Katanya Cinta #1—Lalu, Seberapa Penting Duit dalam Hubungan Cinta?

Foto: www.gettyimages.com

Silakan bilang pesimis, tapi sejumlah penelitian menyimpulkan bahwa masalah finansial adalah salah satu penyebab utama perceraian. Ini salah satunya. Bukan hanya jika tidak punya duit, tapi bahkan yang memiliki uang banyak juga bisa meningkatkan kemungkinan bercerai—paling tidak menurut penelitian ini. Di sisi lain, salah satu yang membuat perempuan tetap bertahan dalam pernikahannya, meski tidak bahagia, adalah juga karena masalah finansial.

Jadi, bagaimana dengan cinta? Manakah yang lebih penting jika langgeng atau tidaknya sebuah pernikahan sangat ditentukan oleh finansial? LIMONE menghubungi seorang perencana keuangan untuk memperoleh pencerahan dan membantu kamu jika sedang mengalami dilema ‘duit vs cinta’.

Seberapa Penting Uang dalam Hubungan?

masalah finansial
Foto: www.gettyimages.com

“Cinta dan finansial sama-sama prioritas,” kata Irshad Wicaksono Ma’ruf, seorang Personal Financial Planner, kepada LIMONE melalui email. Jika mau memberikan skala dari 1 sampai 10, dengan skala 1 = tidak penting dan 10 = sangat prioritas, maka “cinta dan finansial bagi saya pilih nomor 10 alias sangat prioritas.”

Mengapa prioritas? “Karena suatu pernikahan kalau tidak ada cinta dan finansial maka cepat atau lambat bisa karam kapan pun, dan ini sering terjadi,” jelasnya.

Dan bukan berarti, pasanganmu harus kaya sebelum menikah. Pepatah ‘mulai dari nol sama-sama’, menurut Irshad ada benarnya dan bisa diterapkan. “Saya setuju sekali suatu pernikahan diperjuangkan bersama dari nol, asal merencanakan masa depan dan saling terbuka keuangan bersama-sama dan tidak ada yang disembunyikan.”

Saling terbuka artinya tidak ada ketidakjujuran. Tidak ada sesuatu yang menurut Irshad disebut sebuah ‘selingkuh finansial’. Definisi istilah ini, menurutnya adalah “bocor-bocor kecil yang bisa memberikan dampak berbahaya bagi pernikahan.”

Sebut saja, “karena takut tidak dapat izin membeli barang yang diinginkan, kamu memilih untuk tidak memberitahukan pasangan,” tuturnya. Itu sebuah contoh kecil. Sementara contoh ‘selingkuh finansial’ yang lebih serius dan besar adalah: kamu tidak mendiskusikan dengan pasangan saat ingin mengajukan pinjaman utang bank untuk ekspansi usaha. “Dan ternyata di tengah jalan, usaha tersebut bangkrut dan tidak bisa melunasi utang bank.

Apa Saja yang Harus Didiskusikan dengan Pasangan tentang Uang?

masalah finansial
Foto: www.gettyimages.com

Irshad menjelaskan bahwa sebenarnya tidak ada patokan wajib tentang berapa tabungan, investasi, atau penghasilan yang dimiliki pasangan sebelum menikah. “Karena tergantung tujuan masa depan pasangan tersebut,” ujarnya.

Satu yang pasti: merencanakan keuangan dengan calon pasangan sangat penting. Ini demi bisa menentukan strategi keuangan yang tepat untuk misalnya, mempersiapkan pernikahan. Bagi yang sudah pernah atau sedang mempersiapkan pernikahan, pasti sudah paham dengan kesulitan dan keribetannya. Ada banyak hal yang harus dipersiapkan, mulai dari tema, apakah menggunakan wedding organizer, di gedung atau rumah—dan sebagian besar membutuhkan duit yang tidak sedikit.

“Jangan memaksakan diri, agar ingin terlihat mewah, megah, sehingga akhirnya pinjam sana sini. Jangan sampai setelah menikah membuat kamu kelimpungan membayar utang, sedangkan biaya besar di depan sudah menanti,” Irshad mengingatkan. Yep, setelah pesta pernikahan sukses berlangsung, ada biaya yang menantimu: biaya lahiran (normal atau cesar), biaya pendidikan, cicilan (KPR, KPM, dll).

