukan reward maupun konsekuensi jika masing-masing anggota keluarga melanggar kesepakatan bersama.

“Ibu rumah tangga tentu saja memiliki tambahan tugas selain urusan rumah tangga. ibu juga mendapat tantangan untuk dapat menjadi guru bagi anak dan menjaga situasi rumah tetap kondusif bagi suami yang juga bekerja di rumah,” ujarnya. Oleh karena itu, dibutuhkan kerjasama orangtua (ayah dan ibu) untuk saling membagi tanggung jawab dalam membagi tugas, pekerjaan rumah dan mendampingi anak belajar.

“Mendampingi anak belajar di rumah sambil mengerjakan sejumlah tanggung jawab memang bukan hal yang mudah. Tentukan prioritas, tidak perlu sempurna mengerjakan semuanya. Bila jadwal maupun kegiatan yang sudah dibuat tidak berjalan sesuai dengan rencana, maka sebaiknya bisa mencoba menikmati prosesnya,” katanya.

Seberapa Penting Orangtua Selalu Menemani Anak Belajar dalam Periode Ini?

periode home learning
Foto: www.gettyimages.com

Seandainya (seandainya, ya) anak dibiarkan belajar sendiri, dan orangtua melakukan tugasnya—apakah ini adalah sesuatu yang tepat?

“Untuk anak pada jenjang SD, tentu perlu pendampingan yang lebih intensif dalam belajar/mengerjakan tugas sekolahnya pada periode ini,” jelasnya. Sementara untuk anak yang duduk di bangku SMP, orangtua dapat memberikan bantuan seperlunya—hanya jika anak benar-benar membutuhkan.

“Hal ini penting untuk menumbuhkan kemandirian anak. Orangtua pun perlu tetap untuk mengajak anak langsung mengerjakan tugasnya, tidak menunda-nunda agar menumbuhkan rasa tanggungjawabnya, sehingga tidak terlena/terlalu santai karena mereka belajar di rumah bukan sekolah. Sementara untuk anak yang sudah SMA bisa lebih dilepas, namun orangtua tetap perlu melakukan pengawasan dengan menanyakan pada anak apakah ada kesulitan/perlu bantuan. Jadi, pastikan anak belajar dan mengerjakan tugasnya,” sarannya.

Apa yang Bisa Dilakukan Orangtua agar Lebih Tenang?

Foto: www.gettyimages.com

Berhubung periode ini masih akan berlangsung sampai batas waktu yang belum ditentukan, jadi orangtua memang perlu segala taktik untuk bisa mengendalikan rasa stres.

Untuk itu, Maulidta menyarankan melakukan beberapa hal.

√ Lakukan relaksasi dengan mengambil nafas dalam sebanyak enam kali untuk menenangkan diri.

√ Pertahankan pikiran dan harapan positif serta komunikasikan hal yang dirasakan (kelelahan, kepenatan, dll) pada suami/istri atau orang yang dapat memberikan dukungan.

√ Sempatkan olahraga ringan di rumah. “Orangtua juga dapat mengajak anak-anak untuk berolahraga bersama di pagi hari sebelum memulai aktivitas di rumah,” anjurnya.

√ Lakukan bertukar pikiran dengan sesama orangtua.

√ Selingi rutinitas dengan aktivitas yang menyenangkan. “Agar tidak menjadi stres dan bosan, siapkan aktivitas yang menyenangkan bersama anak, seperti bermain game, karaoke di rumah, merawat tanaman/hewan peliharaan, atau perawatan diri bersama di rumah.”

√ Buat kesepakatan dengan menentukan waktu orangtua mendampingi anak belajar/menyelesaikan tugas sekolah sehingga orangtua pun dapat melakukan aktivitas lain (seperti beristirahat).

√ Buat kesepakatan dengan anak kapan waktu untuk sama-sama menggunakan gadget di luar untuk kepentingan tugas sekolah. “Orangtua dan anak dapat menggunakan gadget di waktu yang bersamaan dan disepakati berapa lama durasinya. Sehingga orangtua pun dapat santai sejenak,” anjurnya.

√ Ciptakan suasana yang nyaman dan coba menikmati momen yang ada bersama keluarga.

Tepatkah Memperpanjang Screen Time Anak agar Orangtua Bisa Beristirahat?

periode home learning
Foto: www.rawpixel.com

Ah, pertanyaan bernilai 100 juta.

“Dalam situasi ‘school from home’ saat ini, rasanya pemberian gadget dan memperpanjang screen time kurang bijak jika dijadikan alasan agar orangtua dapat beristirahat atau me-time,” ujarnya.

Sebaiknya, orangtua mencari cara untuk mengurangi kelelahan fisik dan mental saat periode home learning. Dengan begini, penggunaan gadget pun dapat diberikan sesuai kebutuhan (sekolah/tugas/reward) dan tidak berlebihan.

Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan orangtua saat berada bekerja di rumah dan home learning.

  • Buat kesepakatan dan tentukan waktu anak menggunakan gadget untuk kebutuhan belajar/tugas.
  • Buat jadwal teratur. Rencanakan waktu yang rutin dan konsisten mengenai jadwal belajar anak atau untuk mendampingi anak. Jadwal dapat dibuat lebih fleksibel tidak seperti jadwal belajar di sekolah.
  • Siapkan tempat dan tentukan lokasi belajar yang nyaman dan tetap.
  • Dampingi anak. Pastikan anak memahami tugasnya, menyiapkan kebutuhan pengerjaan tugas, menyelesaikan dan mengirim tugas tepat waktu.
  • Libatkan anak dalam kegiatan rumah tangga, seperti memasak, membersihkan rumah, mencuci mobil. “Secara tidak langsung kegiatan ini akan membuat anak belajar sesuatu serta tetap aktif di rumah, selain mengerjakan tugas sekolah dan tidak terlalu fokus pada gadget.”
  • Buat kesepakatan tentang waktu istirahat, baik bagi anak dan orangtua.
  • Beri apresiasi. “Jika tugas sudah diselesaikan, beri apresiasi pada anak, misalnya menjadikan tambahan waktu screen time sebagai reward setelah anak menyelesaikan kewajibannya. Atau buatkan makanan kesukaan dan ijinkan anak bermain.”

Terakhir, Maulidta mengingatkan untuk menciptakan suasana positif di rumah agar masa di rumah saja menjadi semakin menyenangkan. “Lakukanlah dengan gembira. Orangtua perlu emosi yang positif dan fisik yang prima. Keceriaan orangtua akan membuat anak menjadi lebih termotivasi dan orangtua pun dapat tetap tenang dan tidak stres,” tegasnya.

Masih bingung tentang cara memberi reward kepada anak? Begini penjelasan dari seorang psikolog anak.

podcast button