Capek Konflik dengan Pasangan? Coba Teknik Ini

konflik pasangan
Foto: www.freepik.com

Sering konflik dengan pasangan itu… melelahkan dan bisa merusak hubungan. Dan terima kasih atas pandemi ini, data menunjukkan konflik hubungan meningkat. Penyebabnya, mulai dari 24/7 berada di ruangan yang sama hingga masalah finansial karena gaji dipotong.

Ada banyak tips mengatasi konflik dengan pasangan, salah satu yang terbaru dan unik adalah hasil dari penelitian yang diterbitkan di jurnal Couple & Family Psychology: Research and Practice. Yakni, melatih menulis secara introspektif. Maksudnya?

Latihan Ini Membantu Mengatasi Konflik dengan Pasangan

Dalam penelitian ini, para ilmuwan melakukan survei terhadap 716 pasangan dewasa di Amerika Serikat selama masa lockdown. Tujuannya untuk menemukan intervensi seperti apa yang bisa membantu percekcokan yang dialami pasangan.

Di awal studi, para ilmuwan meminta para partisipan untuk menuliskan tentang frekuensi, durasi, dan intensitas berantem dengan pasangan. Lalu, secara acak, mereka juga harus melakukan satu dari lima tugas menulis ini, yakni tentang:

  • Konflik dengan pasangan dengan menggunakan penilaian kembali kognitif, yakni pandangan dari orang ketiga yang netral yang memiliki maksud yang baik
  • Sebuah konflik dengan pasangan mereka mengekspresikan perasaan dan pikiran terdalam mereka
  • Sebuah konflik dengan seseorang bukan pasangan menggunakan metode penilaian kembali kognitif
  • Konflik dengan orang lain bukan pasangan, dan sebuah konflik dengan pasangan mengekspresikan perasaan dan pikiran terdalam mereka
  • Pekerjaan-pekerjaan rumah seperti mencuci, membersihkan rumah, atau membereskan halaman

Apa Hasilnya?

Mereka yang diminta untuk menuliskan tentang percekcokan terkini dari pandangan orang ketiga melaporkan lebih sedikit ketidaksetujuan yang terjadi, agresi berkurang, dan frekuensi cekcok dengan pasangan mereka berkurang dua minggu setelahnya.

“Menulis dari sudut pandang netral memampukan individual untuk mengatur ulang pikiran mereka tentang perselisihan, membuatnya lebih terbuka untuk memproses kejadian tersebut secara lebih objektif,” kata Lindsey Rodriguez, Ph.D., penulis utama studi ini.

“Hal ini juga memampukan seseorang untuk bisa melihat lebih jauh alih-alih hanya mempertahankan diri dan menganggap ‘ini kenapa saya benar dan kamu salah.'”

Para peneliti mengatakan bahwa strategi menulis dari sudut pandang orang ketiga dan objektif ini bisa membantu, bahkan pada masa pandemi seperti sekarang. Alias, bisa ampuh untuk banyak kondisi dan situasi. Mengapa?

“Ketika diminta untuk mendiskusikan masalah hubungan dengan mereka, ada faktor harga diri dan ego yang kadang membuat mereka sulit objektif,” kata Rodriquez. Dan teknik menulis ini bisa membantu terutama jika salah satu pihak selalu mengalami kesulitan mengungkapkan pikiran dan perasaannya.

“Dengan melakukan praktik ini, seseorang mampu memproses apa yang terjadi sehingga bisa melihatnya dengan empati, pengertian dan kompromi.”

Penasaran apakah metode ini efektif? Coba sekarang juga!