Merencanakan Keuangan Itu Tidak Sulit! Ikuti Saja Panduan Ini

Foto: www.gettyimages.com

Siapa di sini yang tahu kapan sebaiknya kita merencanakan keuangan? Seseorang yang bernama Hermione atau memiliki kebiasaan seperti dirinya, pasti langsung mengacungkan tangan setinggi langit kelas. Namun, kalau boleh jujur, bagi sebagian orang ‘membuat rencana keuangan’ adalah sesuatu yang abstrak. Seseorang bernama Ron Weasley atau memiliki tabiat sepertinya, mungkin akan cengar-cengir—lalu memperlihatkan rasa ingin tahu. Untuk kamu yang masih bingung dalam membuat rencana keuangan, dua ahli keuangan ini menjelaskannya dengan tuntas.

Kapan Memulai Rencana Keuangan?

membuat rencana keuangan
Foto: www.gettyimages.com

Daniel Alexander Gosana, RFP, AEPP, perencana keuangan di FP One menyampaikan sebaiknya dimulai ketika income pertama kali atau maksimal paling lambat dua tahun dari pertama kali dapat pemasukan. “Tidak ada batasan umur yang penting harus sudah berpenghasilan. Karena yang dikelola keuangan, jadi harus ada pemasukan. Bisa saja umur 30 tapi belum ada income karena belum bekerja.  Jadi, kalau sudah ada penghasilan harus bisa kelola keuangan tersebut,” paparnya saat ditemui LIMONE.

Begitu pula Mariana Sofia, SE., MCom(IS), RFP, penasihat keuangan dari Prudential Indonesia, menyampaikan dalam merencanakan keuangan dimulai usia sedini mungkin, yakni sejak mulai bekerja. Tidak hanya itu, Mariana juga menambahkan bahwa perencanaan pensiun pun sebaiknya dimulai sejak bekerja. “Meski angkanya kecil, tapi dengan the magic of compounded interest, akan membesar secara eksponensial seiring berlalunya waktu.”

Ini Alasan Kamu Perlu Membuat Rencana Keuangan

Foto: www.gettyimages.com

Daniel mengungkapkan, intinya manfaat dari merencanakan keuangan adalah untuk masa depan yang lebih enak. “Karena merencanakan keuangan itu bikin kita enak makan, enak tidur. Dalam arti, sebaiknya kita hidup bukan untuk hari ini aja. Masa depan tidak ada yang tahu. Jika kita berprinsip hidup untuk hari ini aja, besok kalau terjadi apa-apa bagaimana? Jadi, hidup tidak untuk hari ini saja, tapi kita harus bisa merencanakan keuangan kita dengan matang,” ujarnya.

“Dengan rencana saja, banyak yang meleset dari target. Apalagi tanpa rencana,” Mariana mengatakan. “Ibarat main bola tanpa gawang, hanya berputar-putar tanpa tujuan dan hasil. Jangan lupa: pada satu titik dalam hidup, kita akan berhenti bekerja—entah karena sukarela atau terpaksa. Namun pengeluaran tidak akan berhenti.” Nah, di saat itu terjadi keberadaan rencana keuangan yang matang akan membantu dan menyelamatkan hidupmu.

Bagaimana Memulai Rencana Keuangan?

membuat rencana keuangan
Foto: www.gettyimages.com

Pertama-tama, pasti kita harus melek finansial. Salah satu cara untuk mengetahui tentang subjek adalah dengan, “banyak baca literasi terpercaya,” ujar Mariana. Atau, “hire financial advisor yang baik. Or make friends with one for free advice,” ungkapnya melalui pesan singkat.

Pada prinsipnya, menurut Mariana ada empat hal yang harus diingat dalam mengatur keuangan. Yakni, “plan, execute, evaluate dan adjust.” Tahap terakhir (adjust) perlu dilakukan karena “dalam setiap tahapan kehidupan ada kebutuhan yang berbeda. Tanpa review dan adjustment, rencana yang sudah dijalankan tanpa disadari bisa menjadi tidak valid lagi,” sambung Mariana.

Maka dari itu, Mariana menyarankan untuk menentukan tujuan, rentang waktu, kendaraan investasi, “dan bungkus dengan jaminan atas risiko yang mungkin terjadi selama rentang waktu yang diperlukan.”

Langkah-Langkah Menyusun Rencana Keuangan bagi Pemula

membuat rencana keuangan
Foto: www.gettyimages.com

Mariana memaparkan cara sederhana untuk menyusun anggaran dengan melakukan expense tracking, alias mencatat pengeluaran harian agar kamu mengetahui kebiasaan dalam menggunakan uang. “Petakan dalam tabel budget setahun. Perhatikan dalam bulan-bulan tertentu akan ada lonjakan pengeluaran. Jadi, ketika ada lonjakan penerimaan, jangan dihabiskan di bulan itu juga. Simpan untuk masa ‘paceklik’ nanti,” sarannya.

Menurut Daniel langkah awal dalam merencanakan keuangan adalah dengan mendahulukan kebutuhan dari pada keinginan. “Misalnya, ingin minum kopi gula aren yang pakai bubble. Nah, itu ‘kan keinginan, kalau kebutuhannya ‘kan minum. Agar lebih hemat bisa beli air putih aja atau tinggal ambil dari kantor,” ujarnya.

