Bagaimana Menjawab Pertanyaan “Kenapa Saya Masih Jomblo”

kenapa saya jomblo
Foto: www.gettyimages.com

Pandemi mungkin mengubah banyak hal dalam hidupmu, tapi ada satu hal yang sepertinya belum berubah dari periode pra-COVID hingga sekarang: status masih lajang. Fakta bahwa sebagian besar waktu dihabiskan di rumah, membuat kesempatan untuk bertemu calon pasangan hidup semakin kecil. Hah! Dan ini mungkin membuatmu semakin bertanya-tanya pada diri sendiri: “kenapa saya jomblo?”

Adakah sesuatu yang salah dengan diri, mungkin ini pertanyaan berikutnya yang muncul—dan mungkin masih belum bisa menemukan jawabannya. Jangan khawatir, LIMONE akan membantumu mendapatkan jawabannya dengan menghubungi Mellia Christia, M. Si., M. Phil., Psikolog, seorang psikolog klinis dari Bidang Studi Psikologi Klinis, Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

Ingin tahu bagaimana menjawab ketika kata hatimu bertanya “kenapa saya jomblo”? Baca terus artikel ini sampai habis.

Apakah Ada Sesuatu yang Salah Jika Seseorang Masih Jomblo?

kenapa saya jomblo
Foto: www.freepik.com

Mellia menerangkan bahwa seseorang menjadi jomblo atau tidak memiliki pasangan adalah pilihan yang dibuat seseorang dengan berbagai alasan. Dan alasannya ada banyak.

“Jadi kita tidak bisa menilai benar atau salah pilihan dan alasannya tersebut. Kita di sini adalah orang lain di luar individu tersebut, bisa keluarga, teman, atau masyarakat umum. Dengan kata lain, alasan-alasan tersebut sifatnya personal, dan anggapan benar atau salah biasanya diberikan oleh orang lain di luar diri individu tersebut, yang sebenarnya tidak ada hak untuk menilai itu sebagai benar atau salah,” jelasnya.

Alasan seseorang memilih menjadi single bermacam-macam. Mulai dari memang tidak berminat memiliki pasangan, memiliki ketakutan atau trauma dalam membina hubungan, sampai merasa nyaman hidup tanpa pasangan.

“Meskipun sebenarnya, tugas perkembangan manusia di tiap tahapnya berbeda-beda. Untuk manusia dewasa, memiliki pasangan dan membina hubungan yang intim adalah salah satu tugas perkembangan untuk manusia dewasa,” tegasnya.

Apakah Wajar Jika Merasa Minder Saat Masih Lajang?

kenapa saya jomblo
Foto: www.freepik.com

Lebih lanjut Mellia menjelaskan bahwa jika dikaitkan dengan tugas perkembangan, maka perasaan gagal dan minder itu terjadi karena tidak terpenuhinya tugas perkembangan.

“Merasa berbeda dengan orang lain yang seusianya, sehingga hal tersebut menimbulkan ketidakpercayaan diri, karena merasa tidak lengkap atau tidak sesuai dengan norma yang ada,” tambahnya.

Dan menurut Mellia perasaan minder ini adalah sesuatu yang cukup normal dan wajar, “karena tiap orang memiliki kelemahan sendiri, tidak ada orang yang 100 persen sempurna,” imbuhnya.

Plus, seandainya kamu perlu mendengar hal ini: keberhasilan dan kegagalan adalah hal yang wajar dialami oleh manusia. Dari dulu sampai sekarang, dari Hawa sampai Kim Kardashian-West, dari Nokia 3310 seri pertama hingga iPhone 12: manusia kadang mengalami keberhasilan, kadang mengalami kegagalan. Tidak ada yang benar-benar berhasil terus, atau terus-menerus mengalami kegagalan.

Mengingat “pandangan atau pemikiran ini sebenarnya membuat kita lebih mudah menerima kegagalan dan keberhasilan. Sehingga tiap kali mengalami kegagalan, kita tidak kemudian merasa menjadi sebagai orang paling gagal sedunia, atau satu gagal akan gagal terus,” katanya.

Mellia kembali menekan bahwa setiap kali mengalami kegagalan, sangat wajar merasa sedih dan menjadi kurang percaya diri.

