Tanya Psikolog: Kapan (Mantan) Pasangan Layak Diberikan Kesempatan Kedua?

Kesempatan kedua
Foto: www.gettyimages.com

Ah, kesempatan kedua. Setelah pasanganmu melakukan sebuah kesalahan fatal, dia memintamu (mungkin hingga mengiba-iba dan menghubungi 1000 kali lewat WhatsApp) untuk memberikan kesempatan kedua. Apa yang akan kamu lakukan?

Satu yang pasti: semua orang melakukan kesalahan (bahkan malaikat, coba cek serial Lucifer di Netflix). Namun apakah pasanganmu tersebut pantas diberikan kesempatan kedua setelah melakukan kesalahan yang membuat hatimu tersobek-sobek dan hancur nyaris berkeping-keping? Bahkan membuatmu menangis berhari-hari. Maaf, jika terlalu dramatis ala lagu-lagu Adele. Namun hei, siapa pun yang pernah dibohongi dan dilukai berkali-kali, atau dicampakkan, atau dikhianati, atau diselingkuhi, pasti setuju dengan gambaran dramatis ini.

Untuk mendapatkan pencerahan, LIMONE mengontak Gilberta P. Mahanani, M.Psi, Psikolog, seorang psikolog klinis, dari RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo, LLP Psikomorfosa dan ibunda.id.

Apa yang Harus Diperhatikan sebelum Memutuskan Memberikan Kesempatan Kedua?

Kesempatan kedua
Foto: www.unsplash.com

Mungkin terkesan berada di atas angin, tapi sebagai pemberi kesempatan situasi seperti ini super membingungkan dan mungkin membuat kamu galau dan sulit makan serta tidur. Jika situasi ini sedang kamu hadapi, Gilberta menyarankan untuk mengajukan sejumlah pertanyaan ini kepada diri sendiri—dan menjawabnya.

  • Apakah saya sudah benar-benar memaafkan dia?
  • Apakah alasan saya untuk memberi kesempatan benar-benar dari kebutuhan saya, dan bukan karena kasihan?

Apa jawabanmu atas pertanyaan-pertanyaan tersebut? Jawablah dengan jujur.

Plus, satu hal: “Pastikan juga kamu, tidak hanya percaya dengan janji-janjinya saja bahwa dia akan berubah, tetapi juga melihat bukti perubahan perilakunya,” anjurnya.

Sekali lagi: si pasangan mau berubah dan memperlihatkan ikrarnya itu secara konkret dan nyata serta konsisten. Pasalnya, menurut Gilberta tidak semua pasangan layak diberikan kesempatan kedua. “Pasangan yang layak diberi kesempatan kedua adalah yang tulus meminta maaf dan telah membuktikan bahwa tidak lagi akan melakukan kesalahan yang sama, dan bukan sekedar janji,” tegasnya.

Sebaliknya, pasangan yang tidak layak diberikan kesempatan kedua adalah mereka yang belum memperlihatkan perubahan, dan “bahkan tidak ada usaha berubah,” tekannya.

Dan di atas itu semua, kamu sebenarnya belum bisa memaafkannya.

Bagaimana jika Penyebab Perpisahan adalah Selingkuh?

Foto: www.freepik.com

Uh-uh, bagaimana jika penyebab kamu dan dia berpisah adalah karena dia selingkuh. Apakah masih perlu dan layak diberikan kesempatan kedua?

“Tergantung dari nilai yang kamu pegang dan juga kesepakatan bersama pasangan,” jawab Gilberta.

Lebih lanjut dirinya menjelaskan bahwa pada dasarnya ada tiga konsep utama dalam pasangan yang sebaiknya tidak ada satu pun yang hilang, yaitu: intimacy, passion dan commitment.

“Perselingkuhan merupakan bentuk dari tidak adanya komitmen dalam hubungan sehingga dampak negatifnya besar. Jadi kembali lagi ke poin sebelumnya, jika memang kamu bisa memaafkan dan melihat bukti perubahan pasangan, kesempatan kedua layak menjadi pertimbangan,” imbuhnya.

“Dan khusus untuk perselingkuhan, temukan juga alasannya untuk berselingkuh, sehingga dapat menjadi antisipasi ke depannya agar pasangan tidak berselingkuh lagi. Pastikan juga alasan tersebut sesuai dengan kondisi hubungan kalian dan kamu pun dapat memperbaikinya, jika alasan pasangan berselingkuh ada kaitannya dengan dirimu,” tambahnya.

Namun Gilberta menekankan satu hal yang super penting tentang perselingkuhan dan penyebab perpisahan. Yakni, “Kamu tidak perlu menyalahkan dirimu, karena walaupun menurut pasangan kesalahanmu adalah alasannya untuk berselingkuh, tidak seharusnya perselingkuhan dijadikan solusi,” tegasnya.

Apa yang Perlu Diskusikan Saat Ingin Memberikan Kesempatan Kedua?

Foto: www.unsplash.com

Awalnya mungkin sesi diskusi akan canggung dan diwarnai dengan banyak jeda. Namun jika memang hubungan kalian mau diperbaiki kembali dan kamu memiliki keinginan untuk memberikan kesempatan kepada si mantan atau masih berstatus pasangan, ada banyak hal yang mesti dibicarakan. Menurut Gilberta ada beberapa subjek yang harus kalian berdua bicarakan dengan serius.

  1. Harapan masing-masing pasangan
  2. Cara penyelesaian masalah, terutama ketika masalah yang menyebabkan perpisahan berisiko untuk muncul kembali.

Bagaimana dengan konsekuensi jika nantinya dia melakukan kesalahan yang sama?

“Konsekuensi ketika kesalahan terjadi lagi tidak selalu perlu dibicarakan atau ditentukan. Namun sebagai pemberi kesempatan kedua, berjanjilah kepada diri sendiri untuk tidak memberikan kesempatan ketiga dan selanjutnya. Karena pada dasarnya jika itu terjadi, berarti kesalahan atau masalah yang terjadi sudah menjadi pola tersendiri yang sifatnya toxic,” tegasnya.

Oh, bagaimana jika setelah berbicara, berdiskusi, membocorkan suara hati terdalam ternyata kamu masih ragu memberikan kesempatan kedua? Hei… bukannya plin-plan, tapi kamu benar-benar ragu dan tidak yakin menjalin hubungan dengannya lagi akan membuatmu bahagia. ‘Jangan-jangan malah tidak bahagia’, pikirmu.

“Rasa ragu adalah hal yang wajar,” terang Gilberta.

“Pada kondisi sedih, marah dan kecewa saat pasangan melakukan kesalahan akan memberikan dampak pada dirimu dan kamu perlu memprosesnya terlebih dulu. Proses masing-masing orang akan berbeda. Izinkan dirimu menyadari semua pikiran dan perasaan yang ada. Jika masih ragu, jangan pernah paksakan dirimu untuk memberi kesempatan kedua. Berproseslah dulu sampai tuntas,” anjurnya.

Selanjutnya: Ini mengapa sejumlah pasangan bisa tetap bersama bahkan setelah terjadi perselingkuhan di hubungan tersebut.

podcast button