Jadi, “setelah menikah, wajib berdiskusi dengan pasangan tentang perencanaan masa depan, misalnya tentang pendidikan anak, mau disekolahkan di mana. Perlu playgroup atau langsung TK sampai kuliah, apakah sampai S1, S2, atau S3,” bebernya.

Mengapa Finansial Sering Menyebabkan Orang Bercerai?

Foto: www.gettyimages.com

Sebut saja, kondisi keuanganmu dan pasangan tidak bisa menyebabkan kalian hidup mewah. Menurut Irshard, ini bukanlah masalah finansial yang besar, asal… mau berjuang bersama-sama. Selain itu, seperti yang ditekannya dari awal, kedua belah pihak wajib jujur dan terbuka tentang kondisi masing-masing.

“Bila kurang ya, dicari tambahan bersama-sama. Asal jangan memaksakan agar terlihat mewah akhirnya utang sana sini. Akhirnya, sulit melunasinya,” kata Irshad.

Dan mengapa perceraian sering kali terjadi karena masalah finansial, menurut Irshad bukan karena penghasilan, melainkan kesalahan dalam mengelola keuangan. Misalnya saja, satu pihak membeli produk investasi—tapi investasinya ternyata bodong.

Atau, bisa jadi pernikahan tidak berumur panjang karena tidak sanggup membayar utang yang dipakai untuk membiayai pesta pernikahan yang super megah.

“Oleh karena itu, penting saling jujur dan terbuka secara finansial, belajar untuk mengatur cashflow dan membedakan kebutuhan dan keinginan. Belajar finansial, misalnya dengan membaca artikel dan buku keuangan, mengikuti seminar, atau hire profesional keuangan,” Irshad menganjurkan.

Irshad mengingatkan bahwa tidak ada kekuatan magis atau kesulitan tingkat tinggi dalam membuat perencanaan keuangan. Prinsip utama yang perlu selalu diingat adalah penghasilanmu diatur agar bisa membiayai pengeluaran dengan tepat. Jika pendapatan bulananmu pas-pasan, “pilih pengeluaran sesuai prioritas. Kalau masih kurang juga, berarti harus menambah penghasilannya misal dengan membuka buka usaha atau menjadi freelance,” sarannya.

Bagaimana Membuat Rencana Keuangan Bersama Pasangan?

Fakta apakah hanya suami atau istri yang bekerja, atau kedua-duanya, pasti memiliki plus dan minusnya, kata Irshad. Namun, seperti apa pun kondisi keuangan dan pendapatan per bulan, perencanaan wajib dilakukan.

Dan tidak hanya perencanaan untuk masa depan anak. Perencanaan berkaitan dengan asuransi jiwa dan kesehatan, dana daurat, bla bla juga harus dipikirkan dari awal menikah.

Perencanaan sudah dilakukan? Langkah selanjutnya adalah menentukan strategi. Begini bocorannya:

Dana darurat

Sesuaikan dengan jumlah anggota yang ditanggung. Yakni, minimal tiga kali pendapatan bulanan saat masih lajang, dan minimal enam kali pendapatan bulanan saat menikah belum punya anak. “Kalau sudah punya anak, minimal 12 kali pendapatan bulanan.

Produk investasi

Ibarat kendaraan, sesuaikan dengan rencana jangka pendek, menengah, dan panjang.

Investasi

Tidak ada patokan baku. “Sesuaikan dengan tujuan rencana yang sudah kamu buat bareng pasangan. Kalau kondisi mepet, minimal 10% dari income bulanan masuk ke porsi investasi, dan porsi tersebut langsung dimasukkan di awal saat terima income, supaya tidak terpakai untuk hal lain,” Irshad menganjurkan.

Utang

Ingat baik-baik: utang tidak selamanya buruk. Utang yang membuatmu lebih produktif menjadi utang yang bersifat positif, misalkan utang mengembangkan usaha. Prinsipnya adalah: utang maksimal 30% dari pendapatan bulanan.

Jika kamu bingung soal gaji, apakah perlu menentukan standar penghasilan sebelum menerima seseorang menjadi pasangan, coba baca penjelasan ahli keuangan ini.