“Namun jika terus menerus bertahan pada situasi tersebut, maka kita tidak dapat melanjutkan kehidupan dan ‘stuck‘ dengan kegagalan dan perasaan minder. Dengan kata lain, kita harus menerima setiap kegagalan dan keberhasilan kita sebagai bagian dari proses kehidupan yang dialami oleh seluruh manusia,” sarannya.

Bagaimana Menjawab Pertanyaan “Kenapa Saya Jomblo”?

Foto: www.rawpixel.com

Mungkin kamu sudah ahli menjawab pertanyaan “kok masih jomblo” dari anggota keluarga yang kepo. Meski Mellia berpendapat bahwa tidak ada kewajiban menjawab pertanyaan yang sifatnya pribadi.

“Harus diperhatikan konteksnya, siapa yang bertanya, dan kemudian apa yang akan dilakukan jika memperoleh jawaban tersebut,” tegasnya.

Namun, mungkin saat diri sendiri mempertanyakan “kenapa saya jomblo”—lain lagi ceritanya.

“Pertanyaan yang diajukan oleh diri sendiri sebenarnya adalah bentuk pemikiran mengenai diri sendiri. Pertanyaan tersebut adalah hal yang wajar dimiiliki setiap hari, yang kemudian membuatnya bertindak atau melakukan sesuatu untuk mencari jawabannya,” jelas Mellia.

Dan jawabannya bisa kamu temukan dan peroleh dari hasil refleksi terhadap pengalaman-pengalaman kehidupan yang terjadi selama ini.

“Namun bisa juga dengan berdiskusi dengan orang lain, sehingga dapat membantu mengenali apa yang dialami selama ini dari perspektif yang berbeda. Masukan dari orang lain ini penting diketahui, dengan mempertimbangkan siapa yang memberikan masukan, seberapa dekat dan seberapa paham orang tersebut mengenai diri kita,” ujarnya.

Bagaimana Bisa Berdamai dan Merasa Bahagia dengan Status Jomblo?

Foto: www.freepik.com

“Kembali lagi harus diingat bahwa, menjomblo atau tidak memiliki pasangan adalah pilihan. Sehingga mestinya pilihan tersebut dibuat dengan kesadaran pribadi yang penuh, sesuai dengan kebutuhan, keadaan dan situasi yang dialami diri sendiri,” kata Mellia.

Jomblo bukan karena paksaan atau permintaan orang lain, akan membuat kita bisa lebih yakin menjalaninya. “Yang lebih penting adalah kebahagiaan diri sendiri sebagai pertimbangan utama dalam setiap tindakan yang dilakukan. Sehingga jika pilihan menjomblo tidak lagi membuat diri bahagia, maka mungkin pilihan itu harus dipertimbangkan lagi,” sarannya. Pasalnya, mungkin pilihan tersebut tidak lagi sesuai dengan kebutuhan dan situasi yang dialami.

Dan seandainya kamu berminat mengubah status dari “kenapa saya jomblo” menjadi “sudah tidak jomblo”, ada beberapa hal yang sebaiknya diingat.

“Terkait mencari pasangan, maka mencari pasangan yang cocok—terutama dalam hal kepribadian, dan nilai kehidupan—adalah hal yang penting. Meskipun demikian hampir dapat dipastikan bahwa kecocokan yang 100 persen cocok itu sangat tidak mungkin. Itu sama saja kita membina hubungan diri sendiri kalau yang 100 persen cocok.” ujarnya.

Dan saat ingin memulai hubungan baru, maka terbuka dengan segala bentuk pergaulan adalah hal yang dapat dilakukan.

“Jangan membatasi diri, apalagi menetapkan standar-standar tertentu untuk pasangan. Hal tersebut akan membuat pilihan-pilihan yang kita miliki menjadi lebih sempit. Nikmati proses mengenal dan memahami orang lain, karena pada dasarnya dalam hubungan adalah memahami orang lain, dan berkompromi atas berbagai perbedaan yang ada,” pungkasnya.

Selanjutnya: Ini hal yang bisa kamu lakukan ketika mengalami cinta bertepuk sebelah tangan, menurut seorang psikolog.