Saran Psikolog: Lakukan Ini Saat Membicarakan Perceraian dengan Anak

Foto: www.gettyimages.com

Ah, perceraian adalah sesuatu yang super pelik. Dan semakin rumit ketika melibatkan anak. Bagaimana cara memberitahukan bahwa kamu akan bercerai dengan ayahnya? Simak penjelasan seorang ahli di bawah ini.

Ini Cara Menjelaskan Perceraian pada Anak

Foto: www.gettyimages.com

Menurut psikolog Anastasia Satriyo M.Psi dari Tiga Generasi, langkah pertama untuk memberitahukan tentang rencana perceraian kepada anak adalah orangtua harus duduk bersama dan membicarakannya bersama-sama. “Sesi bersama dengan seluruh anak, lalu melakukan sesi individual one by one,” ujarnya. Anastasia mengatakan anak usia sekolah sudah bisa memahami soal perpisahan, meski hanya secara fisik. “Mungkin seperti tidak tinggal serumah dan emosi-emosi sederhana yang dipahami anak di usia ini.“

Untuk membantu memproses emosi-emosi yang muncul, Anastasia menyarankan ibu dan ayah meminta bantuan psikolog dan melakukan konseling psikologis. Dengan catatan keduanya juga harus hadir dalam sesi-sesi tersebut.

Bagaimana dengan balita? Menurutnya, anak berusia 3-4 bisa tetap dijelaskan dengan hal-hal yang konkrit dan praktis, bisa terlihat. “Misalnya dengan mengatakan, ‘mulai bulan depan ayah dan bunda tidurnya beda rumah, ya. Tapi tetap main dan antar adik ke sekolah.’”

Lakukan Ini agar Anak Mengerti dengan Jelas

Foto: www.shutterstock.com

Menurut Anastasia, bila perlu buat skenario bersama tentang apa yang ingin dikatakan kepada anak. “Karena ini adalah hal yang sulit dan mengaduk-aduk emosi, maka penting bagi orangtua untuk membuat poin-poin key messages seperti saat kita mau presentasi,” ucapnya.

Adapun poin-poin yang wajib disampaikan misalnya, “’Mama dan Papa memiliki masalah dan kami sudah berusaha menyelesaikannya tapi kami tidak bisa menemukan jalan keluar sehingga kami memutuskan untuk berpisah.’” Lalu, “’Papa dan Mama sangat sayang dengan kalian. Kami akan tetap menjadi orangtua untuk kalian, tapi kami tidak akan lagi menjadi suami dan istri karena kami akan bercerai.”

Selanjutnya, “persiapkan diri untuk berbagai respon, reaksi emosi dari anak yang mungkin memiliki mixed emotions. Terbuka dan menyediakan diri untuk pertanyaan-pertanyaan dari anak.” Perlu diingat bahwa “Anak di usia SD biasanya masih ego sentries sehingga pertanyaan yang biasanya mereka tanyakan masih terkait dengan dirinya seperti: ‘nanti aku masih bisa beli mainan nggak’? ‘Aku pindah sekolah nggak’? ‘Aku masih bisa jalan-jalan nggak?’”

Ini yang Harus Dikatakan pada Anak

Foto: www.shutterstock.com

Anastasia menyampaikan orangtua juga harus memberikan afirmasi. Misalnya, dengan mengatakan ‘kalian adalah anak-anak yang hebat dan berharga untuk Papa dan Mama. Apa yang terjadi pada Papa dan Mama sebagai suami istri bukan salah kalian. Walaupun kita tidak lagi bersama-sama secara fisik, tapi kita tetap satu keluarga.’

Psikolog anak ini berpesan agar sebaiknya orangtua tidak memproyeksikan emosinya sebagai orang dewasa kepada anak. “Apalagi jika ada perilaku anak yang mirip dengan mantan pasangan kita. Misalnya dengan mengatakan, ‘Kamu tuh, ngecewain Mama banget. Kamu sama aja ya, sama Papa kamu,’” jelasnya. Hindari melakukan hal tersebut.

Hal Lain yang Wajib Kamu Ketahui

Foto: www.istockphoto.com

Anastasia mengungkapkan masalah perceraian merupakan urusan orangtua. “Sebagai orang dewasa yang penting dilakukan adalah mengevaluasi keputusan, pikiran dan perasaan, lalu mendiskusikan dengan pasangan,” ucapnya.

“Kita akan sulit berdiskusi dengan pasangan/mantan pasangan dengan jernih jika kita sendiri masih acak adul dan overwhelmed dengan emosi dan perasaan kita sendiri,” ungkapnya dengan tegas. Jika ada permasalahan di dalam hubungan dengan pasangan, “Biasanya ini juga akan mengusik dan mengungkit pengalaman kita sebagai anak dengan orangtua kita.”