Daniel menambahkan kunci menyusun anggaran adalah pengendalian diri, serta terlebih dahulu memenuhi kebutuhan. “Namanya manusia memang ingin makan enak, tapi kalau belum bisa terpenuhi, penuhi dulu kebutuhannya. Kuncinya sih, pengendalian diri,” tukasnya.

Dan untuk merencanakan sesuatu yang bersifat jangka panjang, Mariana menyarankannya untuk merancangnya dari jauh hari. “Ketika ada tujuan yang jelas, kita akan cenderung lebih mudah menahan keinginan konsumtif sehingga bisa berhemat dan menabung agar tujuannya tercapai,” beber Mariana. Dan penghematan dari pengeluaran kecil-kecilan itu jika dikumpulkan bisa menjadi besar.

Trik agar Menabung Tidak Hanya Menjadi Rencana

membuat rencana keuangan
Foto: www.shutterstock.com

Ah, menabung. Satu kata yang indah dan mulia—tapi pada kenyataanya, melakukannya tidak semudah yang diucapkan.

Daniel mengatakan agar menabung menjadi sesuatu yang nyata, sebaiknya kamu memiliki tujuan dan menentukan jangka waktunya (pendek, menengah atau panjang) agar disiplin. Jangka panjang kita membicarakan tentang pensiun atau biaya pendidikan anak (jika belum punya anak). “Kalau sudah punya anak, pendidikan bisa masuk jangka menengah atau pendek. Jadi, tujuan seseorang tergantung fase kehidupan seseorang pada saat itu.” paparnya. 

Langkah kedua, Menurut Daniel, harus punya niat untuk mewujudkannya serta harus bisa mengendalikan diri. Itu ya, sekali lagi diulangi, seperti yang sering dikatakan oleh alm. Zainudin MZ: niat dan pengendalian diri.

Dari sisi teknis kamu bisa melakukan ini: investasi kecil-kecilan (misalnya emas), asuransi sederhana, dan reksadana. Dan manfaatkan sistem ‘auto debit’—seperti ‘dipaksa’ tapi ini untuk mendisiplinkan diri. Untuk pemula, “reksadana dan obligasi cukup aman dan terjangkau meski tanpa pengetahuan yang mendalam,” imbuh Mariana.

Ini tentang Berapa Persen Sebaiknya Ditabung

membuat rencana keuangan
Foto: www.gettyimages.com

Mariana membeberkan hitungan persentasi tabungan dari jumlah penghasilan itu bisa seperti ini: “Sebanyak 10% hak Tuhan, 20% hak orang lain, misalnya gaji ART, supir, dan lainnya. Lalu 30% hak masa depan—tabungan dana pendidikan, asuransi, investasi atau hutang produktif—serta 40% untuk masa sekarang, biaya hidup dan operasional seperti PLN, pulsa, uang makan, ongkos, entertainment dan lain-lain.”

Lebih lanjut, Daniel memaparkan terlebih dahulu mengurangi 10% untuk Tuhan dan ini tidak boleh diotak-atik. “Sekarang tinggal 90%. Nah dari sini, harus mengalokasikan untuk tabungan, yakni standarnya sebanyak 10%, kemudian ikut asuransi atau proteksi ini juga 5%-10%.”

Daniel menambahkan: “Ada namanya cicilan berupa good debt (rumah). Good debt berupa utang itu maksimal 30%.” Jadi, jika ditotal: 10% untuk tabungan, 30% untuk good debt, dan sisanya sekitar 45-50% adalah untuk membiayai gaya hidup. “Pengalokasian seperti ini dapat menekan gaya hidup,” tambahnya.

Begini Alokasi Dana di atas Usia 45 tahun

Jika tadi kita banyak membicarakan membuat rencana keuangan untuk yang baru bekerja, bagaimana jika berusia di atas 45 tahun? Jawabannya adalah segitiga piramida di atas.

Income yang masuk dibagi jadi segitiga piramida. Ada yang harus kita pakai untuk gaya hidup atau makan, kemudian ada yang disebut dana darurat. Untuk yang belum menikah bisa persiapkan dana darurat untuk 3 sampai 6 bulan ke depan. Kalau sudah menikah, idealnya menyiapkan dana darurat satu tahun,” ucapnya. Kemudian pemasukan berikutnya dipakai untuk melunasi cicilan konsumtif, misalnya menyicil gadget, kulkas, atau mobil.

Untuk tingkatan kedua, adalah risk management berupa investasi, asuransi atau proteksi diri. Pikirkan reksadana, saham, invest property atau emas. Dan jangan lupakan satu hal dalam level ini: asuransi. Bukan hanya dari tempat kerja saja, tapi pribadi. Pasalnya, asuransi dari tempat kerja saja tidak cukup.”Tapi bagaimana jika kamu diberhentikan oleh kantor?” tanyanya. Asuransi pribadi berguna untuk memastikan kondisi keuanganmu tidak mengalami turbulensi parah dan investasi tidak terancam, saat sakit atau menjalani proses pengobatan.

Apakah hidupmu berarti langsung aman dan sejahtera sampai mati? Well, “risiko bisa terjadi sih, tapi kita bisa meminimalisirnya dengan merencanakan keuangan,” tegas Daniel.

Selanjutnya: Ini panduan keuangan untuk para milenial agar tidak bangkrut di tahun 2020.

podcast button