Ini yang Harus Kamu Lakukan Begitu Dapat Kenaikan Gaji

Foto: www.freepik.com

Berbeda dengan ulang tahun, kamu tidak bisa mengundang banyak orang saat ingin merayakan kenaikan. Padahal, kamu sedang senang banget! IMHO, bahkan jika hanya sendirian, kamu dipersilakan untuk merayakannya. Pasalnya, hei, kamu sudah bekerja keras dan layak mendapatkan—serta merayakan kenaikan gaji tersebut.

Setelah merayakan, lalu apa? LIMONE menghubungi seorang perencana keuangan untuk mengetahui apa yang sebaiknya dilakukan saat kamu mendapatkan kenaikan gaji. Ohya, selamat ya, gajimu (akhirnya) naik!

Apakah Gaji Naik = Pengeluaran Naik?

Foto: www.freepik.com

Pertama-tama, ingat baik-baik: kenaikan gaji ≠ pengeluaran naik. Jika selama ini kamu mendengar bahwa ketika gaji naik maka otomatis pengeluaran naik—itu sesuatu yang keliru. Menurut Irshad Wicaksono Ma’ruf, CFP, seorang perencana keuangan, “Itu adalah sebuah prinsip yang menyesatkan yang sering kali dibenarkan oleh ‘society.'”

Irshad menggambarkan kebiasaan seseorang (sebut saja namanya Melati) saat masih bergaji Rp3 juta per bulan: bawa bekal makan siang. Lalu, saat gajinya meningkat menjadi Rp5 juta, Melati mengubah rutinitasnya menjadi: makan siang di kantor. Kemudian, saat sudah mendapatkan penghasilan Rp10 juta per bulan menjadi: makan siang di food court mall. Dan makin mewah seiring dengan bertambahnya pendapatan.

“Inilah yang disebut dengan fenomena middle income trap. Berapa pun besar income akan selalu kurang dan ini jebakan,” tegasnya.

Bagaimana Cara Membedakan Kebutuhan dan Keinginan?

Foto: www.freepik.com

Kita mengalokasi duit untuk pengeluaran karena kita punya kebutuhan. Akan tetapi, apakah kita butuh makan di resto setiap hari hanya karena gaji naik? Butuh atau karena BM (banyak mau), ya?

“Bagi sebagian orang membedakan kebutuhan dan keinginan bukan perkara mudah,” jelasnya. Ah, LIMONE ikut tertohok mendengar hal tersebut karena yah, sampai sekarang masih sulit memisahkan dua hal tersebut. Apalagi jika melihat diskon atau tren, terkadang kita (termasuk saya) sering kali mengeluarkan duit untuk membeli barang tersebut. Padahal, kita tidak membutuhkannya. Atau, ” Padahal produk lama yang dimiliki masih bagus performanya dan masih bisa mendukung produktivitas,” papar Irshad.

(Ah. LIMONE langsung melihat ponsel baru di atas meja.)

Menurutnya, cara membedakan kebutuhan dan keinginan adalah dengan mengingat prinsip ini: kalau tidak ada, tidak akan mempengaruhi kelangsungan hidupmu. Contohnya, ponsel pintar lama tadi (yang masih berfungsi dengan sangat baik) dengan ponsel baru (dengan fiturnya super duper canggih. Sementara kebutuhan: kalau tidak ada, maka akan berdampak pada produktivitas hidupmu. Sebut saja, kemeja kantor lama yang sudah terlihat lusuh. “Pekerjaan kamu membutuhkan penampilan menarik dan profesional, jadi beli kemeja baru. Itu merupakan kebutuhan,” papar Irshad. “Beli suatu produk itu karena butuh, bukan ‘kayanya butuh,'” katanya mengingatkan.

Adakah Rumus Persentase tentang Penghasilan dan Investasi dan Tabungan?

#unpopularopinion, tapi LIMONE setuju:

“Rumus persentase [universal] itu sebenarnya belum tentu bisa digunakan semua orang, karena kemampuan setiap orang berbeda-beda,” tegasnya. Aha, akhirnya ada yang mengatakannya.

Menurutnya, ada banyak faktor yang membuat kemampuan setiap orang berbeda saat berbicara tentang tabungan dan investasi. Sebut saja faktor gaji, status (menikah atau masih sendiri), punya tanggungan (anak atau keluarga), perantauan (otomatis harus menyediakan uang untuk kos, misalnya).

Prinsipnya, menurut Irshad memang: selagi belum ada tanggungan dan kemampuan keuangan masih kuat, dimaksimalkan porsi menabung dan investasinya. “Akan tetapi, kalau kondisi mepet, banyak tanggungan, seminim-minimnya 5% sampai 10% masuk untuk tabungan dan investasi,” Irshad menganjurkan.

Apa yang Harus Dilakukan Saat Mendapatkan Kenaikan Gaji?

Foto: www.unsplash.com

“Jika ada utang, inilah kesempatan untuk melunasinya ketika gaji naik,” sarannya. Bukan menambah utang. “Karena saat gaji naik, berarti ‘kekuatan’ keuangan kita bertambah. Kekuatan itulah yg digunakan untuk melunasi utang yang ada. setelah semua utang terlunasi, kita ada ‘nafas’ untuk menaikan porsi tabungan dan investasi. FYI, Irshad mengingatkan tentang hal ini: jika harus mengutang, porsi maksimal keseluruhan total utang 30% dari penghasilan bulanan.

Dan seperti yang dikatakan di atas, pengeluaran tidak lantas langsung naik dua kali lipat setelah gaji naik. Harusnya bisa tetap sama sebelum kenaikan gaji terjadi. “Kecuali jika jumlah anggota yang ditanggung bertambah, misal karena menikah atau memiliki anak. Itupun harus dijaga maksimal pengeluaran 50% dari penghasilan bulanannya,” tegasnya.

Oh, bagaimana dengan traveling? Boleh dong, langsung keliling nusantara? “Sebaiknya tetapi direncanakan dengan matang,” Irshad menerangkan. Mulai dari destinasi, hotel/penginapan, tour guide/backpacker. “Dengan begini kita bisa menabung untuk traveling.” Oh, satu lagi, “traveling ini pastinya setelah semua kewajiban terpenuhi, dan sesuaikan dengan kemampuan,” dia mengingatkan.

Akibat naik gaji, kamu sepertinya sudah mulai bisa menyicil tempat tinggal baru. Ini tips dari seorang ahli keuangan untuk menentukan menyicil rumah atau apartemen.

podcast button