Menurutnya penting sekali kita sebagai individu dewasa melakukan proses healing terhadap pengalaman kita sebagai anak yang melihat, mengalami dan menyaksikan relasi orangtua.

“Bagaimana ayah memperlakukan ibu, bagaimana ibu memperlakukan ayah. Karena pengalaman ini dialami bertahun-tahun sejak bayi sampai dewasa, maka mempengaruhi alam bawah sadar kita dalam memilih pasangan dan menjalani hubungan di masa dewasa. Jadi penting banget healing our inner child wound,” beber Anastasia.

Haruskah Bertahan Demi Anak?

Foto: www.istockphoto.com

Dengan tegas Anastasia mengatakan bahwa mempertahankan pernikahan karena alas an anak bukanlah tindakan yang tepat. “Sebaiknya tidak menjadikan anak alasan untuk mempertahankan pernikahan karena akan memberikan beban psikologis bagi anak. Dan ini juga bisa membahayakan kesehatan mental anak,” katanya.

Menurutnya, perceraian sebagai keputusan yang tepat atau tidak, dapat dinilai dengan melihat dari berbagai sisi. Intinya, “ini tergantung definisi keputusan yang tepat menurut individu atau pasangan yang mau pisah. Tapi bertahan di hubungan yang abusive juga tidak sehat untuk perkembangan jiwa anak.”

Ini yang Orangtua Harus Pahami agar Anak Bisa Menjalani Masa Transisi

Foto: www.shutterstock.com

Perceraian tidaklah mudah dihadapi anak. Oleh karenanya, menurut Anastasia orangtua perlu memahami usia anak dan kebutuhan psikologis yang khas di usia tersebut. “Misalnya, kalau usia 0-3 tahun isu utama adalah rasa percaya dengan orangtua sehingga sebisa mungkin orangtua tetap hadir secara fisik untuk anak,” imbuhnya.

Sementara di usia 4-5 tahun anak mulai mengembangkan inisiatif dan keinginan untuk mencoba hal baru di lingkungan sosial sehingga dukungan dan kata-kata apresiasi dari orangtua sangat membantu perkembangan anak.

“Sering mengucapkan kalimat dengan tulus, ‘Papa/Mama bangga sama kamu,’” cetusnya. “Ketika anak bertanya-tanya terkait perpisahan orangtua, jelaskan dan berikan kesempatan anak mengekspresikan emosinya. Lalu kita validasi emosi yang anak munculkan dengan kata-kata: ‘Mama lihat adik sedih, ya? Iya, Mama juga sedih, tapi terkadang ada hal yang tidak sesuai dengan keinginan kita tapi terjadi.’”

Bersama mantan pasangan, tetaplah menjaga komunikasi dan bekerja sama dalam mengasuh anak. “Tapi jika kondisi tidak memungkinkan, kita bisa meminta support system kita seperti kakek, nenek, kakak, adik, om, sahabat untuk membantu mengasuh anak,” ujarnya.

Sebagai Orangtua, Jangan Pernah Melupakan Ini

Foto: www.shutterstock.com

Sama seperti orangtua lainnya, sangat penting untuk melakukan self-care secara rutin untuk menjaga kesehatan mental dan psikologis. Ini agar “kita selalu punya energi untuk hadir bersama anak dengan keutuhan kita, bukan dengan kondisi capek dan tumpukan masalah kita,” papar Anastasia. “Analoginya seperti kalau pesawat turbulensi, masker oksigen kita pakai dulu sebagai orang dewasa, baru membantu anak mengenali emosi dan dirinya.”

Psikolog ini berpesan: penting bagi orangtua belajar memulihkan diri secara emosi dan menerima realita tanpa mengasihani diri sendiri. Jangan pernah merasa gagal karena menjadi orangtua tunggal. “Anak tidak memerlukan orangtua yang sempurna. Orangtua yang good-enough pun sudah cukup untuk anak,” cetus Anastasia.

Jangan lupa untuk: menyayangi diri sendiri.

“Tidak perlu menuntut diri terlalu tinggi seperti ‘saya harus menjadi ayah dan ibu di saat yang bersamaan untuk anak. Saya harus ini, saya harus itu,’” ujarnya. “Biasanya makin banyak ‘keharusan’ yang kita bebankan ke diri, maka kita makin lelah secara emosi. Malah nggak punya energi untuk mindful and being present untuk anak,” tegasnya.

Coba praktikkan itu—dan semoga proses diskusi dan transisi berjalan semulus mungkin. Dan ini tips jika kamu ingin mengajarkan anak bersikap baik sejak kecil.